M Jusuf Kalla Pengusaha yang Dididik Jadi Pemimpin Realistis

Posted on 25 Juni 2009

4


M Jusuf Kalla
Pengusaha yang Dididik Jadi Pemimpin Realistis
oleh; Bagus Takwin dan Niniek L. Karim

IMG_0092

“Saya memang oportunis… orang yang suka memanfaatkan setiap peluang yang ada. Saya berangkat dari dunia usaha yang selalu harus memanfaatkan peluang. Tapi, tolong hal itu dilihat dari sudut pandang yang positif.”

Begitu Jusuf Kalla, pria kelahiran Watampone, 15 Mei 1942, menanggapi pertanyaan Tempo (2 Mei 2004) tentang kemungkinan tuduhan oportunis terhadapnya. Berlatar belakang keluarga pengusaha, ia memang terlatih mencari dan memanfaatkan kesempatan sejak kecil lewat didikan ayahnya dan dalam dunia usaha hal itu memang dinilai positif, bahkan dalam literatur bisnis dan psikologi populer sifat itu sering disebut sebagai salah satu kunci kesuksesan.

Kesuksesan Jusuf Kalla dalam bisnis menunjukkan ia memang pandai memanfaatkan kesempatan. Berbagai jenis bisnis telah dijalankan dan ia dikenal sebagai pengusaha kaya yang banyak meraup keuntungan dari kerja kerasnya.

Kini Jusuf Kalla terjun lebih dalam ke dunia politik sebagai calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Dunia politik bukan hal baru bagi Jusuf, sebab sejak kecil ia sudah terbiasa bersinggungan dengannya lewat ayah yang aktivis Nahdlatul Ulama. Di masa kuliah, Jusuf pun terlibat aktif dalam organisasi pemuda yang terkait dengan aktivitas politik dan setelah lulus perguruan tinggi ia bergabung dengan Golkar yang kemudian membawanya menjadi anggota MPR dan menduduki kursi menteri. Dengan pencalonannya sebagai cawapres, kini ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk kehidupan berkampanye, tak segan mengeluarkan banyak biaya untuk menunjang pencalonan diri dan pasangannya tersebut.

Ambisi Jusuf Kalla untuk menjadi salah satu dari pimpinan tertinggi lembaga eksekutif Indonesia bisa dilacak asalnya dari pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga. Sejak Jusuf Kalla masih kecil, ayahnya menanamkan bahwa anak lelaki pertama dalam keluarga itu harus menjadi pemimpin. Sebuah peristiwa diceritakan ibunya tentang penanaman ambisi menjadi pemimpin yang terus dikobarkan ayah dalam diri Jusuf Kalla. Ketika masih di sekolah dasar, Jusuf Kalla pernah bekerja paruh waktu menjadi penjaga di tempat penitipan sekolah. Mengetahui kegiatan anaknya, sang ayah pun marah, lalu menjemput ke tempat ia kerja, menyuruhnya pulang sambil mengatakan, “Saya membesarkan kamu bukan untuk jadi pesuruh, tapi untuk jadi pemimpin.”

Kejadian yang selalu diingat Jusuf Kalla itu menjadi salah satu pengalaman yang berperan dalam pembentukannya sebagai pemimpin di kemudian hari. Sebagai anak laki-laki tertua, ia memang diharapkan akan menjadi penerus memimpin usaha keluarga. Tuntutan-tuntutan ayah terinternalisasi dalam kepribadian Jusuf, berkembang menjadi ego ideal yang selalu mengingatkannya untuk terus berusaha menjadi pemimpin dengan segala kualitas terbaik. Ego ideal sebagai pemimpin memberi semacam energi yang menggerakkannya di dunia politik. Kenyataan bahwa awalnya ia lebih banyak berkiprah di bidang bisnis tak lepas juga dari sang ayah yang pengusaha. Ia melakukan identifikasi, mencontoh tindakan-tindakan ayah dalam menghadapi berbagai tuntutan dan masalah di dalam dan di luar diri.

Nilai-nilai yang perlu dipegang seorang pengusaha, keuletan, kemampuan melihat celah-celah kesempatan dan memanfaatkannya, sifat realistis menghadapi kenyataan, berpikir taktis menggunakan prinsip ekonomi, kesederhanaan, serta kemampuan manajemen ayah dalam usaha mencapai kemajuan, juga diinternalisasi ke dalam dirinya. Ditambah dengan figur ibu yang juga selalu memberi penguatan pentingnya peran ayah dan perlunya Jusuf mencontoh jejak ayahnya. Perpaduan pola pengasuhan yang ditampilkan ibu dan ayahnya menguatkan karakter pengusaha “ala” ayah dalam diri yang kemudian mengarahkannya menjadi pengusaha seperti sekarang.

