Indonesia Tercinta; Satu Lagi Noktah Hitam Dunia Pendidikan Kita (1)

Posted on 28 Juli 2009

3


Mungkin karena saya terlahir dari anak seorang guru lalu sangat yakin akan falsafah,
bahwa hanya pendidikan sebagai ideologi pembebasan dari kebodohan dan kemiskinan,
namun setelah dewasa juga baru paham bahwa salah asuh atau salah didik itulah juga kebodohan dan kemiskinan yang nyata, cintaku pada bangsa ini membawa diri peduli pada dunia pendidikan, tiada bangsa yang maju tanpa dukungan fasilitas pendidikan yang berkualitas dan tidak diskriminatif.

Sekelompok anak remaja saling bercengrama riang gembira di atas angkot menuju sekolahnya di pagi hari yang nampak seperti mendung, hawa segar semilir gayutan embun pagi hari semakin membuat kota Pematangsiantar sumringah menyonsong aktivitasnya. Nampaknya remaja tumpuan harapan bangsa ini dan tumpuan harapan keluarga sangat gembira setelah mereka menikmati liburan semesteran selama seminggu. Hari ini hari pertama masuk sekolah, hari pertama berkumpul lagi dengan kawan-kawan, dan hari pertama berkumpul lagi dengan para guru, sepertinya akan menikmati bulan madu pertama kali masuk sekolah lagi.

Pesan Di Halaman Bermain SMAN 4 Kota Pematangsiantar

Pesan Di Halaman Bermain SMAN 4 Kota Pematangsiantar

tetapi entah dinyana, masih riang gembira mereka lalu turun dari angkot, selepas membayar sama bang sopir angkot, mereka hanya perlu berjalan sekitar 20 m lalu sampailah digerbang sekolah. heran bercampur tanya, koq pintu gerbang sekolah masih digembog, apa bujang sekolah belum datang ? keramaian kerumunan pun semakin bertambah atas keanehan ini, murid dan guru pada ngumpul, ada apa ?, pada heran..!

Lalu beberapa siswa laki mengambil jalan pintas menerobos lewat samping, setelah mereka puas menengok kondisi kelas masing-masing semuanya pun berlarian ke gerbang, “Bu Guru..! Pak Guru…! ada apa ini koq bangku dan meja belajar di kelas kita sudah pada kosong semua..???” tanya mereka dengan nada tinggi dan sedikit marah campur heran, hilanglah semua kegembiraan, yang ada hanya tanya, heran, aneh, lalu sangka buruk pun bercampur dalam cakap, lalu emosi penuh caci maki dan sumpah serapah.

Ruang Kelas Tampak Setelah Selesai Belajar Hanya Beralaskan Koran Tanpa Meja dan Bangku Belajar

Ruang Kelas Tampak Setelah Selesai Belajar Hanya Beralaskan Koran Tanpa Meja dan Bangku Belajar

Para anak remaja tumpuan harapan bangsa dan para guru pahlawan tanpa tanda jasa kini meradang, risau dan galau seperti putus harapan. Gerbang sekolah kena gembok, buku-buku, lemari rak buku, meja dan bangku belajar semua raib entah ke mana, tanpa penjelasan dan tanpa kabar berita.

Tampak Depan Gerbang SMAN 4 Kota Pematangsiantar

Tampak Depan Gerbang SMAN 4 Kota Pematangsiantar

Itulah sekelumit kisah nyata peristiwa yang terjadi di SMAN 4 Kota Pematangsiantar pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 di mana para murid dan guru mengalami kekerasan perlakuan dari Pemko, fasilitas belajar mengajar dipindahkan secara paksa tanpa pemberitahuan dan penjelasan atau sosialisasi sebelumnya. Proses pemindahan seluruh mobiler sekolah yang mempunyai murid 1.020 siswa siswi kelas 1 – 3 dan 120 orang guru dilakukan secara diam-diam pada saat sekolah liburan.

Sampai tulisan ini dibuat gedung sekolah ini masih dipake belajar tanpa fasilitas mobiler oleh siswa kelas 2 dan 3 bersama para guru yang menolak “tukar guling” gedung sekolah ini, sedangkan siswa kelas satu telah menempati gedung sekolah baru yang dipinjamkan oleh seorang pengusaha lokal kepada Walikota Pematangsiantar, suasana belajar di gedung siswa kelas satu ini dikawal ketat oelh Sapol PP Pemko (Naskah Surat Walikota perintah kepada Kadis Dikpenjar tentang pemakaian gedung ini akan saya posting pada tulisan berikutnya).

