Rehat Jumatan; Kenali “Relawan” Sejati

Posted on 11 Juni 2009

0


Semua agama wahyu dan penganut falsafah teologis beranjak dari ajaran monoteisme ibrahim dan hukum musa, menekankan bahwa tuhan sama sekali transenden dari ciptaan-nya. “dengan rupa apapun engkau membayangkan tuhan, dia tetap berbeda dari bayanganmu”. Dalam konsep ketuhanan yang amat sukar dipahami itu, tuhan selalu ada (imanen) di dalam ciptaan-nya. “dugaan apapun yang engkau miliki tentang tuhan, dia pasti bisa menjadi sesuatu seperti dugaanmu itu karena dia adalah pencipta seluruh dugaanmu”. Ciptaan tuhan tidak akan menyerupai dia dalam hal apapun. Dan ciptaan-ciptaan itu pun tidak dapat menjadi sesuatu yang menyerupai dia.

Iman atau tauhid adalah penegasan tanpa komfromi atas kesatuan dan keesaan tuhan, konsep yang tidak mengizinkan apapun selain tuhan untuk disembah atau dipuja. Menganggap adanya kemiripan sesuatu atas tuhan di dalam hal apapun akan merupakan “keilahian” yang lain. Sebagai wajarnya sebuah keniscayaan, tauhid meyakini keberadaan hanya kepada tuhan sendiri. Maka apapun yang tercerap untuk ada tidak dapat memiliki realitas dirinya sendiri, pasti bukan apa-apa selain pantulan sari satu realitas ilahi.

Dalam proses penciptaan manusia, bahwa sebelum penciptaan waktu dan ruang secara berurutan, sebelum titah tuhan membawa kosmos menjadi makhluk, jiwa yang tak terpisahkan dari manusia potensial ditidurkan sebagai gagasan dalam diri tuhan di suatu istirahat tanpa akhir. Dalam ruang itu tidak terdapat makhluk hidup apapun yang diciptakan untuk memuja keilahian. Tuhan bersabda, “aku adalah harta karun terpendam dan ingin dikenali, maka aku ciptakan makhluk agar aku dapat dikenali.”

Umat manusia, sepanjang seluruh masa penciptaan, diciptakan untuk mengetahui tuhan. Tetapi berdasar pada alasan epistemologis, orang hanya mampu mengetahui sebuah hal melalui kebalikannya. Dalam konsep tauhid, sangatlah tidak mungkin terpikirkan bagi tuhan untuk memiliki kebalikan di dalam zat-nya, sehingga dia tetap tidak dapat diketahui dan dipahami. Secara paradoksal, satu-satunya cara untuk mengetahui tuhan adalah dengan mengungkapkan ketidakmampuan diri orang itu untuk mengetahui-nya. Meski, demikian, di dalam bentuk ataupun sifat, memang mungkin untuk membayangkan kebalikan tuhan. Sebagai contoh, kebalikan di dalam sifat cahaya tuhan adalah kegelapan yang diciptakan untuk memantulkan cahaya-nya. Pantulan dari cahaya itu adalah dunia ini, dan segala hal di dalamnya merupakan pengejawantahan tuhan. Tujuan akhir semua ciptaan tersebut adalah untuk mengetahui dia.

Segala hal mewujudkan wajah tuhan, baik mereka menyadari hal itu ataupun tidak. Orang beriman mengejawantahkan sifat iman dan kesaksian tegas pada keberadaan tuhan; orang kufur juga mengejawantahkan tuhan karena penolakannya pada keberadaan tuhan. Dia telah menyediakan sifat kebalikan agar membuat iman dapat dikenali. Tuhan mengejawantahkan diri-nya di dalam sifat keindahan dan kedermawanan melalui hal-hal baik di dunia. Dia juga mengejawantahkan diri-nya melalui kebalikan dari kebaikan, keburukan dan kejahatan, dan kemudian menyediakan perangkat untuk mengetahui kebaikan dan keindahan.

Di dalam hubungannya dengan tuhan, segala hal adalah baik karena tuhan baik dan indah. Merupakan suatu ke-absurd-an logika untuk memikirkan bahwa dia kan menciptakan lawan-nya yang muncul jadi buruk atau jahat. Manusia hanya mengenal cara seperti itu dalam hubungannya dengan manusia lain. Yakni, mengetahui bahwa kejahatan mempunyai lawan, karena dari sana manusia mampu mengetahui kebenaran dan keindahan. Tetapi konsep itu tidak memiliki keberadaan nyata dalam hubungannya dengan tuhan. Segala yang dicerap melalui indera kita di dalam dunia ini hanyalah bentuk, sebuah kulit, sementara yang kadang-kadang menempel pada bagian hakikat/substansi yang ada pada “dunia lain”. Perbedaan antara “dunia sini” dengan dunia lainnya, atau “dunia sana” sangatlah penting. Keduanya bukan dua hal terpisah. Dunia yang amat berbeda seperti keduanya adalah dua bagian dari satu kesatuan, bagian belakang dan depan suatu cermin.

“dunia sini” yang didiami oleh makhluk yang memenuhi kebutuhan badaniah, adalah bodoh, akhir kotor dari spectrum zat yang menempati waktu dan ruang. “dunia lain” lebih halus, ruh zat akhir dari spectrum yang sama. Di dalamnya berisikan arketip semesta, atau intisari dari segala yang berwujud di “dunia sini”. “Dunia sana” merupakan alam dari konsep hakiki, memiliki status realitas lebih tinggi daripada rangkaian citraan khayali bentuk nyata (fantasmagoria), “metaforik” dari “dunia sini”. Meski demikian, konsep ataupun pokok tersebut semuanya tidak dapat dipahami oleh mata fisik, yang memiliki keterbatasan di dalam ruang operasinya terhadap yang dapat dindrai dari “dunia sini”. Seperti, jika kita melihat benda dalam bentuk kubus yang bersisi atau berdimensi enam atau lebih, maka mata fisik dari sudut manapun kita memandang hanya mampu menginderai tiga sisi atau tiga dimensi, itulah “dunia sini” sementara sisi/dimensi yang lain yang tak terlihat itulah “dunia sana.”

Segala hal yang mengejawantah di “dunia sini” bagaikan daun pada pohon; akar pohon terkubur di dalam dunia tak terlihat, tetapi cabangnya menyebar ke seluruh tembok pemisah di dalam “dunia sini”, tempat mereka menyangga bebuahan.

Apabila “dunia sana” merupakan alam hakikat, “dunia sini” merupakan alam bentuk. Meskipun yang hakikat secara alamiah lebih penting, tapi ”dunia sana” tidak dapat diraih tanpa menghormati ”dunia sini” sebagai bentuk itu sendiri.

Bentuk dan isi bagaikan kulit dan biji suatu benih. Apabila benih dikupas dari kulitnya sebelum ditanam, dia tidak akan pernah tumbuh. Pemeliharaan bentuk adalah penting, sebab tanpa hal itu konsep yang mendasarinya tidak dapat diraih. Hanya melalui bentuklah konsep hakikat suatu hal mampu dipahami oleh ”mata pengetahuan”. Sebuah indera yang sebenarnya dimiliki secara halus, bersemayam di dalam setiap orang. Kemampuan indera tersebut kemungkinan dapat disempurnakan melalui pelatihan ketajamannya. Walalahualam.

Salam Komasiana Indonesia

Iklan
Ditandai:
Posted in: Paradigma Satu