Primordialisme Dan Uang Yang Maha Kuasa Kunci Kemenangan SBY

Posted on 15 Juli 2009

0


JIka saya berbicara politik primordialisme di blog ini atau pada umumnya di dunia maya, asumsi primordialisme seolah tidak diterima, namun jika kita coba berbicara di dunia riil di mana komunal itu berada seolah berbeda 180 derajat.

Perilaku primordialisme dalam afiliasi politik tidak datang begitu saja, tetapi tergambar dari realitas kehidupan sehari-hari.

Teman saya kebetulan asli Jawa selalu berpesan jika berada di pulau Jawa seperti ketika tahun lalu saya berada di Surabaya dan Jogyakarta. “Kalau belanja dengan pake bahasa Jawa bisa lebih murah kenanya.” mungkin anda juga pernah mengalaminya.

Saya pernah tinggal satu tahun di Wates dan Kutoarjo, tanpa seorang teman setempat yang menemani rasanya kikuk pergi kemana-mana karena umumnya masyarakat menggunakan bahasa daerah yang tidak saya pahami karena tidak paham bahasa Jawa.

Di tempat kerja saya ada juga beberapa teman dari Jawa, ketika kami ngobrol bersama teman yang sesama Jawa selalu tidak terlupakan mereka bicara dalam bahasa Jawa.

Jika anda coba jalan-jalan di Mall di Kota Surabaya, Jogya, atau Semarang, kalau anda bukan orang Jawa tentu merasa asing karena umumnya pengunjung bercakap dalam bahasa Jawa. Namun dibeberapa kota besar lain di luar Pulau Jawa seperti Pekanbaru, Medan, dan Makassar di tempat yang sama sangat jarang didengar bercakap dalam bahasa daerahnya. Malahan di Kota Makassar sepertinya jika berada di Mall rasanya malu menggunakan bahasa daerah sendiri, yang nampak semuanya bercakap seolah orang Jakarta, sehingga SPG kadang memanggil mbak atau mas.

Kalau anda pernah berkunjung ke tempat-tempat itu seperti yang saya alami, anda juga akan merasakannya.

Bagaimana wilayah lain di luar Pulau Jawa, untuk daerah-daerah kabupaten fenomena ini sama seperti yang terjadi di Pulau Jawa. cara bertutur mencerminkan sikap perilaku budaya. kalau anda orang sunda ketika tinggal di Medan seperti teman saya, dia selalu rindu makan dengan pelengkap sayur lalapan. Kalau anda perantau, diperantuan itu sangat mudah berteman dengan orang yang bearasal dari daerah yang sama.

Secara sosiologis kebiasaan seperti itu mempunyai kecenderungan daya kohesif pada afiliasi primordial dan pola sikap ini adalah manusiawi, tidak terkecuali menjatuhkan pilihan dalam ajang pemilu. Bisa diambil contoh dalam ajang Pilkada, apakah masih ada para pendatang yang bisa terpilih menjadi Bupati/walikota atau gubernur, mungkin saja ada tetapi orang tersebut lahir dan besar di daerah itu. Secara psikologi sosial afiliasi primordial juga memberi rasa aman yang lebih baik.

Isu heboh Bu Hera Boediono beragama katolik sama hebohnya isu Obama beragama Islam. Indonesia dikatakan baru belajar berdemokrasi dan AS adalah kampiun demokrasi, tetapi mempunyai kesamaan isu yang siap menggagalkan mereka.

Jadi sangat tidak beralasan jika politik aliran dan primordialisme itu sudah hilang pada pemilu kali ini, yang mungkin ada intensitas kohesif itu yang sedikit berkurang. Apakah politik aliran atau primordial yang lebih dominan, sangat tergantung sikon yang dihadapi masyarakat.

Peta kekuatan politik primordial ketiga capres kita, sangat jelas dimenangkan oleh SBY apalagi sebagai incumbent, Obama pun bisa kalah di negaranya jika melawan incumbent. Dibandingkan peta kekuatan primordial JK yang sangat sedikit, Mega memang orang Jawa tetapi seperti pendapat semua pakar politik adalah kartu mati melawan SBY yang sudah terkalahkan di Pilpres 2004 karena kegagalannya selama menjadi presiden.

Di kampus tahun 1988 kebetulan saya pernah mengikuti mata kuliah Andi Alifian Mallarangeng dan sepulang studi dari AS tahun 1998, saya malah sempat menjadi asistent mata kuliahnya.Sebagai pakar sosiologi politik Alifian selalu mewacanakan dalam kuliah masih kuatnya politik primordial di Indonesia.

