Bank Syariah Ubah Saja Namamu Menjadi Bank Kemitraan

Posted on 13 Agustus 2009

2


PNPM Mandiri Perkotaan sebagai program penanggulangan kemiskinan saat ini mencakup semua atau 78 kelurahan di Kota Padangsidimpuan, dengan banyaknya perkebunan salak sehingga Kota Padangsidimpuan digelari kota salak, kota ini berpenduduk sekitar 200.000 jiwa yang dapat dijangkau lewat darat dari Kota Medan sejauh 450 km.

Program PNPM melakukan proses pemberdayaan dengan pendekatan kelembagaan yang dibentuk masyarakat dalam Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), kemudian BKM melakukan pendampingan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan Tri Daya Pembangunan yaitu bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan. Sasaran program ini sangat bersesuaian dengan pangsa pasar Bank Sumut Syariah (BSS) yang berkonsentrasi di sektor riil terutama pada Usaha Mikro Kecil (UMK) dan UMKM.

IMG_0426 Untuk itu menurut Dhani Erwin Pimpinan Devisi Pelayanan Nasabah BSS Padangsidimpuan pada akhir tahun 2008 melakukan upaya penitipan dana dari pihak BSS kepada BKM yang memiliki RR di atas 90%, pemberian pinjaman secara individu/kelompok bagi masyarakat/KSM yang telah dilayani oleh UPK/BKM, pendampingan dan pelibatan BKM dalam Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) serta pendampingan dan pelibatan BKM dalam kegiatan Community Social Responsibility (CSR) atau bantuan Zakat Infak Sadaqah (ZIS).

Lebih lanjut, sesuai penuturan Koordinator Kota PNPM MP Padangsidimpuan Taufik Hidayat BSS memberikan bantuan berupa pengadaan jaket bagi Pokja PAKET PNPM dan Tim Satker, serta bantuan kalender 2009 untuk seluruh BKM. Selain berbagi dalam kegiatan sosialisasi UMK dan Asuransi, pihak BSS juga telah berperan aktif dalam memberikan dukungan pelaksanaan kegiatan PNPM MP di Kota Padangsidimpuan, antara lain, bantuan buku untuk Taman Bacaan di Desa Purba Tua Padangsidimpuan Tenggara, bantuan buku untuk Taman Bacaan di Kelurahan Aek Tampang Padangsidimpuan Selatan, bantuan lemari arsip untuk Forum BKM Kota dan KBP/Pokja PAKET (2 unit), bantuan kaos untuk anggota KBP (16 buah) dan Pokja PAKET (11 buah), bantuan fasilitasi KSM ekonomi untuk mengikuti UMK Award yang diadakan Bank SUMUT Syariah serta menjadi sponsor kegiatan PNPM dalam acara: Simbolis penyerahan BLM I lokasi 2006 (Mei 2007), Workshop Role Of Function (31 Maret 2008), Lokakarya dan Orientasi PNPM MP (17 Juni 2008), Lokakarya PAKET (18 Juni 2008), Ekspose BKM 2007 (22 September 2008) dan peletakan batu pertama kegiatan rehab rumah di Aek Tampang (3 November 2008).

Riri Yesfri Ivan adalah Wakil Pemimpin BSS Cabang Padangsidimpuan yang sudah bertugas di kota ini selama 2 tahun lebih menjadi tokoh inisiator sejumlah program kemitraan yang di bangun BSS Padangsidimpuan dengan berbagai kelompok masyarakat Kota termasuk mendukung kegiatan PNPM MP. Dalam satu perjumpaan penulis dengan beliau, Pak Ivan lebih lanjut menjelaskan bahwa pada bulan September 2009 akan melakukan penerbitan buletin bersama PNPM MP setiap bulannya dan memperluas jangkaun pelayanan UMK bagi KSM-KSM dampingan PNPM MP.

