Mbah Surip Dan Kritik Sosial

Posted on 5 Agustus 2009

10


Urip Achmad Ariyanto bin Soekotjo, alias Mbah Surip lahir 6 Mei 1957, wafat Selasa, 4 Agustus 2009. Sebagai pengamen jalanan plus hidup menggelandang ke mana-mana antara Bulungan, Jakarta Selatan; Taman Ismail Marzuki (TIM); dan Pasar Seni Ancol, sejak bulan Mei lagunya “tak gendong” menjadi hits di mana-dimana, mungkin si mbah sendiri tidak menyangka akan jadi terkenal, seperti kita juga saat ini masih kaget dan tidak menyangka dia pergi begitu cepat secepat lagunya membunbung tinggi di blantika musik Indonesia. Selamat jalan mbah surip Innalillahiwainnailahirajiun, Tuhan I love you full kepadamu.ha..ha..ha…

mbah surip dan kucing

Saya tertarik dengan mbah surip tepatnya 20 juli di mana saya menulis di blog ini tentang lagunya dikaitkan dengan kondisi bangsa ini di http://public.kompasiana.com/2009/07/20/tak-gendong-kemana-mana-inikah-prototype-bangsa-ini/

Dalam pendekatan sosial budaya kemunculan apresiasi karya seni budaya selalu melambangkan kekinian perkembangan suatu komunal atau bangsa malahan melambangkan fase-fase pergantian peradaban manusia termasuk kemajuan ilmu dan teknologi. Masyarakat yang mengalami tekanan sosial politik dan ekonomi, apresiasi seni budaya malah muncul sebagai otokritik atas kondisi yang ada sebagai satire kepada penguasa, karena baik gerakan sosial maupun gerakan politik tidak menemukan momentum melakukan perubahan pada status quo yang ada. Semakin refresif pemerintah yang berkuasa, karya apresiasi seni budaya semakin menemukan momentum sebagai media kritik. Contoh kecil kita bisa lihat karya karikatur GM Sidharta di Harian Kompas dan Lagu Bento karya Iwan Fals muncul sebagai satire bagi kekuasaan Orba. “Bongkarrrrrrrrrr……!” pekikan yang ada dalam lirik lagu Bento tentu ditujukan sebagai teriakan kepada penguasa Orba yang refresif terhadap kebebasan bereskpresi dan media massa yang selama itu terbelenggu.

Apresiasi seni budaya yang fenomenal dan jadi hits karena digemari sebagian besar masyarakat disebabkan lekat dengan kondisi kekinian atau mimpi masyarakat. Seperti tayangan BBM (baru bisa mimpi) yang selalu ditunggu banyak pemirsa, satire tentang politik dan perilaku kekuasaan malah menjadi lawakan yang paling menyenangkan mengundang tawa, ha..ha..ha..ha..

Menurut pengakuan Mbah Surip, sejak dulu sampai sekarang, ia sedang belajar salah. ”Kalau belajar benar itu sudah biasa, saya sedang belajar salah….”

Apa yang dimaksud mbah surip dengan istilah “belajar salah” ? tentu maksudnya bukan belajar mencuri, belajar berbohong, belajar menipu atau belajar tentang kejahatan karena di setiap pernyataan kalimat mbah surip selalu di akhiri tawa lepas, “ha..ha..ha..ha…”, ejekan ha..ha..ha..ha…bagi seorang yang merasa bersalah tentu merupakan satire yang menyakitkan, ha..ha..ha.., enak to, mantap to, ha..ha..ha

Kita mungkin selama ini selalu mengaku benar, apalagi bos/majikan tidak bisa salah, yang salah itu bawahan. Semuanya mengaku kecap nomor satu, seorang pejabat yang menjadi tersangka malah mencari segala cara agar dihadapan hukum bisa benar. Salah pun kita masih mencari kambing hitam, dalam kehidupan sehari-hari soal kecil pun kita kadang sulit mengaku salah, apalagi minta maaf. Umum terjadi kita menjustifikasi bahwa kesalahan kita bukan masalah karena kesalahan itu juga terjadi di mana-mana, kita korupsi lalu menjustifikasi tidak apa-apa, karena pejabat juga di atas banyak yang korup dan tidak diapa-apakan, ha..ha..ha..