Baik The Fox di mana Alifian menjadi konsultan kunci maupun SBY sangat memahami kekuatan politik primordial ini, sehingga penentuan Cawapresnya dilakukan setelah nyata kalau Golkar mengusung pasangan JK-Wiranto, saat itu Mega – Prabowo belum terbentuk namun sudah diprediksi Mega-Prabowo akan jadi karena partai papan tengah semua sudah berkoalisi dengan PD. Memilih Boediono bagi SBY bukan persoalan karena kekuatan primordial Jawa ini sudah di tangan.
Alifian pun tidak ragu dan segang melakukan teror di kampungnya sendiri, bahwa saat ini orang Bugis belum bisa jadi presiden atau dengan kata lain JK tidak bisa menjadi lawan SBY karena didukung oleh kekuatan primordial Jawa.

Penetapan cawapres SBY tentu bukan Boediono seandainya Sri Sultan atau Prabowo diusung oleh Golkar atau PDIP, karena peta kekuatan primordial Jawa akan terbagi.

Strategi selanjutnya adalah melakukan maitenance terhadap kekuatan primordial ini, caranya adalah uang yang maha kuasa. Selain didukung oleh dana kampanye yang besar, SBY dengan program BLT dikucurkan pada bulan februari lalu dikampanyekan pada saat Pileg, penerima BLT ada 40 juta jiwa dikisaran 70 – 80% berada di Pulau Jawa. Belum lagi dana BLM PNPM dan KUR yang sudah dikucurkan pada Desember tahun lalu.

Kisruh DPT tidak jadi soal karena hampir 10 juta PNS; birokrat, TNI, Polri dan para pensiunan sangat langka golongan ini Golput dan tidak masuk DPT. Bagi yang aktif gaji 13,5 dibayarkan pada bulan Juni dan pensiunan di bulan Juli.
Secara kasar hanya dengan menghitung satu orang saja setiap penerima BLT dan Gaji 13,5 SBY sudah mengantongi 50 juta suara. Belum lagi penerima manfaat BLM PNPM dan KUR.

Kalau anda Si Fulan Jawa, tentu mempunyai kecendrungan memilih SBY, setelah menjadi penerima BLT/BLM/KUR, kecenderungan berubah kepastian. Demikian pula jika si Fulan Jawa PNS setelah dapat gaji 13,5. Meleset sedikit milih Mega.

kalau anda si Fulan Non Jawa-Bugis,kecenderungan pilihan masih ragu diantara ketiga capres, tetapi dengan BLT dan Gaji 13,5 kecenderungan berubah kepastian memilih SBY.

Kalau anda si Fulan Bugis, kecenderungan memilih JK tetapi yang PNS masih ragu JK atau SBY.

Kalau anda si Fulan Makassar kecenderungan memilih JK tetapi masih ragu, karena anak Bupati Gowa Adnan Yasim Limpo (AYL) adalah TS SBY dan caleg PD yang menuai sukses di kampung sendiri. Gubernur Sulsel Sahrul Yasim Limpo juga paman AYL, akhirnya SBY memang di daerah pesisir pantai Sulsel yang umumnya suku Makasar.

kalau anda si Fulan Gorontalo, kecenderungan memilih JK tapi masih ragu, kena BLT atau gaji 13,5 plus Gubernurnya pendukung SBY, akhirnya SBY menang di Gorontalo, walaupun Fadel Muhammad adalah kader Golkar, seperti kader Golkar di Jabar yang terang-terangan mengaku menggembosi JK memilih SBY.

Kalau anda si Fulan Jawa yang kagum JK karena nonton debat capres boleh jadi cenderung memilih JK tapi masih ragu, karena afiliasi primordial lebih savety memilih yang memiliki basis kesamaan kebiasaan dan pola budaya, kepastiannya bisa milih SBY atau Mega.

Kalau anda si Fulan TNI dan Polri tentu mempunyai kecenderungan besar memilih SBY karena lebih bangga sesama Korps, apalagi kalau Jawa dan sudah dapat gaji 13,5.

Akhirnya JK harus puas dengan suara diatas 10% dibawah 15% seperti hasil capaian Pileg, kenapa Pileg lebih besar ?, ya karena caleg Golkar dari Jawa juga lebih besar plus kena gembosi.

Anda si Fulan Jawa boleh menolak asumsi atau peta kekuatan primordial ini atas kemenangan SBY, tetapi anda juga harus bisa memahami kalau si Fulan non Jawa menerima asumsi ini, sama-sama manusiawi. Si Fulan Jawa tidak harus mengakuinya, karena tiada maling mengakui dirinya maling. Dan saya pun menuturkannya dengan fakta nyata.

Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua. Wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia.

Iklan
Posted in: Politik