Keikutsertaan Jusuf dalam pemilu presiden sebagai cawapres digerakkan oleh perpaduan tuntutan menjadi pemimpin dan nilai-nilai sebagai pengusaha. Ia yang cenderung ingin memberikan pengaruh dan perbaikan bagi orang banyak-yang umumnya dimiliki seorang pemimpin, dipadukan dengan dorongan mendapat hasil yang baik dan menguntungkan-yang umumnya ada pada diri pengusaha.

Dengan menduduki jabatan yang tinggi dalam negara, ia merasa dua dorongan itu dapat dipenuhi lebih maksimal seperti yang dikatakannya, “Saya memang berharap dapat duduk di pemerintahan. Saya ingin menyelenggarakan negara dan membangun pemerintahan yang kuat. Bila menjadi wakil presiden, saya berharap dapat berfungsi sesuai dengan kemampuan saya,” (Tempo, 2 Mei 2004). Itulah sebabnya ketika ada kesempatan untuk memperoleh peran tersebut, ia dengan cepat menyambut. Menurut dia, hal itu ia lakukan karena ia memang suka memanfaatkan kesempatan. Katanya, “Dalam konteks pencalonan sebagai wakil presiden, saya oportunis karena ingin memberikan sumbangsih untuk negara. Itu bisa diwujudkan bila saya ada di dalam pemerintahan,” (Tempo, 2 Mei 2004). Jadilah sekarang Jusuf sebagai cawapres yang berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

Aspek kognitif

Analisis kualitatif dan isi dari wawancara dan reportase media massa dikombinasikan dengan observasi terhadap rekaman audio-visual serta penggalian persepsi sosial (N = 283) menunjukkan ada beberapa indikasi sifat pada Jusuf Kalla. Indikasi-indikasi sifat menjunjung tinggi kehormatan, menilai tinggi moralitas yang diyakini, mengandalkan ilmu pengetahuan, bisa akrab dengan berbagai orang, tidak mudah larut secara emosional dalam suatu masalah. Percaya bahwa manusia setara dan dapat hidup damai bersama. Indikasi lain yang lebih menonjol padanya, cukup terbuka pada ide baru, disiplin ketat, memanfaatkan waktu seefisien mungkin, menilai tinggi ketangkasan, dan kemauan untuk membaur serta bekerja sama.

Memang, salah satu fungsi dari indikasi-indikasi tersebut pada Jusuf adalah demi mencapai keuntungan yang lebih besar. Dengan sifat-sifat ini pula ia cenderung berpolitik, dengan gaya pengusaha, cukup terbuka pada ide baru, disiplin, memanfaatkan waktu secara efisien, realistis mempertimbangkan untung-rugi, dan mau berdialog dengan pihak yang dianggap penting, mau berkoalisi. Ia juga cocok berperan sebagai penengah bagi pihak-pihak yang berkonflik.

Jusuf Kalla cenderung menganggap kehidupan politik lebih sebagai harmoni daripada konflik. Ia menyadari banyak konflik di dunia, tetapi pada dasarnya manusia menginginkan harmoni dan konflik itu dapat diatasi dengan mempertemukan pihak-pihak yang terlibat untuk saling memahami satu sama lain. Kesetaraan dan kebutuhan manusia hidup damai akan menggerakkan mereka untuk menemukan titik temu dari berbagai kepentingan sehingga dapat hidup bersama dalam harmoni dengan lebih sejahtera. Konflik yang ada biasanya lebih didasari oleh ketidakpahaman satu sama lain, tetapi jika tidak segera diantisipasi dan ditangani akan bisa berlarut-larut.

Keterbukaan Jusuf terhadap ide-ide baru dan kemampuannya berbaur dengan banyak orang memberi pengaruh yang besar terhadap kompleksitas pikirannya. Ia memiliki kemampuan untuk mencari, melihat berbagai terobosan sudut pandang dan dimensi dari suatu permasalahan, untuk kemudian digunakan dalam menyelesaikannya. Kemampuan berpikir komprehensif yang terlatih sejak masih kecil mengarahkannya untuk mengambil keputusan secara cepat dan menemukan solusi konkret yang realistis. Pola penalaran sistematik sering digunakannya dalam menentukan tindakan bisnis maupun politik. Kemampuannya melihat dan memanfaatkan kesempatan merupakan buah dari kompleksitas pikiran dan kemampuan berpikir komprehensifnya.

