Mengambil Hikmah Dari Bencana Bom

Posted on 19 Juli 2009

0


Sehari sebelum ledakan bom mungkin kebetulan saja saya menulis dengan judul postingan Iblis Ataukah Adam Bangsa Ini ??? bisa di klik di sini Judul ini sebenarnya hanya sebuah metafora saja untuk mencoba memetakan fenomena perjalanan bangsa ini, kondisi keseharian, dan kekinian kita, tanpa perlu terjebak di dalam perbedaan pemahaman filosofis, ideologis, maupun agama.

Sederhananya bahwa alam ini diatur dalam konteks sunnatullah di mana salah satu bagiannya adalah berlakunya hukum dualitas atau Islam menyebutnya semua diciptakan berpasang-pasangan. Dalam konteks duniawi kita pun mengenal istilah ‘iblis’ dan ‘adam’ sebuah metafora adanya apa yang kita kenal ‘buruk’ dan ‘baik’. Artinya untuk mengenal kebaikan Tuhan pun menciptakan adanya keburukan, demikian pula sebaliknya. Dalam konteks inilah saya mengatakan bahwa ‘iblis’ dan ‘adam’ sama-sama diridhoi agar kita sendiri dapat membedakan apakah kita ini serupa ‘iblis’ atau ‘adam’, meniti menuju manusiakah atau menuju ibliskah kita, jawabnya kembali ke diri kita masing-masing.

Pemahaman lain dengan hukum dualitas ini bahwa alam diatur oleh hukum keseimbangan, ‘iblis’ dan ‘adam’ hanyalah simbol proses hukum itu akan berjalan. Dalam ranah politik hukum keseimbangan itu ada dalam konteks pemerintah dan oposisi. Dalam evolusi alam dikenal stabilitas alamiah dan pada sisi lain adanya bencana alam, ini adalah proses alam selalu menuju pada keseimbangan baru. bahwa di mata Tuhan semua mahluk ciptaan-Nya adalah manifestasi cinta dan rahmat kasih sayang-Nya, Dia menurunkan bencana juga ada dalam konteks ini.

Dalam konteks Pilpres, entah kenapa dulunya saya golput, saat ini saya jadi pendukung JK, mungkin karena saya dilanda suatu eforia perubahan bahwa presiden kenapa bukan berasal dari non Jawa plus non militer. Saya melihat bahwa perubahan itu harus dimulai pada titik itu dan tentu dengan sejumlah argumentasi yang menjadi landasan pemihakan itu. Anda boleh tidak setuju dengan pemikiran ini tetapi bukan pula harus serta merta menganggap pendapat ini tidak benar, beraroma primordial dan diskriminatif, karena demokrasi mengakui setiap perbedaan sebagai tesa, antitesa, dan menuju pada sintesa baru atau proses berjalannya hukum keseimbangan itu.

Sebagai orang yang menekuni dan bekerja di bidang pemberdayaan masyarakat adalah sangat logis pemihakan selalu saya jatuhkan kepada pihak minoritas, marginal dan terpinggirkan karena jika semua berpihak kepada kekuatan mayoritas maka yang lahir adalah tirani mayoritas bagi minoritas. Alhasil pemihakan ini lebih cenderung menuai kekalahan, namun pada sisi lain sebenarnya menuai kemenangan karena saya sedang memainkan hukum keseimbangan alam itu.

Kita semua bisa bersepakat atas kemenangan yang diraih SBY dalam Pilpres ini – dalam tulisan saya sebelumnya sudah memberi selamat atas kemenangan SBY – namun pada sisi lain kita juga boleh bersepakat bahwa untuk mencapai kemenangan itu masih banyak proses pemilu yang terasa tidak menyenangkan seperti soal DPT dan kompetensi KPU dan semoga ke depannya kita semua bisa belajar dari kelalaian ini.

