Tifatul Sembiring Pembohong Besar

Posted on 22 Juni 2009

20


PADANG, KOMPAS.com — Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring menegaskan bahwa Ibu Herawati yang merupakan istri calon wakil presiden Boediono adalah benar-benar seorang muslimah karena dia pernah belajar mengaji kepada seorang kader PKS di Jakarta.

“Ibu Herawati pernah belajar membaca Al Quran kepada seorang kader PKS di Jalan Rasamala di dekat kawasan Bidakara, Jakarta,” kata Tifatul kepada pers di Padang, Minggu (21/6) malam seusai menghadiri kampanye politik calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono di ibu kota Provinsi Sumatera Barat tersebut.

Tifatul mengatakan, ketika acara pernikahan Boediono dengan Herawati, mertuanya hadir pada acara yang sangat penting itu. Bahkan, kata Tifatul yang berdarah Sumbar itu, Boediono merupakan orang Muhammadiyah karena bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang dikelola organisasi Islam itu.

Kutipan di atas saya ambil dari pemberitaan kompas.com Indonesia Memilih dengan judul “Tifatul: Istri Boediono Belajar Mengaji kepada Kader PKS”, Minggu, 21 Juni 2009 | 23:48 WIB.

Atas pernyataan Ketua Umum PKS Tifatul Sembiring di atas, ada beberapa alasan sehingga saya perlu memposting tulisan ini sesuai judul diatas, Tifatul Pembohong Besar.
1. Secara logis pernyataan Tifatul bahwa Bu Hera belajar mengaji pada kader PKS, itu berarti belum lama terjadi karena PKS baru ada di Pemilu 2004 atau paling banter di Pemilu 1999 dengan nama Partai Keadilan. Dengan demikian Bu Hera belum dapat dikatagorikan muslimah tetapi berstatus muallaf. Artinya memang benar Bu Hera dulunya Katolik, alhamdulillah sekarang sudah masuk Islam.

2. Pernyataan kalau isteri Boediono Bu Hera beragama Katolik berasal mula dari pemberitaan di Tabloid INDONESIA MONITOR Edisi “MEMBONGKAR KEDOK BOEDIONO”, Terbit Selasa, 2 Juni 2009. Isi pemberitaan ini memuat dua saksi atau pendapat yaitu Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) Habib Husein Al-Habsyi dan Prof Suparman Direktur Pascasarjana Universitas Tarumanegara. Nah, anda percaya yang mana antara ke dua tokoh tersebut atau kepada Tifatul Sembiring ?

3. Berdasarkan hasil pengecekan seorang teman di Jatim satu bulan yang lalu (namanya tidak ingin di sebut), mengungkapkan kebenaran bahwa Bu Hera memang beragama Katolik. Selain itu pula teman saya itu menjelaskan kedekatan Boediono dengan pemuka-pemuka Agama Katolik sebagai akses Boediono dengan pihak luar. Selain itu pula Boediono nyaris tidak pernah bergaul dengan kalangan Muhammadiyah dan alasan Tifatul mengatakan Boediono Muhammadiyah karena pernah bersekolah di SD dan SMP Muhammadiyah adalah alasan yang dicari-cari alias asbun. Apakah karena tetangga saya misalnya yang Muslim tetapi bersekolah di SLTA Frater (sekolah yayasan Katolik) itu berarti dia beragama Katolik. Jelas ini kebohongan besar kedua Tifatul Sembiring.

Sepertinya PKS saat ini dalam kondisi kritis karena sebagaian besar massanya berbelok ke kontestan capres lainnya, sehingga Tifatul rela berbohong untuk membela Bodiono. Pada suatu kesempatan saat di Jakarta saya mengunjungi sebuah posko relawan pendukung JK-Wiranto dibilangan pasar minggu, dari obrolan kami, salah satu relawan mengaku kalau dulunya pendukung dan pemilih PKS, mereka berbelok karena tidak setuju dengan Boediono, malahan mereka mengaku adalah kelompok yang memasang spanduk 2 wanita berjilbab di depan Kantor PKS.

Akan halnya penolakan PKS terhadap Boediono sebagai neolib, sebenarnya pertama kali dilontarkan sendiri oleh Tifatul Sembiring, tetapi entah kenapa pada saat menjelang deklarasi SBY di Bandung Tifatul juga orang pertama yang menjilat ludahnya sendiri. isu politisasi Jilbab juga pertama kali dilakukan oleh politisi PKS, tetapi Tifatul sendiri menyanggahnya sebagai suatu persoalan hanya selembar kain saja.

Sebenarnya apa sih persoalannya kalau Bu Hera Katolik, toh tidak akan membatalkan Boediono sebagai cawapres SBY dan kenapa pula Tifatul Sembiring sok sibuk dan sok paten (kata orang Medan) yang perlu menjelaskan soal ini di Sumbar, bukankah Boediono dan Bu Hera juga punya mulut yang tidak bisu untuk menjelaskan hal tersebut.

Jika pemberitaan di tabloid Indonesia Monitor itu tidak benar, saya kira The Fox tidak akan tinggal diam untuk menepis isu Bu Hera yang beragama Katolik. Lha wong isu SBY tidak mau mengunjungi suatu daerah saja, malah diklarifikasi SBY di Kota Medan. Wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia

Iklan
Posted in: Pilpres 2009