HANYA JUSUF KALLA, TIDAK ADA SBY DAN MEGA DALAM PERDAMAIAN ITU !

Posted on 15 Juni 2009

0


Ketika menyaksikan berita pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden di KPU Pusat, seorang pemuda eks korban kerusuhan Poso bertanya kepada saya: “Bang ! Abang dulu salah satu Deklarator Malino untuk Poso…, apakah waktu itu ada SBY dan Megawati ?” Saya jawab: “Tidak !” Ketika itu, pertanyaan itu saya anggap sepele, tetapi kemudian pertanyaan itu kembali menggelegar di sanubari. Pertanyaan itu menjadi penting dan teramat penting.

Jusuf Kalla (JK), ahli ekonomi, alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Hasanudin Makasar (1967) dan The European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis (1977), figur yang sangat penting dalam berbagai proses rekonsiliasi di Negara ini. Benar, perdamaian tumbuh dari kesadaran rakyat yang bertikai dan kerjasama semua pihak. Tetapi, fakta menyatakan bahwa JK adalah pemrakarsa dan pelaksana konkrit dalam proses perdamaian Poso dan Maluku di Malino, bahkan proses perdamaian Aceh di Helsinki. Bukan hanya itu, termasuk inisiatif menjalin komunikasi damai. Ironis, seorang Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono, selama sekitar 5 (lima) tahun, hanya dua kali bertemu dan berjabatan tangan dengan Megawati, Mantan Presiden RI, yaitu pada saat pendaftaran Calon Presiden RI di KPU pada tahun 2004 dan tahun 2009. Tetapi JK, berulangkali bertemu, bahkan mengunjungi Megawati. Tanpa berpretensi mengabaikan kepentingan politik, inisiatif JK itu harus diteladani !

Hal itu mengingatkan kembali beberapa momen dalam konteks Kerusuhan Poso. Saya termasuk salah seorang yang selalu berbicara sangat keras di hadapan JK. Tetapi JK merespons dengan solusi, bukan dendam! Bahkan ketika saya selesai menjalani vonis 3 (tiga) tahun penjara akibat kerusuhan Poso, JK menerima saya di Kantor Wapres RI di Jakarta pada tanggal 3 Desember 2004. Dengan tersenyum JK bertanya tentang kesehatan saya, berbicara tentang hal-hal yang perlu dikerjakan bersama, penanganan korban kerusuhan, merawat rekonsiliasi, penegakan hukum, upaya pencegahan dan pengungkapan korupsi, perjuangan penegakan HAM, hubungan antar umat beragama dll. Bahkan, JK mengajak berfoto berdua.

Mungkin saja ada yang berasumsi, bahwa artikel ini “bisnis”. Maaf, saya tidak pernah menerima dana atau fasilitas apapun dari JK. Mungkin pula ada yang beranggapan bahwa artikel ini sektarian, karena Isteri JK, Ibu Mufidah Jusuf, lahir di Sibolga, Sumatera Utara, dan saya juga kelahiran Sumatera Utara. Itu bukan substansi !

Ternyata dalam proses perdamaian Aceh, Ibu Mufidah Jusuf ada di balik layar pedamaian Aceh (kompas.com). JK menyatakan: “Saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak ada anggarannya dari Negara. Isteri saya untuk sementara menjadi bendahara, karena biaya perdamaian itu diambil dari kocek pribadi saya.” Ungkapan itu terkesan “menghitung-hitung jasa”. Tetapi ternyata tidak demikian, JK sangat percaya bahwa Allah yang berperan dalam proses perdamaian itu. Ketika Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia, mendapat sandungan dalam perannya sebagai fasilitator perundingan Aceh di Helsinki, ia meminta pertimbangan Jusuf Kalla.

