Apakah SBY Menang Secara Kesatria ?

Posted on 2 Agustus 2009

4


KPU menolak keputusan MA soal komposisi hitungan kursi caleg, malah KPU yang akan menyusun peraturan untuk penyesuaian agar tidak bertentangan dengan keputusan MA. Ini mungkin menjadi preferensi apapun keputusan MK soal gugatan pelanggaran Pilpres akan menuai penolakan yang sama.

Bagi para pendukung pro kontra SBY, saya berharap semuanya bersabar, yang mengkritik dan memuji sama-sama tidak dibayar kan, alias sama-sama tidak untung, saya percaya kita adalah netter idealis dan independent, jadi mendingan kita kawal SBY dengan kritikan, toh..tidak ada presiden yang baik dan bijak jatuh karena kritikan, yang ada adalah jatuh karena puja dan puji karena pujian dapat membawa tersanjung lalu tersandung.

Mungkin hanya SBY presiden Indonesia yang menggunakan metafora “drakula” dalam menyampaiakan pidato resmi, ini menggelitik saya, karena pilihan penggunaan kata biasanya menjadi preferensi si pengguna kata sebagai simbol referensi intelektualitasnya. Saya malah menduga naskah pidato ini dibuat oleh jubir presiden atau konseptor pidato SBY. Artinya ada orang di ring satu SBY yang mungkin pernah doyan membaca novel atau nonton kisah Film Drakula.

Drakula adalah kisah film horor, mungkin Pemilu kali ini bisa jadi bagai horor bagi SBY atau bagi kita semua, lalu menjadi pilihan kata metafora sebagai ilustrasi, yang jelas ledakan bom menjadi kisah horror baik SBY maupun kita semua.

Dalam kampanye Pilpres pilihan kata yang sesuai dengan kata drakula yang pernah terucap SBY adalah kata ‘kesatria’, dikatakan sesuai karena dalam kisah film drakula muncul seorang kesatria yang mengejar dan membunuh si drakula, ending cerita kesatria selalu berhasil membunuh si drakula, namun sebelum pemeran utama drakula musnah di tangan kesatria, drakula yang terbunuh ini sudah menularkan generasi drakula berikutnya. Seperti kisah peledakan bom di indonesia, pelaku teroris itu sudah ada yang tertangkap, namun generasi mereka sepertinya sudah ada, malah gembongnya sendiri belum terungkap. Di negeri Paman Sam AS ikon terorisnya adalah “osama bin laden” sedangkan di indonesia ikonnya “Nurdin M Top”, saat ini benar-benar ngetop di mata intelegen Indonesia.

Tudingan tidak kesatria dilontarkan SBY kepada kontestan pilpres lainnya karena dianggap melakukan black campaign, jadi pada kebalikannya SBY sudah mengaku seorang kesatria. Sebagai seorang kesatria SBY sudah membuktikan itu, tanpa konfromi dan konfirmasi SBY memilih Boediono sebagai cawapres, partai koalisi lainnya yang sejak awal sudah mengadang-gadang cawapres pilihannya hanya bisa gigit jari, nrimo, suka (nggak) rela menerima dengan pasrah saja.

Seorang kesatria punya banyak jurus dan tidak takut mengeluarkan jurus barunya agar lawan semakin terpojok dan rontok sama sekali. Dalam politik, dikatakan tidak takut apakah pernyataan yang dilontarkannya akan jadi blunder, yang penting sanggup menohok pihak lawan. Dibalik peledakan Bom, SBY pun berani menuding kontestan lain menjadi dalangnya (indikasi) dengan metafora ‘drakula’

Jurus teranyar yang dilontarkan kesatria SBY adalah ‘politik akal sehat’, sasarannya siapa lagi kalau bukan soal gugatan Pilpres ke MK. Masih dalam pidato SBY sebelumnya, melontarkan kalau mereka juga menemukan pelanggaran dan kecurangan pilpres yang merugikan mereka terutama dalam soal penggelembungan suara, namun karena dianggap besarannya tidak ngaruh, sehingga Tim SBY tidak perlu melakukan gugatan ke MK. Artinya gugatan yang dilakukan 2 kontestan lainnya ke MK, dianggap SBY sebagai politik yang tidak menggunakan akal sehat, toh juga kalau menang di MK tidak akan mempengaruhi keputusan KPU. Saya menduga walaupun Pilpres Putaran II jadi digelar atas perintah MK, Tim SBY tetap yakin akan menjadi pemenang. Asumsinya tidak mungkin pemilih JK-Wiranto atau partai Golkar akan menjatuhkan pilihan suara kepada Mega-Pro. Jadi gugatan ke MK dianggap politik tidak pake akal sehat.

