Politik Rasis Di Tubuh Partai Demokrat, Ada Apa Gerangan ?

Posted on 2 Juli 2009

3


Belum lama berselang dan masih sering terngiang di telinga Rohut Sitompul Kader Kutu Loncat dari Partai Golkar ke Partai Demokrat melontarkan pelecehan ras terhadap Fuad Bawasir, melecehkan asal suku Pak Fuad bahwa Arab tidak pernah membantu Indonesia. Rohut Sitompul adalah Tim Sukses Bayonet SBY. Pengacara papan atas dan artis sinetron yang cukup terkenal.

Baru berselang satu hari dan masih bising di telinga, Rizal Mallarangeng melontarkan dan memblowup issu agama Bu Hera dan meminta JK meminta maaf kepada SBY Boediono dan kepada seluruh bangsa ini karena JK terlibat melakukan kampanye hitam/gelap kasus ‘selebaran gelap’ di kota Medan. Rizal Mallarangeng juga kutu loncat dari Tim Sukses PDIP nyebrang loncat pagar ke kubu PD SBY, menjadi Tim Sukses SBY dengan Tim The Fox. Rizal Mallarangeng berpendidikan Ph.D Komunikasi politik dari Universitas Ohio AS.

Belum adem kuping ini mendengar dua orang politisi PD itu memainkan politik rasis, tanggal satu Juli kemarin kembali Andi Alifian Mallarangeng melontarkan issu yang sama. Bahwa orang Bugis belum saatnya menjadi presiden pada Pilpres ini. Alfian juga adalah kutu loncat dari partai PDK nyebrang pagar ke PD. Tindakan Alifian ini yang paling aneh mengingat posisinya sebagai Jubir Presiden. Alifian adalah Ph.D Sosiologi politik Universitas Illonios AS. Uda cuti belom sih..si Alfian ini nyasar kampanye ke Makasar ?

Ketiga orang tersebut di atas adalah generasi baru pasca angkatan 66, cerdas, berpendidikan tinggi dan celebrity. Namun nampaknya mereka tidak memiliki kecerdasan emosional apalagi kecerdasan spritual, sehingga latah dan kebablasan memainkan politik rasis. Ada apakah gerangan ???

Silahkan kawan-kawan blogger menilainya sendiri ya.

Apakah karena SBY didukung oleh tangan-tangan halus kekuatan AS di dalam Pilpres ini, karena SBY sudah menganggap AS sebagai tanah kelahirannya yang kedua ?

Apakah karena Boediono di dukung Bank Dunia dan IMF sebagai mantan perwakilan IMF di Indonesia ?

Atau apakah mereka terbuai dengan dana kampanye Tajir dan bejibun yang mereka miliki ?

Sehingga ketiga politisi muda PD yang cerdas IQnya itu terlalu pede dan sombong melakukan gerakan Gestapu (Gerakan Satu Putaran) Pilpres.

Saya jadi teringat Gestapu PKI di jaman Orla yang memaksakan diri menguasai pemerintahan.

Silahkan kawan-kawan blogger menilainya sendiri ya.

Jawabnya bagi saya sederhana saja, jika sebelumnya saya telah menulis klik di sini http://public.kompasiana.com/2009/06/24/sby-mengidap-post-power-syndrome-alif-11/ bahwa SBY sudah mulai dijangkiti Post Power Syndrome (PPS), karena sudah kebayang akan kalah di putaran kedua, ketiga orang muda PD tersebut juga sudah mengalami hal yang sama. Perlu diketahui bahwa pengidap PPS bukan saja terjadi pada saat tidak berkuasa lagi, tetapi mulai terjadi saat merasakan atau menjelang kekuasaannya akan berakhir.

Slogan “Lanjutkan” sebenarnya sama dengan slogan makna gestapu PKI di jaman Orla yang juga memainkan politik rasis, bedanya PKI dengan jalan kekerasan fisik, sementara ketiga orang ini memainkan politik rasis sebagai teror psikologis, teror politik dalam ranah psikologi sosial adalah pribadi-pribadi yang tidak utuh, terbelah, antara motivasi idealisme dan ambisi kekuasaan.

Slogan “Lanjutkan” adalah pertanda kuat Tim Biru ini nyata-nyata sudah pada mengidap PPS. Wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia

Iklan
Ditandai:
Posted in: EsBeYe