Raja Darmadurjana Digelari Satri Berlaga Yehuda (2)

Posted on 26 Juli 2009

0


Raja Darmadurjana

Raja Darmadurjana

Raja Darmadurjana sewaktu kecil dan dibesarkan dalam lingkungan kerajaan brantanada di kenal dengan nama panggilan putra satria. sejak kecil hingga dewasa sebelum berhasil menjadi raja sudah dikenal sebagai prajurit sabar, kalem dan santun dalam perilaku, namun jika berbicara walau dengan suara lembut dan datar tapi mampu membuat lawan bicaranya terasa terpojok, menohok dan tajam, demikian pula jika berlatih dalam perang keprajuritan lebih banyak memenangkan pertarungan karena pandai memanfaatkan dan menyerang sisi kelemahan lawan.

Walaupun handal dalam latihan perang, putra satria sama sekali tidak pernah menjadi komando pasukan kerajaan baik perang melawan serangan pemberontak maupun menjadi pasukan pengaman wilayah kerajaan, putra satria lebih banyak ditugaskan di barisan logistik yang mengurusi kebutuhan domestik pasukan perang kerajaan. Panglima perang kerajaan selalu menanyakan hal ini kepada raja, namun lebih banyak tidak ditanggapi, dalam satu kesempatan raja hanya menjawab bahwa keunggulan putra satria dalam latihan perang belum menjadikan dirinya dewasa untuk menjadi seorang komandan pasukan perang.

Uniknya setiap seorang prajurit akan naik pangkat menjadi perwira perang harus melakukan uji tanding dengan putra satria, si putra satria pun memanfaatkan kesempatan ini, prajurit yang tidak disenanginya dengan segala cara akan dilumpuhkannya, misalnya sebelum berlaga esok hari putra satria menyuruh hamba atau kaki tangan kerajaan pada malam hari malakukan pesta kecil dengan si prajurit lawannya, pesta ini dilaksanakan sampai menjelang fajar tiba dengan menyediakan makanan enak, arak dan hiburan wanita, sehingga esok hari laga, si prajurit sudah terkuras tenaganya dan dengan mudah dikalahkan oleh putra satria.

Lawan tanding prajurit yang disukainya, maka putra satria dengan laga tanding penuh sandiwara akan mengalahkan dirinya sehingga sebagian besar para perwira kerajaan menjadi teman yang sangat hormat kepada putra satria. Hal ini bukannya tidak diketahui oleh para prajurit lain terutama yang kalah, namun kelihaian putra satria bertutur kata di hadapan raja, maka pengaduan prajurit atas kelicikan ini tidak pernah berhasil karena raja selalu ragu melakukan tindakan sanksi. kekecewaan para prajurit ini akhirnya secara bisik-bisik tersebar luas putra satria di beri gelar Satria Berlaga Yehuda.

Raja Brantanada Melayu kuno V menjelang mangkat karena tidak memiliki keturunan sebagai pewaris tahta kerajaan lalu melakukan sayembara laga tanding kepada perwira perang kerajaan,sedangkan para prajurit yang boleh ikut sayembara harus melalui kesepakatan oleh dewan perwira perang di mana putra satria sebagai ketua dewan. Atas kondisi peta kekuatan laga ini mudah diduga putra satria dengan mudah melenggang menuju singgasana raja merontokkan lawan-lawannya. Para perwira lain enggan dan sungkan mengalahkan putra satria sementara prajurit yang terpilih ikut sayembara memang sudah dipilih berasal dari prajurit yang lemah.

Atas kemenangan ini putra satria yang sebelumnya telah digelari Satria Berlaga Yehuda setelah menjadi Raja Brantanada Melayu Kuno VI di beri gelar oleh rakyat kerajaan brantanada dengan nama Raja Darmadurjana, artinya prajurit yang tidak pernah menjadi komando perang, tidak pernah terluka dan melukai lawan dalam perang tetapi dengan akalnya liciknya berhasil menjadi raja. Dalam jaman melayu kuno akal licik dianggap sebagai kelihaian seorang kesatria, mengecewakan tetapi tidak dianggap perilaku hina hanya dianggap seperti kepandaian Abu Nawas.

Perwira dan prajurit yang kecewa kemudian melakukan penarikan diri dalam lingkungan kerajaan, ada yang memilih tinggal di atas gunung di dalam hutan-hutan lebat, ada yang berlayar ke negri tiongkok, dan ada memilih tinggal di negeri romawi serta di jazirah arab. Di negeri ini ada yang tinggal menetap dan ada pula yang sekedar menuntut ilmu dan akan pulang ke negeri Brantanada.

Memasuki paruh waktu dasawarsa kepemimpinan Raja Melayu Kuno VI, Raja Darmadurjana memecat maha patih darmasangkuling dalam suatu rapat dewan pemerintahan kerajaan Brantanada, karena darmasangkuling dianggap melawan perintah raja yang selama 4 tahun telah melakukan kerjasama dengan kerajaan romawi dengan mempekerjakan rakyat romawi di tambang-tambang emas, perak dan berlian wilayah kerajaan brantanada, sedangkan wilayah hutan yang diolah menjadi areal perkebunan dengan mempekerjakan rakyat tiongkok. Sedangkan para putra melayu lebih banyak dipekerjakan sebagai hamba atau kaki tangan kerajaan, sebagian lagi rakyat memilih menjadi pedagang dan sebagian kecil menjadi pengajar komisi (makelar/jasa). Rakyat kerajaan hampir 50 % hidup dalam kemiskinan karena banyaknya rakyat yang hidup dalam pangku tangan (pengangguran).

bagaimana kisah selanjutnya, kita tunggu ya kanal jurnalism di negeri brantanada ini. Wallahualam.

Posted in: Budaya