Dengan Jurus Incumbent, SBY Tetap Menang Walau Pilpres 2 Putaran

Posted on 9 Juli 2009

0


KOMPAS.com

KOMPAS.com

Dengan hasil perolehan suara seperti di atas yang dirilis sampai hari ini, Danny JA sudah berani memastikan SBY-Boediono menjadi jawara mengantar SBY menjadi president kedua kalinya. LSI yang melakukan kampanye ‘illegal’ Pilpres satu putaran, semakin bangga hasil yang dicapai dan tentu akan diklaim sebagai keberhasilan propagandanya. Hasil Quick count ini kemudian semakin diperkuat dengan hasil exit poll LSI :

Kamis, 9 Juli 2009 | 15:31 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Senior Lembaga Survei Indonesia (LSI) Syaiful Mujani mengatakan, isu-isu primordial semacam gender, kesukuan, agama, ataupun ormas keagamaan sudah tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap para konstituen pilpres.

Hal ini dipaparkan dalam konferensi pers mengenai hasil exit poll LSI tentang latar belakang dan perilaku pemilih, Kamis (9/7). Exit poll ini sekaligus sebagai penjelasan terhadap beberapa quick count yang dilakukan LSI.

Hasil quick count LSI sendiri menunjukkan, pasangan SBY-Boediono unggul dengan perolehan mencapai 60,8 persen suara. Sementara Mega-Prabowo mendulang suara sebesar 26,6 persen. Terakhir pasangan JK-Wiranto yang mendapatkan 12,6 persen suara.

Syaiful mengatakan bahwa survei exit poll justru lebih penting daripada sekadar hasil quick count. Jika quick count hanya berupa pemaparan angka-angka hasil pemungutan suara, maka exit poll inilah yang menggambarkan perilaku para pemilih terhadap pemilihnya tersebut.

sby-luar Jika Pendapat syaiful Mujani itu sepenuhnya benar, maka dapat dikatakan bahwa Ormas Islam dan Partai yang ngaku berbasis Islam terutama tokoh-tokohnya tidak lagi mempunyai pengaruh signifikan di mata masyarakat. Fenomena Partai PKS yang mengklaim partai dakwah dan prestasi yang dicapainya sebagai partai pemenang ke empat Pileg, sebenarnya masih mengindikasikan politik aliran berbasis Islam masih dirindukan terlepas dari kontroversi koalisi PKS dengan PD. Keberanian SBY tidak menggandeng cawapres dari partai koalisinya yang berbasis Islam, juga menandakan lemahnya figur politisi Islam di mata masyarakat.

sby syndrome Pendapat Syaiful Mujani itu tidak spenuhnya benar, bahwa politik afiliasi primordial dan politik aliran tetap masih menjadi issu yang penting, persoalannya apakah kekuatan issu ini menjadi penting sangat tergantung dengan kondisi sosial perekonomian masyarakat kita umumnya, serta korelasi keberadaan figur sang calon pemimpin. Jika kondisi sosial perekonomian masyarakat tertekan, maka issu primordial dan politik aliran signifikansinya akan menurun, issu ini akan terkalahkan oleh issu program BLT dan Gaji 13 atau sejenisnya dari incumbent. Walaupun demikian issu primordial juga masih memberi peran penting jika berkorelasi positif dengan sang figur serta masyarakat yang tertekan secara sosial ekonomi juga berkorelasi dengan kebijakan sang figur seperti program BLT dan Gaji 13 itu.

SBY Telpon JK Mengabarkan Kemenangannya

SBY Telpon JK Mengabarkan Kemenangannya

Konstituen terbesar adalah pulau Jawa dan Islam, korelasi positifnya dengan afiliasi primordial bahwa SBY berasal dari Jawa dan Islam, Bu Kristiani Yudhoyono tentu tidak akan pernah berjilbab jika menganggap politik primordial ini tidak ngaruh. Sementara pada sisi lain, masyarakat yang tertekan kondisi sosial ekonominya juga berkorelasi positif dengan kebijakan incumbent dengan program BLT dan gaji 13nya. Jadi apa lagi, lengkaplah sudah power SBY mengantar dirinya kembali ke Istana Negara.

