Raja Darmadurjana; Kemiskinan dan Bom di Kerajaan Brantanada

Posted on 26 Juli 2009

0


Raja Darmadurjana

Raja Darmadurjana


Pada jaman melayu kuno hiduplah seorang raja bernama Darmadurjana dengan memimpin kerajaan Berantanada dan sudah memasuki tahun ke sepuluh memimpin rakyatnya yang berjumlah 250 ribu jiwa. Untuk ukuran saat itu kerajaan ini cukup besar dan di segani di seantero tanah melayu kuno. Selain jumlah penduduk yang besar, negeri ini juga terkenal dengan kelimpahan kekayaan alam yang dimiliki dan yang paling unik adalah kecantikan gadis-gadisnya yang elok nanmolek aduhai yang membuat negeri ini banyak dikunjungi oleh para pelancong dari negeri sebrang.

Raja darmadurjana adalah seorang mantan prajurit handal kerajaan, terkenal dengan kesaktiannya serta seorang raja yang berparas menawan, dikarunia seorang anak laki-laki, memiliki seorang permaisuri dengan selir 9 orang yag cantik nan rupawan. Entah kenapa sang raja sangat doyan dengan selir jumlah sembilan, setiap ada gadis cantik di wilayah kerajaan maka akan menjadi selir raja dan selir yang sebelumnya akan dibuang atau dilepas sehingga jumlahnya tetap sembilan.

Raja Darmadurjana bukanlah pewaris tahta kerajaan, tetapi pada 9 tahun yang lalu berhasil menjadi raja melalui pertarungan laga sayembara dari raja pendahulunya yang tidak memiliki keturunan. Raja ini adalah anak sebatang kara (tunggal) yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat berumur 9 tahun, sepeninggal keduaorangtuanya yang sebelumnya bekerja sebagai abdi dalem kerajaan sehingga darmadurjana di asuh dan dibesarkan di dalam lingkungan kerajaan Brantahnada.

Kerajaan ini walau sangat terkenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, namun hampir separuh penduduk kerajaan masih hidup miskin, ironisnya baik pihak kerajaan dan sebagian besar penduduknya tidak risau dengan kemiskinan yang dialami mereka, dan hanya sebagian kecil saja penduduk yang merisaukan hal ini, seperti negeri kerajaan ini sudah merasakan kenyamanan atas kemiskinan yang dialaminya.

Dewan pemerintah kerajaan juga telah banyak melakukan upaya penanggulangan kemiskinan, namun seperti tidak berdaya. Program terakhir yang dilaksanakan untuk mengatasi hal ini adalah setiap bulan Raja Darmadurjana menggelar pentas seni budaya bertitel ‘Perayu Rupa Nanelok’ di alung-alung pendopo kerajaan kepada warganya yang miskin. Pentas ini menampilkan selir-selir raja yang tidak terpakai lagi karena tidak lagi termasuk selir raja sembilan yang tercantik di jagad kerajaan. Pentas ini menampilkan lakon drama bertema percintaan dilingkungan kerajaaan.

Pentas ini sangat digemari oleh sebagian rakyatnya terutama yang miskin karena selain disuguhkan tontonan gratis juga disugui makanan, minuman dan buah yang enak-enak, ini adalah pesta bulanan rakyat, sehabis menonton pentas warga miskin juga dibekali makanan yang bisa disantap bersama keluarga masing-asing di rumahnya.

Dibalik kemeriahan pesta yang menggembirakan seluruh negeri ini, Raja Darmadurjana selalu gundah gulana karena setiap tahun selalu direpotkan oleh serangan Bom Kuping yang dilancarkan para pemberontak, hingga masa 10 tahun memimpin kerajaan para pemberontak ini belum juga tertangkap.

bagaimana rupa peristiwa selanjutnya, ntar besok-besok kita sambung lagi ya, saya mau melanjutkan perjalanan dulu menelusuri negeri brantanada. Wallahualam.

Posted in: Budaya