Apa Yang Kita Sebut Dengan Cinta Indonesia (2)

Posted on 1 Agustus 2009

0


bendera

Berdasarkan pada tulisan pertama dapat dilahirkan 3 Asumsi untuk sampai kepada cinta Indonesia;
1. cinta itu adalah sesuatu yang dibelajarkan, dilatihkan, dan dilakoni.
2. cinta itu bukan sesuatu apa yang kita dapatkan lebih banyak tetapi apa yang kita berikan lebih banyak kepada subjek dan objek cinta itu sendiri.
3. Motivasi kepuasan dan kebahagiaan.

Ketiga asumsi itu adalah satu paket siklus tahapan, salah satunya terabaikan maka kepemilikan cinta tanah air ini menjadi labil dan mudah goyah atau cinta itu menjadi tidak utuh. Sedikit-sedikit selalu dibandingkan kalau negara lain bagus sedangkan negara kita buruk, kalau emang bagus, ya tanya aja kenapa ?.

Jamak dipahami cinta tanah air diistilah atau kita sebut nasionalisme. Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik” (political legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.

Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tumbuhnya ikatan ini, yang notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.

Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan,dan semakin banyak kesamaan identitas nasionalisme semakin kuat.

Pemahaman nasionalisme yang saya kutip dari wikipedia.org, menambahkan satu asumsi lagi, bahwa nasionalisme tumbuh semakin kuat karena adanya musuh bersama. Dalam pandangan teori konflik, adanya atau penciptaan musuh bersama dari luar sangat fungsional di dalam membangun solidaritas kelompok.

Sejak sekolah dibangku TK sampai SLTA kita dibelajarkan, dilatih dan disuruh melakoni nasionalisme dalam bentuk kurikulum belajar-mengajar, lagu-lagu perjuangan yang heroik juga selalu dilafalkan di dalam kegiatan belajar mengajar, pelajaran ini umumnya bersifat memaksa karena wajib. Di bangku kuliah pembinaan nasionalisme ini hanya bisa di dapatkan pada kegiatan extra kurikuler seperti kegiatan pramuka, kelompok marchingband, dan pada kegiatan organisasi intra dan esktra kampus.

Setelah pasca kuliah dan bekerja, kegiatan pembinaan nasionalisme hampir dikata sudah nihil, kecuali beberapa kelompok orang yang bekerja jadi PNS, Tentara, polri serta yang berkecimpung di partai politik dan ormas. Umumnya pola pembinaan nasionalisme sudah dalam bentuk pola-pola indoktrinasi.

Pertanyaan yang muncul sejauh mana jiwa nasionalisme rakyat bangsa ini ?
apakah nasionalisme menjadi unsur penting bagi kemajuan suatu bangsa ?

lalu untuk menguatkan jiwa nasionalisme bangsa ini apakah perlu menciptakan musuh bersama dari luar ? Wallahualam.
(bersambung).

Salam Cinta Indonesia

Posted in: Budaya, Pendidikan