Mitos Presiden Jawa, Bahaya Laten Solidnya NKRI

Posted on 2 Juli 2009

3


Mitos Presiden Jawa, Bahaya Laten Solidnya NKRI
Oleh ichwan kalimasada – 2 Juli 2009 – Dibaca 857 Kali –

Peta NKRI

Peta NKRI


Sebelumnya salam jumpa kawan-kawan blogger, beberapa hari ini saya super sibuk dalam “mencari sesuap nasi” bagi keluarga, sehingga belum sempat memposting tulisan di blog Rumah sehat ini. Beberapa teman sampai mengirim SMS dan pesan di email saya, kemana saya pergi koq gak nongol di Kompasiana ini, malah ada yang nanya mungkin saya terlibat di drama “Selebaran Bu Hera Katolik” di Kota Medan.

Lha wong negeri ini lucu juga, mengatakan orang katolik seperti tertuduh “PKI”, kan intinya jelas kalau masalah ini gak berlarut-larut menjadi issu fitnah, Rizal Mallarangeng si Mulut “Comberan” itu kan bisa mengadakan konfrensi pers dengan menghadirkan Boediono dan Bu Hera untuk mengklarifikasi hal tersebut. Kenapa gak dilakukan, tentu hal ini merisaukan kita semua, karena saudara kita sebangsa dan setanah air tidak bangga dengan agama yang dianutnya, malahan dipolitisir dan ditinggalkan demi motivasi kekuasaan.

Apa salahnya hidup beragama Katolik, sejak di kelas 3 SMP saya menamatkan membaca kitab Injil Perjanjian Lama dan Injil Perjanjian Baru. Sebagai Muslim saya malah menamatkan Quran saat duduk di kelas 3 SMA. Saat itu saya tertarik membacanya, karena diperpustakaan sekolah saya dijumpai banyak kitab Injil, kitab Quran malah gak ada, padahal di sekolah saya itu mayoritas Muslim.

Saya malah menemukan, bahwa untuk memahami makna Quran, kita harus memahami isi kitab Injil demikian pula sebaliknya. Kesimpulan ini membawa saya dalam perjalanan pulang “mencari kebenaran hakiki” bahwa semua agama membawa misi kebenaran sosial yang sama. Islam mengatakan “Hiduplah dengan Istiqomah dan tawaddu”, lalu apa bedanya Injil berkata, “Damailah dalam kerajaan Tuhan”.

Quran berkata,”Sampaikanlah kebenaran itu walau satu ayat”, lalu apa bedanya Injil berkata, “Tebarkan kasih Kristus kepada umat manusia”.

Dengan demikian dalam dunia nyata, hati dan pikiran kita semua agama itu benar, perbedaannya hanya terdapat di dalam rasa dan batin kita. Perbedaan ini bukan untuk konsumsi publik, karena kebenaran yang kita dapatkan di dalam ‘rasa’ dan “batin’ terhadap suatu agama yang dianut tidak bisa dibahasakan dengan kata. Jika ada yang mempertentangkan di dunia riil, sungguh hal itu digunakan untuk motivasi kekuasaan.

Pertentangan Bu Hera itu katolik tidak perlu terjadi, jika sekiranya baik Boediono atau Tim Sukses SBY melakukan klarifikasi lebih awal atau menggunakan hak jawabnya di Tabloid Monitor Indonesia. Karena hal ini tidak dilakukan, sebenarnya Tim Sukses SBY melakukan ‘pembiaran’ atas konflik SARA ini dan ini sangat disayangkan, malahan Rizal Mallarangeng melemparkan issu SARA baru, kalau orang Bugis belum layak jadi presiden. sangat jelas bahwa Rizal Mallarangeng menjadi otak intelentual dari ke dua issu SARA ini, memcoba memancing di air keruh, mencari kesempatan dalam kesempitan, menuai kemenangan di atas penderitaan orang lain.

Pada tanggal 2/6/09 pasca terbitnya pemberitaan Tabloid Monitor kalao Bu Hera Katolik, saya melakukan pengecekan dibeberapa teman saya di Jatim, hasilnya benar, malahan ditambahi info kalau selama ini Boediono dekat dengan para pemuka Katolik, bukan itu saja, malahan info itu juga mengatakan kalau dua orang anak Boediono beragama Hindu ?. Hal terakhir ini saya belum melakukan pengecekan.

Jika Quran berkata,”Kita diciptakan berbeda-beda dengan pola budaya yang berbeda-beda, agar kita bisa saling kenal mengenal”, dalam konteks ayat ini adalah wajar dan lumrah kita juga hidup di dunia selain berbeda dalam berbangsa dan bernegara, beda pola budaya, tentunya juga beda dalam menganut agama.

Lalu apa masalahnya kalau Bu Hera Katolik ?, sekali lagi yang jadi persoalan karena tidak adanya kejelasan resmi atas persoalan ini dari pihak Boediono sendiri, membiarkan bangsa ini berpolemik sehingga bisa berdampak SARA. Ada apakah dengan Cinta ? (cinta=Tuhan).

Saya selalu mengkritisi para pemuka agama kita, kalau saja para pemuka agama kita itu benar dalam misi kebenaran agamanya, belum tentu bangsa ini bisa seburuk ini, selalu menempati negera terkorup. jujur saja umumnya para pemuka agama kita juga telah terkooptasi oleh motivasi kekuasaan atau duniawi.

Kembali ke judul tulisan, tulisan JK “Presiden Jawa” sudah sejak lama saya akan menulisnya di blog ini, eh keduluan sama JK, wajarlah beliau figur cerdas dengan semangatnya lebih cepat lebih baik.