Kata “Tukar Guling” atau ruislag saya beri tanda kutip karena sampai saat ini lahan dan gedung baru hasil ruislag sama sekali tidak ada, baik dalam rencana apalagi realisasi. Walikota memindahkan ruang belajar siswa ke gedung sekolah yang dipinjam dari seorang pengusaha lokal WNI keturunan, lokasi ini juga berada di tiga lokasi yang berbeda dan cukup berjauhan (foto-fotonya di posting kemudian). Bisa dibayangkan betapa sibuknya para guru setiap hari mengajar pindah-pindah lokasi tentu biaya transfor mengajar juga bertambah.

Dari 120 guru, 59 orang telah menandatangani surat penolakan pemindahan, dari 59 orang ini, 9 orang guru telah kena mutasi menjadi guru SMP. Selama 3 tahun kepala sekolah dan kadis Dikpenjar telah berganti 2 kali. Pada tanggal 21 Juli 2009 Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnaspa) yang ditandatangani Dr. Seto Mulyadi selaku ketua umum telah melayangkan surat protes perihal Pembatalan Tukar Guling SMAN 4 dan SDN No. 122350 Kota Pematangsiantar kepada Mendiknas Bambang Sudibyo yang ditembuskan ke Bapak Presiden SBY.

Guru-guru SMAN 4 yang menolak Ruislag sehabis mengajar duduk-duduk di beranda halaman Gedung SMAN 4 menunggu kepastian

Guru-guru SMAN 4 yang menolak Ruislag sehabis mengajar duduk-duduk di beranda halaman Gedung SMAN 4 menunggu kepastian

Lokasi gedung SMAN 4 berada di pusat kota, sangat strategis terletak di Jalan Pattimura seluas 2.600 m2, di areal ini terdapat dua gedung sekolah; SMAN 4 dan SDN No. 122350, samping kiri gedung pagar sekolah hanya dipisahkan dengan jalan poros provinsi satu arah, sekali nyebrang bisa berjalan-jalan di Taman Makam Pahlawan yang asri, indah penuh bunga dan pohon yang tertata rapi, berjalan sekitar 50 m sudah bisa menikmati shoping di Ramayana departement store. Di depan gedung ada SMPN dan disamping kanan gedung juga hanya dipisahkan jalan poros kota satu arah terdapat GOR dan kolam renang. Di depan sekolah ini hanya berjalan 50 m terdapat front pertokoan yang dipenuhi dengan lembaga-lembaga kursus seperti kursus komputer dan belajar untuk masuk PT. Jika anda masuk kota Pematangsiantar dari kota Medan yang berjarak tempuh 120 km pertigaan lampu merah yang ditemui pertama kali adalah Gedung Sekolah SMAN 4 terletak huk yang diapit 2 jalan poros yang masing-masing berlawanan arah. Ilustrasi letak strategis ini kalau anda orang Jakarta hampir persis sama lokasi strategis yang dimilik SMAN 6 Jaksel samping Blok M Plaza yang di depannya jadi terminal ngetem Bus-Bus Damri khusus menuju Bandara Soehata. Semua angkot dalam kota dan angkutan antar kota semua melintas di samping gedung sekolah ini.

Gedung ini mempunyai nilai sejarah karena bekas bangunan Rumah Sakit peninggalan Belanda karena tidak pernah direhabilitasi sehingga menimbulkan kerusakan yang parah, sangat indah dan pas jika dijadikan museum seperti di daerah Kota eks batavia di Jakarta Barat. Setelah merdeka digunakan sebagai tempat sekolah SG B, kemudian berpindah menjadi sekolah SPG, lalu terakhir menjadi gedung SMAN 4.

Banyak cerita menarik yang terjadi di sekolah ini, seperti kisah beberapa siswa kemasukan hantu cina, apakah ini terkait dengan rencana “ruislag” gedung ini ? wallahualam

ntar besok kita sambung lagi ya.
Salam Kompasiana Indonesia

Posted in: Pendidikan