BSS Cabang Padangsidimpuan mulai berdiri sejak tahun 2004 dan sampai saat ini seperti penuturan Pak Ivan telah melayani 6.000an nasabah yang umumnya berasal dari UMKM yang bergerak di sektor perkebunan, industri rumah tangga, dan grosir perdagangan. Jasa perdagangan mendapat porsi terbesar karena posisi Kota Padangsidimpuan yang menjadi kota jasa yang melayani kabupaten-kabupaten di sekelilingnya yaitu Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Padang Lawas.

Masih menurut Pak Ivan tantangan yang dihadapi bank syariah adalah perkembangan bank syariah yang tidak diiringan perkembangan sumber daya insani, sampai saat ini bank syariah masih membutuhkan 14 ribu sumber daya insani. Tantangan lain adanya anggapan masyarakat bahwa bank syariah hanya “ganti baju” saja dari bank konvensional sehingga motivasi nasabah masih bersifat emosional, seolah-olah bank ini hanya menjadi milik bagi muslim yang taat. Secara rasional bank syariah bisa tumbuh lebih cepat dari bank konvensional karena tidak sekedar menawarkan laba tetapi menempatkan nasabah sebagai mitra bisnis.

Semua produk-produk bank syariah yaitu seperti prinsip bagi hasil (mudharabah), prinsip penyertaan modal (musyarakah), prinsip jual beli (murabahah), dan prinsip sewa (ijarah), dan (5) prinsiplaba bagi bank syariah bukan satu-satunya tujuan karena bank syariah mengupayakan bagaimana memanfaatkan sumber dana yang ada untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Artinya prinsip dan produk bank syariah menempatkan antara bank syariah dengan nasabah adalah suatu pola kemitraan di dalam berbisnis. Dengan demikian kiat-kiat marketing yang kami lakukan selama ini dilakukan dalam bentuk kemitraan, memberikan penjelasan hak dan kewajiban kedua belah pihak serta pembinaan dan pendampingan. Dan yang paling bermanfaat dengan cara ini munculnya perasaan memiliki dengan bank syariah tidak sekedar perasaan emosional sebagai muslim, sehingga diyakini ke depan pola-pola mengedepankan ‘kemitraan” tanpa perlu menonjolkan simbol-simbol keislaman akan lebih mudah diterima oleh semua kalangan karena substansi non riba itu termuat di dalam mekanisme ‘kemitraan”. demikian pungkas Pak Ivan.

Perbankan syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa menggunakan embel-embel Islam, karena adanya kekhawatiran rezim yang berkuasa saat itu akan melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. Pemimpin perintis usaha ini Ahmad El Najjar, mengambil bentuk sebuah bank simpanan yang berbasis profit sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun 1963. Eksperimen ini berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga, sebagian besar berinvestasi pada usaha-usaha perdagangan dan industri secara langsung dalam bentuk partnership dan membagi keuntungan yang didapat dengan para penabung. Masih di negara yang sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan dan mendeklarasikan diri sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak disebutkan rujukan kepada agama maupun syariat Islam.

Dalam Qur’an sendiri menegaskan “sampaikanlah dengan bahasa kaumnya”, jika mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan Islam di Indonesia, agama Islam dapat diterima luas masyarakat karena menggunakan pendekatan budaya lokal, misalnya dengan simbol sarung, kopiah (peci), kerudung, baju koko dan seterusnya. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh para wali songo di Pulau Jawa malah banyak menggunakan tembang-tembang berbahasa Jawa seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga.

Dengan demikian jika perkembangan bank syariah terkendala dikarenakan terkesan terlalu Islami dengan nama bank syariah berikut produk-produknya yang berbahasa Arab sehingga seperti tampil esklusif hanya buat muslim yang taat, maka sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia lokal saja, toh sejarah kemunculan bank syariah juga demikian, toh yang lebih penting substansi syariah itu sampai dengan kemaslahatan yang lebih besar dibanding bank konvensional.

“Jadi apa perlu Pak istilah bank syariah kita rubah namanya saja menjadi bank kemitraan agar lebih mudah diterima masyarakat sehingga nasabah beralih dari bank konvensioanl ke bank syariah ?” ujar saya bertanya, Pak Ivan hanya senyum sumringah menyambut pertanyaan saya. Wallahualam.

Posted in: Ekonomi