Sejak SMA saya merasakan “keburukan” mitos “Primordialisme Jawa”, dulu di jaman orba setiap calon Bupati apatah Gubernur, semua harus melalui persetujuan Presiden Soeharto. Lalu hati saya bertanya, “kenapa wong java bisa menjadi bupati/walikota atau gubernur di luar Pulau Jawa, sedangkan orang luar Jawa tidak bisa menjadi gubernur di pulau Jawa ?” Saya sampai berangan-angan kenapa hal ini tidak dipertukarkan di dalam pengelolaan peran, sehingga nasionalisme bangsa ini lebih kuat sehingga “mitos Jawa” sudah tumbang sejak dulu. Mitos ini akhirnya menuai badai, gerakan GAM, malah menganggap wong Java sebagai “penjajah” mereka. Juga menuai badai RMS di Ambon dan gerakan papua Merdeka di Irian Jaya.

Pasca saya mengikuti Kopdar Kompasiana di JHCC, saya menyempatkan berkeliling di beberapa tempat di Jakarta, berbincang dengan masyarakat level bawah, pendidikan di bawah SLTA/tidak tamat SD dan berumur anatara 25 – 60 tahun dan bekerja di sektor informal. Dari 20 responden yang saya temui dengan metode kenalan dan ngobrol santai lalu saya giring soal pilihan di Pilpres nanti. Terdapat 9 orang memilih SBY dengan alasan, presiden harus “orang Jawa” dan tiga lainnya karena alasan BLT, lima orang memilih Mega karena faktor Prabowo dan Mega sebagai anak soekarno, dan 3 orang memilih JK karena dianggap mereka puas pada program konversi minyak tanah ke Gas di dalam rumah tangga. Hal ini terjadi di kota Metropolis Jakarta, tentu mitos jawa ini semakin kental di pelosok jawa dan pada perantau jawa di luar pulau jawa.

Lalu tiga orang responden memilih SBY karena Mitos Presiden Jawa saya giring untuk berdiskusi dengan menawarkan kopi dan rokok di warung menjelaskan kehandalan JK di dalam keberhasilan SBY (dalam konteks mereka), kesimpulan diakhir perbincangan mereka kemudian memilih JK, malahan siap menjadi relawan pemenangan JK, ketiga orang ini ternyata berasal dari Jateng. Karena mereka meminta, maka saya pun memberi kontak dan alamat posko relawan yang bisa mereka hubungi.

Saya pun teringat pada tahun 2005 ba’da Jumat di Masjid Islamic center, dimana JK sebagai Ketua pengurus harian masjid, saya ikut nimbrung berdialog antara JK dengan sesama pengurus masjid, kenapa JK mundur dari konvensi Golkar 2004 dalam penjaringan Capres Golkar yang ditanyakan seorang pengurus, dengan sedikit nada rendah JK berkata, “masih sangat sulit bangsa ini menerima presiden non Jawa”. Lalu saya pun teringat lagi kalau dari sejak usia SMA sampai tahun 2005 saya sudah tamat kuliah, mitos ini masih sangat kental.

Saya kuliah di UNHAS Makasar, dari tahun 1987-1993, saya aktiv dalam kelompok studi Pionir, di dalam kelompok studi ini hampir semua teman-teman studi berasal dari suku lain, Batak, Jawa, Sunda, Padang, dan Betawi. kelompok ini cukup populer di kampus.

Pada tahun 1994 – 1997 saya bekerja di beberapa tempat di Jakarta, dan masa ini saya merasakan amat sangat “primordialisme suku” sangat kental terutama dilingkungan komunitas jawa.

Akhir kata, saya posting kembali komentar saya di tulisan “Komentar : Presiden Jawa” sebagai berikut :

Terlepas suka dan tidak suka terhadap JK, saat ini posisinya masih sebagai Wapres, artinya masih sebagai simbol negara kita milik kita semua, tentu kita tidak tega kalau muncul komentar dlm bentuk caci dan makian di blog pribadi JK.

Blog juga adalah catatan harian elektronik baik buat JK maupun kita semua, tentu hal ini adalah wilayah privacy, adanya mederati atau tdk adalah hak sepenuhnya kepada si pemilik blog.

Menumbangnkan mitos Presiden Jawa itu sgt urgent bagi bangsa ini, tetapi bukan berarti kita membenci orang jawa, bahwa saudara2 kita masih ada yang berpikiran seperti ini, itu benar jua adanya. Hilangnya mitos ini juga merupakan perlindungan kepada saudara kita dari wong java agar jangan ada diskriminasi. Mitos ini juga bisa membawa kebijakan pembangunan hanya berpusat di Pulau jawa yang sudah super padat.

Jika mas melihatnya dlm kerangka positif tulisan JK ini mempunyai makna yg dalam bagi keadilan dan kemajuan bangsa ini, jika mas melihatnya dalam konteks negatif artinya kita bergerak mengulangi konflik Aceh, Poso dan Ambon untuk kembali dengan versi yg baru .

Salam Kompasiana Indonesia
Salam kangen buat kawan-kawan blogger yang telah mengenal saya.

Tags: kalimasada

Tulisan ini berupa tanggapan atas tulisan JK di bawah ini :
http://jusufkalla.kompasiana.com/2009/07/02/presiden-jawa/
http://public.kompasiana.com/2009/07/02/komentar-presiden-jawa/

Ditandai:
Posted in: Budaya