Tak Gendong Kemana-Mana; Inikah Prototype Bangsa Ini ?

Posted on 19 Juli 2009

0


mbah_surip

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha…Ha…

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I’m
Where are you going?
Ok my darling

Ha.. Ha…

Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Ha.. Ha…
Ha.. Ha…
Ha.. Ha……

Capek…..

Lirik lagu Mbah Surip di atas itu sangat sederhana, uniknya menjadi hits di tengah masyarakat, ini adalah pernik budaya, sebagai olah budaya yang digandrungi karena muatannya sesuai local kontent kejiwaan masyarakat. Disenangi karena merupakan manifestasi apresiasi makna pola perilaku komunal yang mengejawantah dalam prosa dan lirik lagu mbah surip.

Wong cilik mana paham naik pesawat, naik taksi saja masih kagok, malah lebih banyak yang tidak kenal taxi, ada yang mau menggendong, why not ?

Apa makna lagu ini bagi kita dan masyarakat ?

Kegandrungan masyarakat pada lagu ini, secara sosiologis secara tidak disadari oleh masyarakat mendefenisikan diri seperti pada makna lagu ini.

Contoh kecil dalam kampanye pemilu, masyarakat tidak perlu disuguhi janji-janji yang muluk-muluk dengan sejumlah kemasan dalam bentuk program. Misalnya program BLT, BLM PNPM, Raskin, gaji 13 tentu lebih mudah dicerna dibandingkan dengan bahasa program pro kerakyatan, apalagi jika uda pake bahasa asing anti neolib. Termasuk program kampanye menggungulkan produk dalam negeri, malah bisa jadi bumerang karena merek-merek dagangan umumnya di kaki lima masih mengandalkan merek produk luar negeri sebagai modal pelaris dagangan.

Defenisi sosial ini juga berkorelasi atas kegandrungan masayarakat kita nonton drama telenovela dan film-film sinetron yang selalu hits dan ditayangkan dalam waktu-waktu dengan rating tinggi.

Apakah pendefenisian ini juga menandakan umumnya rakyat kita mudah merasa iba, suka melangkolis, dan cengeng ?

Namun perlu diketahui dalam psikologi seseorang yang mudah iba dan mudah jatuh kasihan, maka pada sisi lain dia juga mudah marah, karena baik yang mudah kasihan atau iba maupun mudah marah semuanya punya watak yang disebut temperamental, berada pada rasa ekstrim walaupun pada kutub yang berbeda.

Nah, untuk menjadi pemimpin di type ini, tentu yang mampu bermain musik dengan irama itu ?

Atau mungkin saja saya juga cengeng dengan mengangkat tulisan ini ?, lalu teman-teman netter ada di posisi mana pada defenisi ini ?

Seingat saya kira-kira 3 tahun yang lalu dan sampai sekarang masih ada, wanita-wanita kita terutama ABG sangat gandrung dengan “narkoba”. dan sering dipamerkan di tempat-tempat umum serta tidak merasa risih, malah yang uda masuk kalangan tante-tante juga melakukannya. Budaya apresiatif ini mendefenisikan diri bahwa pada saat yang sama pergaulan muda-mudi juga semakin bebas. Wallahualam.

PS : Narkoba = nampak kolor banggga.

Iklan
Posted in: Budaya