Indonesia Tercinta; Satu Lagi Noktah Hitam Dunia Pendidikan Kita (2 habis)

Posted on 29 Juli 2009

0


“Masih cintakah engkau dengan diriku (baca Indonesia) ? lalu kenapa warisan pernik-pernik sejarah masa laluku engkau musnahkan, tidakkah itu bisa mengingatkanmu akan jasa para pahlawanmu yang telah bersimbah darah dan berkalang tanah, berjuang meraih kemerdekaan yang bagi kami cuma mimpi, ataukah kami cukup dilupakan saja karena makna kemerdekaan telah hilang dari relung hatimu.”

Quo Vadis Kemerdekaan; grafiti di salah satu ruang kelas 3 SMAN 4 Pematangsiantar

Quo Vadis Kemerdekaan; grafiti di salah satu ruang kelas 3 SMAN 4 Pematangsiantar

Kasus ruislag gedung SMAN 4 dan SDN 122350 Pematang Siantar mengemuka pada hari pertama sekolah pada 13 Juli lalu, ketika para siswa mendapati gedung sekolah mereka sudah dipagar sehingga mereka tidak bisa lagi belajar di tempat itu. Akibatnya, ratusan siswa kemudian berunjuk rasa dan merobohkan pagar yang terbuat dari seng yang sudah menutupi gedung sekolah.Para siswa menolak dipindahkan belajar ke gedung baru di Jalan Gunung Sibayak Pematang Siantar, apalagi sebelumnya sama sekali tidak ada pemberitahuan sekolah mereka akan dipindahkan. Di lokasi itu rencananya akan dibangun hotel berbintang, sementara lokasi baru yang disediakan pihak ketiga dinilai siswa dan sebagian guru sangat tidak layak, itu pun berstatus pinjaman dan berada di tiga lokasi yang terpisah berjauhan.

Foto-foto Gedung SMAN 4 Kota Pematangsiantar :

Gedung bersejarah peninggalan Belanda ini mungkinkah hanya tinggal dalam hayal kenangan belaka ?

Gedung bersejarah peninggalan Belanda ini mungkinkah hanya tinggal dalam hayal kenangan belaka ?

Halaman depan gedung sekolah SMAN 4

Halaman depan gedung sekolah SMAN 4

Plaza penghubung antar gedung yang tidak terurus lagi

Plaza penghubung antar gedung yang tidak terurus lagi

Ruang kelas yang tidak terawat lagi

Ruang kelas yang tidak terawat lagi

Menurut cerita beberapa warga, tahun lalu beberapa siswa SMAN 4 sering kemasukan mahluk halus kiriman pada saat belajar yang mereka sebut “hantu cina” karena pada saat kerasukan siswa itu pada bercakap bahasa mandarin. Hantu ini berhasil dihalau oleh Bapak A. Nainggolan mantan kabad Infokom, caranya cukup unik sebelum aksi menghalau hantu ini dilakukan beliau mengunjungi kuburan Taman makam pahlawan yang berada di samping sekolah, dalam acara khusus yang hanya dipahami oleh beliau, meminta doa restu dan dukungan para arwah pahlawan untuk mengusir hantu kiriman ini dari Kota pematangsiantar. Bapak Nainggolan ini adalah penasehat dan tangan kanan walikota, sejak aksinya berhasil menghalau hantu cina ini beliau pun di pecat sebagai penasehat spritual walikota.

Foto-foto Gedung SDN No. 122350 Kota Pematangsiantar :

IMG_0336

Benih harapan bangsa, semoga keceriaan akan selalu ada

Benih harapan bangsa, semoga keceriaan akan selalu ada

Pada tanggal 21 Juli 2009 massa yang terdiri atas siswa-siswi SMAN 4 dan SMAN 1 serta elemen masyarakat yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Siantar (FPPS) turun ke jalan dan menuntur agar DPRD mencabut izin prinsip ruilslag yang diterbitkan 17 April 2007. Dalam aksi kali ini, massa yang didominasi siswa SMAN 1, SMAN 4, dan SDN 122350 datang membawa berbagai poster dan spanduk berisi desakan dan kecaman atas diobok-oboknya dunia pendidikan di Siantar demi kepentingan bisnis.

Sementara itu, muris SDN 122350, Naomi br Simanjuntak meminta agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperhatikan kondisi pendidikan di Pematangsiantar saat ini. Muris kelas VI ini sembari menangis mengungkapkan kesedihannya dengan ditutupnya gedung sekolahnya. “Saya jauh-jauh disekolahkan orangtua agar pintar. Tapi justru kenyataannya pendidikan diobok-obok. Apakah dengan ditutupnya sekolah kami, merupakan peningkatan mutu pendidikan?” katanya lantang. Naomi juga menilai wali kota penakut atas telantarnya mereka (siswa) bersekolah. Menurutnya, wali kota tidak ada apa-apanya tanpa rakyat.