Komunikasi Jusuf Kalla dengan delegasi GAM dan fasilitator, Ahtisaari berhasil menenangkan suasana di Helsinki. Jusuf Kalla mampu mengendalikan riak-riak perdebatan di perundingan itu melalui telepon genggam. JK menuturkan: “Saya kebetulan malam itu hanya berdua dengan isteri saya. Seorang Kyai menelepon saya, dia mengatakan: ‘saya tahu Pak Jusuf lagi kesulitan, ada baiknya baca Yassin 10 kali, Insya Allah selesai persoalan.’ Saran itu saya jalankan, berhubung karena membaca Yassin itu memakan waktu yang lama, bisa 2 jam, jadi saya minta isteri saya untuk membantu, dia baca 5 kali dan saya jug abaca 5 kali, jadi 10 kali. Selesai membaca Yassin, langsung ada telepon dari Helsinki, yang menyatakan bahwa perundingan bisa dilanjutkan dan selesai”.

JK menempatkan pemahaman religiusnya pada posisi dan kondisi yang tepat. Mengenai Syariat Islam, JK juga menegaskan perlunya Syariat Islam. Ketika dipertanyakan tentang bagaimana persisnya ide Syariat Islam itu, JK menjawab: “Yang saya maksud, sebagai umat Islam, Syariat Islam itu sesuatu yang harus dijalankan. Jadi saya katakan, Syariat Islam itu untuk saya, bukan untuk bapak Pendeta. Syariat Islam itu kan ada dua. Yang pertama ibadah, seperti sembahyang, puasa, dan naik Haji.

Yang kedua, muamalah, seperti kawin, waris, perdagangan, dan lain-lain. Syariat Islam itu harus dijalankan oleh umat Islam, tetapi tidak perlu diatur dengan Undang-Undang. Maksudnya, beribadahlah karena takut pada Allah, bukan karena takut pada gubernur atau bupati, misalnya.” JK juga menyatakan: “Sering orang salah mengira masalah yang terjadi di Aceh. Banyak yang menyangka bahwa itu murni masalah Syariah. Padahal bukan! Inti masalahnya adalah ketidakadilan.” (kompas.com). Substansi kalimat JK itu pernah saya ‘pinjam’ ketika muncul polemik tentang PLTA yang sedang di bangun di Sulewana Kabupaten Poso: “Persoalannya bukan murni soal ‘sutet’, tetapi inti masalahnya ialah bagaimana menciptakan keadilan.”

Proses perdamaian di Negara ini seolah tidak bisa lepas dari peranan JK. Lantas dimana Presiden, Menkopolkam dll? Apakah mereka ragu dan khawatir dating ke Malino dan Helsinki? JK tidak mengabaikan peranan mereka, JK menyatakan: “Saya berinisiatif meminta izin kepada Presiden tanpa bermaksud untuk memotong tugas dan wewenang dari seorang Menkopolkam.”

Kini, JK bersama Wiranto sepakat sebagai calon Nahkoda yang akan mengendalikan Perahu Besar Bangsa Indonesia di tengah samudera persoalan daerah, nasional dan internasional. Pemuda eks korban kerusuhan Poso itu kembali bertanya kepada saya: “Abang pilih siapa?” Saya menjawab: Saya harus jujur, bahwa KITA ADALAH ANGGOTA MASYARAKAT POSO YANG TIDAK TAHU BERTERIMAKASIH DAN MELUPAKAN SEJARAH, JIKA KITA TIDAK MEMILIH JUSUF KALLA DAN WIRANTO. Satu hal yang terpenting, mengapa JK mengupayakan perdamaian? Karena dalam damai, setiap orang bisa hidup, belajar, bekerja, beribadah, berinteraksi dengan aman, adil, sejahtera, dan bermartabat. Ya, situasi yang indah itu lebih cepat lebih baik, selamat dan dengan hati nurani !

Tentena, 11 Juni 2009
Pdt. Rinaldy Damanik.
Mantan Terpidana Kasus Kerusuhan Poso
Mantan Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah.

Iklan
Posted in: Jusuf Kalla