SBY boleh menang dan JK boleh kalah, tetapi saya tidak boleh kalah demikian pula bagi teman-teman netter lain yang sudah beroposisi dengan SBY, karena modal kita hanya ide dan gagasan dan bukan pula orang bayaran alias independent, pemihakan pun karena gagasan independent. Adalah lebih baik saya dan para netter lain pada posisi oposisi ini sebagai wacana keseimbangan dalam demokrasi bangsa ini, toh berpihak kepada SBY pemikiran-pemikiran kita juga tidak terpakai karena misalnya Tim The Fox lebih unggul dari kita juga sebagai tim konseptor SBY. Apalagi saat ini malah Golkar akan tetap menjadi partai pendukung pemerintah, jelas koalisi pemerintah dan parlement akan lebih kuat, lalu siapa lagi akan menyuarakan sikap oposisi ?

Dalam makna lain ‘lanjutkan’ boleh menang, apa pun rupanya karena itu sudah pilihan rakyat, dan JK boleh kalah tetapi slogan, “lebih cepat lebih baik” tidak boleh kalah. Ini adalah slogan semangat untuk maju dalam berkompetisi kebetulan saja JK mengusungnya dalam Pilpres. Slogan ‘lanjutkan’ tanpa ‘lebih cepat lebih baik’ artinya stagnasi atau bisa yang terjadi malahan ‘kemunduran’.

Intelegen kita karena tidak lebih cepat lebih baik, maka telah gagal mengendus gerakan terorisme sehingga mampu meledakkan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton dengan jatuhnya sejumlah korban yang memilukan kita. Tentu si teroris dengan antek-anteknya adalah salah satu bagian dari Iblis bangsa ini. Lalu apakah masih ada iblis-iblis yang lain, silahkan teman-teman netter menambahkannya..!

Kita mengutuk sekuat-kuatnya dan menyumpahi habis si pelaku teror bom ini, namun di sisi lain kita juga perlu intropeksi diri ke dalam terutama para pemimpin nasional kita, mungkinkah ada juga yang salah dari kebijakan kita ?, mungkinkah masih ada dusta diantara kita ?, dan mungkinkah ada rasa ketidakjujuran dan ketidakadilan baik yang kita sadari atau tidak disadari juga terjadi pada bangsa ini ???.

Bencana alam terjadi juga karena kejahilan tangan-tangan manusia, ledakan bom juga merupakan bencana yang secara langsung ditebarkan oleh iblis berwujud adam, tetapi itu tidak seolah-olah datang begitu saja, sebagai intropeksi diri, kenapa itu tidak terjadi di Singapura atau Malaysia, semoga kita bisa mengambil hikmah yang banyak dari peristiwa ini.

Sebagai ungkapan duka cita yang dalam kepada para korban dan para keluarga yang ditinggalkan, sekumtum bunga di bawah ini bisa membawa pesan keprihatinan yang dalam atas peritiwa ini :

000Q01G_RRv

Semoga arwah para korban mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, keluarga yang ditinggalkan dilimpahkan kesabaran dan ketabahan karena kita selalu yakin Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Adil dan Maha Mengetahui setiap kejadian serta Tuhan selalu memberi yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya.

BERSYUKUR
(Tabah, Tekun, dan Ulet Berjuang Paling Bermanfaat Bagi Sesama)

Engkau Maha Bersyukur !
Semua Kauciptakan serba terukur
Teratur

Sekejap saja Engkau tertidur
Semesta raya hancur
Lebur

Mana mungkin Kausiksa hamba yang iman dan syukur ?
Syukur mengharuskan hamba-Mu tafakur
Terhadap karunia-Mu hamba tadzakur
Turut serta menjadikan bumi makmur !

TAWAKKAL
(Hancur Luluh Tubuh Ini Berbuat Paling Bermanfaat Bagi Sesama)

Mutiara ada di dasar lautan yang dalam
Jangan menyelam
Tak dapat berenang kau akan tenggelam

Islam itu laksana mutiara
Kita dapatkan bila kita selami dalamnya samudra
Bukan pengakuan semata

Mutiara itu berada di dasar
Lakukan yang bisa kita lakukan atau gagal
Pantang berhenti sebelum semua tenaga luluh terbakar
Sehabis akal haruslah tawakkal !

Semoga dua buah puisi di atas bisa membantu kita mengambil hikmah atas peristiwa bencana bom ini. Wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia

Posted in: Paradigma Satu