JK Terima Telpon SBY Mendengar Kabar Kemenangan SBY-Boediono

JK Terima Telpon SBY Mendengar Kabar Kemenangan SBY-Boediono

BLT dan Gaji 13 saya anggap sebagai jurus incumbent, selain itu jurus yang lain bahwa sebagai incumbent sangat mudah mendapatkan donasi kampanye yang tajir bejibun, disinilah kehebatan manajemen tim kampanye SBY yang tidak dimiliki oleh dua kontestan lain yaitu memiliki lembaga konsultan kampanye The Fox, manajemen kampanye dikelola secara sitematis, manajemen issu dan dana dikelola dengan satu pintu manajemen. Posisi strategis ini, ingat, berkorelasi positif dengan issu primordial, tindakan rasis Andi Alifian Mallarangeng di Makasar memang di salah satu sisi kehilangan simpati di Tanah Bugis, tetapi di sisi lain, issu ini berdampak positif menyolidkan primordial Jawa di seluruh pelosok nusantara. Soal besaran dana kampanye kita tidak perlu repot-repot menunggu hasil audit KPU, hitung kasar saja berapa dana yang harus dibayar kepada The Fox, kepada lembaga survey, berapa banyak iklan SBY Presidenku, dan seperti jurus BLT dan gaji 13 dengan biaya APBN berapa banyak iklan keberhasilan pembangunan yang ditayangkan. Apatah lagi media printing, barang cetakan, dan spanduk yang bertebaran dimana-mana dengan ratusan tema, coba tengok di kota kita masing siapa paling banyak mengedarkan media kampanye. Di Makassar JK boleh puas melakukan kampanye terbuka terbesar dan paling kolosal dalam kampanye Pilpres ini di lapangan karebosi yang dihadiri kurang lebih 300ribu orang, tetapi harus mengakui bahwa media kampanye SBY menenggelamkan warna kuningnya JK, dibanjiri media kampanye SBY yang mengharu birukan Kota Makassar, demikian pula yang terjadi di mana saya berdomisili di kota Medan. Informasinya dilapangan mengatakan, tidak selembar pun spanduk SBY beredar tanpa biaya lelah dan ongkos pemasangan ? Dengan dana kampanye besar tentu mesin politik Partai Demokrat sangat solid walaupun tanpa jaringan solidnya semua partai koalisinya, di Sulsel kandang JK saja SBY mampu meraih suara besar 27 % lebih. Yang jelas PD dan PKB kedua partai ini paling solid menjadi mesin politik SBY-Boediono.

Saya menempatkan BLT dan gaji 13 sebagai jurus paling pamungkas Incumbent SBY setelah didukung oleh berbagai korelasi positif startegis yang saya sebut di atas. Penerima BLT sebanyak 40 juta, ini disebut jurus incumbent karena diluncurkan tidak lagi sesuai asbabun nuzulnya, BLT adalah dana kompensasi atas kenaikan BBM, tetapi BLT terakhir yang digelontorkan malahan setelah BBM diturungkan tiga kali berturut-turut, dilakukan menjelang masa kampanye Pileg, kemudian dalam masa kampanye Pileg malah diiklankan secara besar-besaran melalui berbagai media. kemenangan PD akhirnya menuai prestasi spektakuler.

Pada awal rencana BLT kembali akan diluncurkan di bulan Juni, namun karena menuai kontroversi dan sudah diklaim oleh JK dalam iklan TV “nggak elok di sebut-sebut”, tentu tidak strategis lagi. Akhirnya jurus incumbent gaji 13 yang kembali digelontorkan, padahal tahun 2008 SBY sudah menaikkan gaji PNS, TNI, para pensiunan sipil militer, dan para janda veteran. Gaji 13 untuk PNS dan TNI dibayarkan pada bulan Juni, sedangkan para pensiunan dan janda veteran di bayarkan pada awal bulan Juli ini, nah kita hitung sendiri berapa jumlah penerima gaji 13 ini kemudian minimal di kali dua saja. Hebatkan…!! Pertanyaanya, apa asbabun nuzulnya gaji 13 ini diluncurkan, padahal selain BBM sudah tiga kali diturungkan plus kenaikan gaji juga sudah dilakukan di tahun 2008 yang dibayarkan sekaligus lima bulan di bulan di bulan Juni. Sebagai ilustrasi seorang janda veteran di kota Medan pada saat menerima gaji 13 tanggal 6 Juni di kantor pos lalu saya menemuinya, janda ini menerima gaji 13 sebesar menurut pengakuannya 1 juta 500ribu lebih, sedangkan tunjangan pokoknya secara keseluruhan tiap bulan sebesar 750ribu lebih, nah anda bisa bayangkan berapa yang diterima PNS kita yang sebagian besar bergolongan III dan IV, termasuk yang pensiun di golongan pangkat ini plus Gol II.