karena kepentingan tertentu, karena kekuasaan, karena jabatan, dan karena uang, apa yang dilakukan untuk mengejarnya semua benar, dianggap wajar dan lumrah, yang mengatakan salah itu dianggap karena tidak punya kesempatan, ha..ha..ha….

istilah “tidak ada yang gratis di dunia ini” adalah implikasi begitu parahnya praktek pungli, manipulasi, dan korupsi, jadi jangan heran untuk urusan ganti KTP saja kita harus menyiapkan fulus atau dengan kata lain cerminan begitu parahnya hubungan muamalah di antara sesama manusia. Mungkin ini semua yang dimaksud mbah, “mari belajar salah” mengakui itu suatu kesalahan, berani mengaku salah dan minta maaf jika sekiranya kita memang lupa dan khilaf, ha..ha..ha…

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana

Sejak jaman orba sampai sekarang angka kemiskinan di Indonesia tidak pernah beranjak di bawah 35 juta jiwa, sementara di sisi lain ada 30 jutaan jiwa bangsa ini hidup dalam kemewahan, seorang pakar ekonomi pernah berujar, jika 30 juta rakyat kaya itu berikut beberapa perusahaan-perusahaan besar dikelola pajaknya dengan benar, tanpa bantuan utang luar negeri, penduduk miskin bisa ditekan sampai 10 jutaan. BLT, Raskin, BLM dan sejenisnya disenangi masyarakat karena pemerintah sudah menjadi personifikasi mbah surip “tak gendong ke mana-mana”, enak to mantep to, ha..ha..ha.., hal ini dipertegas mbah surip “daripada kamu naik pesawat kedinginan, daripada kamu naik taxi kesasar, daripada kamu naik busway…..” karena memang 40 juta penduduk kita yang miskin tidak paham bagaimana itu naik pesawat, naik taxi, dan naik busway.

Anda ingin melamar pekerjaan, apalagi di PNS-TNI-Polri, jika tidak ada yang “menggendong anda ke mana-mana”, jangan berharap bisa lolos.ha..ha..ha..

bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
bangunnnn, tidur lagi

abis bangun terus mandi
jangan lupa senam pagi
kalau lupa…. tidur lagi

Jika anda capek, lelah dan jenuh serta kehilangan semangat karena harapan tidak tercapai, maka “bangun tidur, tidur lagi” akan anda lakukan. sentilan “capek dech…….” juga adalah gambaran realitas, gambaran kekecewaan menghadapi realitas kekinian kita sehari sehari-hari. ha..ha..ha..

“ayo kerja” pekikan mbah surip dalam lagu ini,

abis bangun terus mandi
jangan lupa senam pagi
kalau lupa…. tidur lagi
(artinya mungkin sebahagian besar kita lebih memilih tidur lagi daripada olahraga atau karena kemiskinan, mana sempat mikirin berolah raga). ha..ha..ha…

bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
bangunnnn, tidur lagi
(artinya mungkin ini gambaran perilaku birokrat kita, hanya sibuk terus sehari-hari, pelayanan masyarakat juga masih seperti dulu, akhirnya reformasi birokrasi juga tidak pernah ada, KPK malah menuju mati suri, pengadilan sebagai penegak keadilan baru bisa mimpi, anggota dewan kena virus 5 D, datang, duduk, dengar, diam, duit. Tanya kenapa ? karena :
bangun tidur, tidur lagi
bangun lagi, tidur lagi
bangunnnn, tidur lagi

bunyi dengkuran pun sering terdengar di rapat-rapat wakil rakyat, ha..ha…ha…
Selamat jalan mbah surip Innalillahiwainnailahirajiun, Tuhan I love you full kepadamu.ha..ha..ha…

Posted in: Budaya