Motif sosial

Dari ketiga kebutuhan sosial manusia, kebutuhan berprestasi terlihat paling menonjol pada diri Jusuf, kecenderungan ingin mendapatkan hasil terbaik dari usahanya. Kemajuan dari hasil usaha baginya penting, dan setiap tindakan diarahkan untuk mencapai yang terbaik. Kebutuhan ini membawa Jusuf pada keputusan-keputusan realistis dan berorientasi pada solusi konkret yang langsung memberi pengaruh kepada perbaikan hasil. Untuk itu, ia cenderung akan mengambil risiko moderat dan menghindari tujuan-tujuan muluk yang dianggapnya tidak sesuai dengan kapasitasnya. Di sisi lain, ia pun tak mau mengambil tindakan untuk pencapaian tujuan yang berisiko terlalu kecil. Orang dengan kebutuhan prestasi membutuhkan tantangan dan cenderung turun kinerjanya jika berhadapan dengan tugas-tugas yang terlalu gampang.

Kebutuhan kekuasaan dan afiliasi juga cukup menonjol meski tidak sedominan kebutuhan berprestasi yang dimilikinya. Jusuf juga cenderung ingin memiliki pengaruh terhadap orang lain, yang merupakan salah satu ciri kebutuhan kekuasaan. Itu sebabnya ia sering menjadikan dirinya tempat orang bertanya dan minta bantuan. Di keluarga, sejak muda Jusuf selalu dijadikan tempat berkeluh kesah saudara-saudaranya. Keinginannya untuk berpengaruh juga terlihat dari perilakunya sebagai pemimpin di perusahaan maupun sebagai menteri. Ia menampilkan diri untuk menjadi contoh bagi bawahan-bawahannya.

Dipadukan dengan kebutuhan afiliasi, kebutuhan kekuasaan pada diri Jusuf banyak dipenuhi dengan kegiatan menjadi penengah pihak yang berkonflik dan ia cenderung akan berusaha menjadi orang yang memiliki solusi bagi masalah-masalah di waktu kritis. Jusuf yang sejak kecil diasah sifat-sifat kepemimpinan oleh ayahnya, berkembang menjadi orang yang berusaha siap diandalkan dalam lingkungannya, termasuk untuk masalah sosial dan kesejahteraan. Begitu pula ia cenderung menampilkan sikap kebapakan terhadap keluarga dan para bawahannya.

Kepribadian

Jusuf adalah tipe pemimpin realistis yang selalu berusaha mendapatkan hasil konkret dari kegiatannya. Ia akan berusaha untuk mendapatkan hasil lebih baik dari sebelumnya. Latar belakang sebagai pengusaha membiasakannya untuk dapat memanfaatkan berbagai ide dan penemuan teknologi baru. Ia terbuka terhadap masukan dari luar dirinya dan mampu melakukan dialog yang efektif dengan banyak pihak. Dalam dunia politik, kualitas-kualitas itu juga cenderung digunakannya. Ia mengandalkan berbagai macam cara untuk mendapat keuntungan. Kemampuannya mengambil untung dari kesalahan orang lain menjadi kekuatannya untuk memenangi persaingan, termasuk dalam politik.

Baginya, “Berpolitik itu seperti bermain pingpong. Poin akan kita dapatkan akibat kesalahan lawan. Sekarang rakyat tengah menimbang-nimbang semua calon presiden/wapres. Di masyarakat kini beredar informasi tentang kelemahan saingan kita. Akibatnya, suara bisa lari ke kami,” (Tempo, 2 Mei 2004). Secara positif kita dapat melihat nilai lebih dari kecenderungannya mengambil keuntungan dari kesalahan atau keburukan orang lain. Namun, secara negatif kita juga bisa melihatnya sebagai kelemahan atau keburukan jika digunakan secara sengaja untuk menjelekkan atau menunjukkan kekurangan para pesaingnya hanya agar ia dapat mengambil keuntungan dari sana.

Sebagai pemimpin, Jusuf berusaha membawa orang untuk mencapai kemajuan dari waktu ke waktu. Orientasi usaha yang mementingkan hasil konkret dan keuntungan nyata walaupun kecil. Jika ia bersanding dengan partner yang cukup visional dan memiliki pandangan ideal, perpaduan itu akan bisa menghasilkan kepemimpinan yang dinamis, efisien, dan berhasil membawa rakyatnya kepada pencapaian tujuan.

Karier sebagai pengusaha dan karakteristik kepribadian yang ditanamkan dalam diri sejak kecil menjadikannya berpotensi untuk menjadi pemimpin negara yang realistis dan bisa membawa efek kemajuan walaupun mungkin tidak secara progresif. *

Sumber;
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0406/24/Sosok/1105415.htm

Iklan
Ditandai:
Posted in: Jusuf Kalla