Sorotan masyarakat sangat tajam kepada Walikota RE Siahaan yang kebetulan juga merangkap sebagai ketua DPD Partai demokrat, pengosongan dan pemindahan sekolah dilakukan pasca Pileg dan Pilpres dianggap sebagai salah satu strategi pemenangan pemilu di mana PD dan SBY menang telak di kota ini. Namun pada tahun 2008 Walikota RE Siahaan kalah dalam Pemilu Pilgubsu termasuk di kota dan TPSnya sendiri.

Foto-foto gedung hasil ruislag :

Gedung belajar siswa-siswi kelas 1 dan 2 SMAN 4

Gedung belajar siswa-siswi kelas 1 dan 2 SMAN 4

Gedung belajar siswa-siswi Kelas 3 SMAN 4 terletak di Jl. Sisimangaraja

Gedung belajar siswa-siswi Kelas 3 SMAN 4 terletak di Jl. Sisimangaraja

Hasil ruislag gedung lama menghasilkan 3 gedung pengganti yang terletak terpisah, satunya lagi dipake oleh murid SDN 122350 yang terletak di kelurahan Tambun Nabolon. Kedua gedung SMAN 4 ini adalah milik pengusaha Hermawanto dan Jony yang kemudian dipinjamkan kepada Walikota untuk dipakai sebagai ruang belajar SMAN 4.

Kedatangan para pengunjukrasa ke kantor Gubsu dari Pematangsiantar ke Kota Medan pada tanggal 21/7/2009 guna meminta Gubsu H Syamsul Arifn segera memroses ruilslag SMAN 4 yang diduga ada konspirasi busuk. Mereka menganggap, pengalihan siswa SMAN 4 dari gedung di Jalan Pattimura ke Jalan Gunung Sibayak sebagai akal-akalan Pemko Pematangsiantar untuk mempermudah proses ruilslag. mereka menuntut kepada Gubsu untuk mencari kepastian terhadap proses ruilslag yang dianggap bermasalah. “Untuk secepatnya mendapat perhatian dan kami juga meminta agar Wali Kota Pematangsiantar RE Siahaan segera diperiksa karena telah ikut dalam konspirasi busuk dalam pengalihan sekolah ke Jalan Gunung Sibayak, tanpa ada persetujuan dari pihak sekolah dan orangtua siswa,”.

Dalam pertemuan di kota Medan antara gubernur dengan walikota Pematangsiantar pada tanggal 22/7/2009, walikota mengakui kalau gedung SMAN 4 belum dilakukan ruislag, namun tidak memberi penjelasan secara rinci mengapa dilakukan pemindahan secara paksa itu, malahan walikota merasa tidak mengetahui kenapa hal itu bisa terjadi. Atas kondisi ini gubernur telah membentuk tim investigasi untuk meneliti kasus ini.

Pada tanggal 23/7/2009, Sebanyak 17 organisasi yang tergabung dalam Aliansi Perjuangan Sumut untuk Kota Pematang Siantar menolak keberadaan tim investigasi bentukan Pemprov Sumut yang bertugas meneliti kasus ruislag SMAN 4 Kota Pematang Siantar. Dalam pernyataan sikap yang disampaikan, mereka menolak tim investigasi karena keberlangsungan proses belajar-mengajar para siswa kini dinilai jauh lebih penting. “Idealnya yang didahulukan adalah kekondusifan proses belajar-mengajar. Namun berdasarkan pengakuan orangtua siswa, pada Kamis (23/7) telah turun tim pra investigasi yang justru meneror guru, siswa dan orangtua siswa,” kata Imran Simanjuntak, salah seorang perwakilan organisasi. Ia juga menyatakan menolak kehadiran tim investigasi karena bekerja tidak transparan.

Mereka juga meminta gubernur Sumut segera menginstruksikan kepada walikota Pematang Siantar agar mengembalikan gedung sekolah beserta semua mobiler SMAN 4 agar proses belajar-mengajar kembali normal. “Kami juga mendesak agar sembilan guru yang dimutasi tanpa alasan yang jelas dikembalikan ke SMAN 4,”

Dalam kunjungan saya pada tanggal 23/7/2009 di kota ini, seorang kawan alumni sekolah ini dan sekarang sebagai PNS Dinas PU Pematangsiantar menjelaskan bahwa kunci persoalan ini ada di tangan Walikota, lalu saya pun bertanya, “apakah ini terkait soal Pilgubsu tahun lalu dan rencana Pilkada Pematangsiantar tahun depan ?” jawabnya cuma senyum sumringah, “kalau anda masih cinta negeri ini, kepedulian satu persoalan saja atas bangsa ini, itu pun sudah cukup.” pungkasnya.

Wallahualam
Salam Cinta Indonesia

Posted in: Pendidikan