Karena gejolak kenaikan harga BBM di pasar internasional sudah terjadi saat ini, kemungkinan bulan delapan pemerintah juga akan menaikkan (pemerintah, baca =Menyesuaikan), artinya hal ini tidak beresiko jika SBY harus mengikuti Pilpres Putaran II, karena kenaikan BBM ini akan disertai peluncuran konvensasi BLT yang akan dibayarkan sekaligus selama 6 bulan dari Maret s/d Agustus. Kalau anda penerima BLT, silahkan kalikan jumlah yang diterima kemarin sebanyak enam kali untuk mengetahui jumlah besaran yang akan diterima lagi 40 Juta jiwa penduduk miskin.

Jika putaran kedua terjadi rival SBY tentu akan kedodoran mencari dana kampanye, andai saja hasil akhir KPU berkata lain yaitu SBY VS Mega, maka selain jurus incumbent BLT dan iklan kampanye keberhasilan pembangunan sudah didapatkan gratis, pemilih JK-Wiranto yang juga sudah menerima BLT kembali dan gaji 13 kemungkinan akan mengalihkan suaranya ke SBY-Boediono, karena berkorelasi positif dengan masyarakat kita yang masih didominasi pola budaya patrimonial (garis ayah). Seandainya hal ini betul-betul terjadi head to head SBY- Boediono VS Mega-Prabowo, kita akan membuktikan bahwa issu bias gender wanita tidak layak menjadi orang nomor satu memimpin kaum ini akan dimainkan oleh partai koalisi PD terutama akan dilakukan oleh PKS yang selama ini selalu paling awal melemparkan issu politik aliran. Artinya putaran ke dua pun akan tetap dimenangkan oleh SBY.

JK dengan Kerinduan Cucu-cucunya

JK dengan Kerinduan Cucu-cucunya

Dalam debat terakhir para Capres JK berucap akan pulkam kalau kalah, pulkam mengurus masjid mengurus dunia pendidikan, tetapi satu lagi Pak JK saya titip agar mengurus juga cucu-cucunya yang bapaknya wong java semoga mereka bisa jadi calon presiden setelah dewasa. Dan satu lagi Pak JK dari pesan terakhir Bapak di acara debat itu, bahwa Bapak bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran jika negara dan pemerintah membutuhkan. Bukankah Bu Mega juga mengatakan, “Kalau urusan itu memang JK jagonya..!” ujar Mega sumringah di depan kamera.

Buat Pak SBY selamat atas kemenangan ini, kalau saja saya punya nomer hp Bapak tentu saya akan mengirimkan SMS ucapan selamat. Namun dalam catatn harian saya menggarisbawahi Bapak memang seorang pemain teater berkarakter, pandai memanfaatkan moment membangun citra, telpon Bapak ke JK sebenarnya bukan ucapan selamat JK kepada Bapak, tetapi Bapak mengabari JK atas kemenangan ini, tentu JK sebagai wapres Bapak jadi tidak sopan kalau tidak mengucapkan selamat, moment pribadi ini Bapak manfaatkan dengan diliput oleh wartawan media sehingga media memberitakan dengan judul, “JK mengucapkan selamat kepada SBY melalui telpon,” Apa arti semua moment ini, ya semoga saja Bu Mega tidak semakin luka mengalami kekalahan.

Salahkah jurus pamungkas incumbent ini ???, silahkan teman-teman blogger menanggapinya, kalau saya terserah anda mau komentar bak ragunan atau bak putri ayu atau bak wong ora waras, silahkan, don’t worry be happy !!! Termasuk mau identitas jelas atau bak hantu (Gak Jelas) saya akan tetap bahagia menerimanya, bagaimanapun tanggapan itu saya tetap berterima kasih kepada kawan-kawan karena sudah berkenan membaca postingan ini. Yang jelas jurus incumbent ini tidak dapat dijerat oleh hukum pidana dan perdata, itulah enaknya jadi incumbent, rencana pertarungan sudah bisa didesign 4 tahun yang lalu, Bu Mega juga melakukan itu tapi bukan incumbent.

Karena seorang Obama pun jika menjadi rival incumbent juga akan tersungkur kalah. wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia
Postingan ini juga dapat dibaca di sini : https://ichwankalimasada.wordpress.com/

Iklan
Posted in: Event Pilpres