Apa Yang Kita Sebut Dengan Cinta Indonesia ? (1)

Posted on 31 Juli 2009

0


peta-indonesia2

Jika seseorang bertanya kepada kita, “apakah kita cinta dengan Indonesia ?.” tentu dengan mudah kita jawab, “Iya, cinta dong..!”, semudah menjawab jika seorang gadis pacar kesayangan anda bertanya, apakah anda mencintainya. Namun jika ditanya, “dengan cara bagaimana kita membuktikan cinta itu..?”, nah, ini barangkali yang membuat kita berpikir panjang, menghela nafas panjang lalu berpikir harus memulai dari mana, subjek dan objeknya apa ? Cinta tanpa bukti perbuatan mungkin hanya sebuah gombal belaka. Termasuk saya cukup sulit harus memulai dari mana, sesulit saya mengurai judul tulisan ini. Seandainya kita hidup di masa penjajahan dulu, ikut berjuang atau membantu para laskar pejuang sudah membuktikan cinta kita kepada tanah air, dengan kondisi sekarang harus cara apa kita bisa membuktikan itu

Kata-kata bijak ini mungkin sering kita dengar, “janganlah selalu berpikir apa yang bisa kita dapat, tetapi berpikirlah apa yang bisa kita berikan bagi bangsa ini.” Kalimat ini entah pertama kali saya dengar dari mana, cinta Indonesia ini pernah dipopulerkan dalam sinetron berseri dengan judul, “Aku Cinta Indonesia,” mungkin film ini diilhami oleh kalimat bijak tersebut. Dalam kondisi sekarang, apa yang harus kita berikan bagi bangsa ini ?

Waktu jaman sekolah setiap hari Senin diwajibkan mengikuti upacara pengibaran bendera di halaman sekolah, hari Sabtunya dilanjutkan dengan upacara penurunan bendera. Setiap bulan tanggal 17, terutama 17 Agustus sangat wajib setiap siswa harus mengikutinya. Ritual ini mungkin telah membawa kita, bahwa semudah itu kita menjawab, “saya cinta Indonesia.” artinya cinta itu adalah sesuatu yang dibelajarkan, dilatihkan, dan dilakoni. Lalu setelah pasca sekolah selesai dengan cara bagaimana kita bisa melakoni semua itu.

Mencintai sesuatu yang lebih kongkrit sangatlah mudah, misalnya mungkin saja kita lebih mencintai anak dan isteri kita daripada orang tua sendiri. Sedangkan orang tua lebih cinta kepada anaknya dibandingkan dengan mantunya, dan cucu-cucu juga lebih dicintai karena faktor keturunan dari anak sendiri, bukan karena faktor keberadaan mantu itu sendiri. Hal ini terjadi karena orang tua telah memberikan begitu banyak pengorbanan kepada anaknya sendiri, dibandingkan kepada mantu sendiri yang baru dikenal setelah dewasa. Demikian pula kecintaan terhadap anak dan isteri bisa lebih besar daripada orang tua sendiri karena sabam hari kita bekerja penuh pengorbanan buat kebahagian anak-anak dan isteri kita. Artinya cinta itu bukan sesuatu apa yang kita dapatkan lebih banyak tetapi apa yang kita berikan lebih banyak kepada subjek dan objek cinta itu sendiri.

Motivasi cinta adalah kepuasan dan kebahagiaan seperti kita mencintai anak dan isteri, lalu mencintai sesuatu yang lebih abstrak atau anonim seperti pekerjaan, agama atau bangsa, masihkah motivasi ini menjadi energy penggerak ? misalnya kita pernah mendapat perlakuan tidak adil di dalam masalah peradilan, ataukah anda salah seorang warga korban lumpur lapindo atau mungkin anda salah satu korban ledakan bom, masihkah anda tetap cinta Indonesia karena jelas kepuasan dan kebahagian itu tidak anda dapatkan sebagai warga negara. Jangan-jangan kita tetap cinta karena ketidakberdayaan, sementara yang lebih mampu karena ketidakpuasan lalu memilih tinggal di luar negeri. Artinya kepuasan dan kebahagiaan bukan merupakan motivasi utama agar lebih cinta kepada bangsa ini, namun kepuasan dan kebahagiaan itu bisa jadi faktor pendukung penting agar lebih cinta kepada bangsa sendiri. Demikian pula bisa jadi motivasi kepuasan dan kebahagian adalah sesuatu yang terpisah dengan motivasi utama anda mencintai negeri ini.

Sebagai warga negara, anda berhasil meraih kesuksesan di bidang bisnis dan investasi di negeri ini, namun anda lebih memilih tinggal di luar negeri karena anda mendapatkan kepuasan dan kebahagian lebih di sana. Mungkin karena itu adalah negeri asal leluhur anda, mungkin juga karena lebih aman dan terjamin secara sosial, mungkin pula karena anda berbisnis dengan cara-cara yang tidak wajar, anda melakukannya karena merasa terpaksa tanpa itu anda tidak bisa sukses. Jadinya Indonesia hanya tempat mencari nafkah, sementara rumah ada di luar negeri. Namun jika anda punya motivasi lain selain kepuasan dan kebahagiaan, maka anda tetap akan cinta Indonesia dan tetap memilih tinggal di Indonesia, walaupun anda setiap hari didera macet di Kota Jakarta atau mungkin anda atau keluarga anda adalah salah satu korban peledakan bom ataukah mungkin korban ‘drakula’.

Motivasi apakah itu, mungkin teman-teman blogger bisa membantu sehingga saya bisa melanjutkan tulisan ini di bagian kedua. Wallahualam.

Salam Cinta Indonesia.

Iklan
Posted in: Budaya