Siapapun presiden Indonesia ada beberapa hal yang merugikan bangsa ini secara makro :

1. Pemberian gaji 13 bagi PNS, TNI, Polri, pensiunan dan para janda veteran. Tahun ini yang dibayarkan di bulan Juni untuk yang aktif dan pensiunan di awal juli malah yang dibayarkan 13,5 (sebulan tambah separuh bulan), padahal tahun lalu gaji-gaji itu sudah dinaikkan plus penurunan harga BBM sebanyak tiga kali. Sementara di sisi lain pelayanan birokrasi pemerintah atau reformasi birokrasi tidak juga ada kemajuan, malah semakin lamban dan penuh jurus fulus.

2. Pengucuran BLT dilakukan sebagai kompensasi atas kenaikan BBM, lalu kenapa BLT mesti dikucurkan pada Februari ini sedangkan BBM sudah diturunkan 3 kali. Artinya masyarakat sudah dibebani harga-harga kebutuhan yang naik seperti saat BBM dinaikkan, diturunkan tiga kali pun harga itu tetap sama, negara pun terbebani dengan subsidi yang besar nota bene rakyat juga akhirnya yang nanggung beban itu.

3. Program PPK dan P2KP sudah ada sejak tahun 1999, program ini berbasis pemberdayaan dalam penanggulangan kemiskinan, lokasinya saat ini menyeluruh di 33 provinsi, PPK bergerak di desa-desa dan P2KP di kelurahan-kelurahan atau wilayah perkotaan. Program ini bersifat massal dan paling banyak menyerap budgeting loan. Kemudian pada tahun 2007 semua program pemberdayaan harus bernaung dibawah payung PNPM Mandiri. Sejak tahun 1999 sampai tahun 2009 berapa angka kemiskinan yang bisa diturungkan oleh program ini. keberhasilan program ini bisa dilihat contoh di Kota Pekalongan, Kebumen, dan Jembrana. Indikasi mencapai kegagalan di tempat lain terjadi karena dukungan Pemda dati I dan II difasilitasi setengah hati. Jadi apa gunanya tiap tahun PNS difasilitasi gaji 13. BLT pun malah membuyarkan program PNPM yang memfasilitasi masyarakat untuk belajar mandiri.

4. Netralitas TNI dan Polri perlu dijaga agar tetap independent dalam pemilu, pilpres kemarin beberapa teman yang punya keluarga dari TNI dan Polri menerima telpon agar memilih nomor dua, apakah ini dilakukan secara sistematis atau karena afiliasi primordial kelompok, semuanya sama menciderai alam demokrasi dan netralitas TNI Polri karena TNI dan Polri adalah lembaga yang sangat terlatih untuk dewasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kampanye Pilpres Bu Mega paling vokal mewanti-wanti gerakan senyap semacam ini.

5. Kompetensi KPU selalu dipertanyakan, malah diduga berselingkuh, hasilnya DPT amburadul, aturan-aturan pemilu pun berubah-ubah.

SBY sebagai seorang kesatria, memang iya, malah sudah ditulis Kesaktian SBY, kesatria selalu siap mengejar dan menangkap para drakula seperti kisah drakula empire.

Tetapi apakah SBY dalam Pilpres ini sudah menang secara kesatria ? silahkan anda menjawabnya sesuai pesanan selera.

Hidup ini seperti di dalam gua, apa yang anda suarakan itu pula yang terdengar. Nah silahkan berkomentar, apapun komentar anda begitu pula rupa anda kemudian. anda menanam jagung tidak mungkin akan panen Duren. jadi bagi saya so..goodlah…!!! Wallahualam.

Posted in: Politik