Rehat Jumatan; Kenali “Relawan “ Kita……

Posted on 4 Juni 2009

2


Relawan kita adalah sahabat, ketika sahabat dalam kehidupan ini telah melihat keseluruhan hakikat sahabatnya, persahabatan mereka akan semakin terjalin lebih erat di dunia selanjutnya. Mereka akan segera mengenali satu sama lain. Mengetahui betapa mereka telah bersama-sama di dunia ini. Mereka akan cepat berpegangan karena seseorang dengan cepat dapat kehilangan sahabatnya. Tidakkah engkau lihat betapa di dunia ini engkau cepat menjadi sahabat seseorang ? di dalam pendapatmu orang adalah suri teladan kebajikan seperti Yusuf.

Kemudian, karena satu perbuatan buruk yang tidak menguntungkannya, dia berubah menjadi sosok dalam pandanganmu dan hilang dari sisimu selamanya. ”Yusuf” berubah menjadi serigala. Orang serupa yang pernah kau anggap sebagai ”yusuf” sekarng terlihat sebagai serigala. Bahkan apabila bentuknya tidak berubah dan dia orang yang sama yang pernah engkau lihat, dengan kebajikan kebetulan ini engkau tetap akan merasa kehilangan dirinya.

Inti pernyataan ini ialah bahwa kita mesti melihat satu sama lain lebih mendalam dan masuk melampaui sifat baik dan buruk yang menempel pada diri manusia. Kita mesti masuk dan melihat hakikat satu sama lain, karena sifat-sifat yang membedakan manusia dari yang lainnya, bukanlah sifat sejati mereka.

”orang mesti pergi melampaui sifat baik dan buruk manusia, lalu masuk ke dalam hakikat untuk mengetahui seperti apa dia secara hakikat. Itulah yang disebut ”penglihatan” dan ”pengetahuan sejati”.

Apabila engkau ingin ”mengetahui” seseorang, buatlah dia berbicara. Kemudian engkau mampu ”mengetahui” dia yang sebenarnya dari ucapannya. Bagaimana jika dia menipu, karena tahu bahwa orang dapat diketahui dari ucapannya, sehingga terus-menerus mengucapkan sesuatu yang samar agar tidak diketahui ?

Ini seperti dongengan mereka tentang anak kecil yang kebingungan, dan berkata kepada ibunya, ”saat malam hari menjadi gelap. Hantu muncul kepadaku. Aku takut kepadanya.”
”jangan takut,” kata sang ibu. ”jika engkau melihat bentuk itu, beranilah dan serang dia. Engkau akan tahu, itu hanya khayalanmu.”

”tapi, ibu,” kata anak itu, ” apa yang mesti aku lakukan jika ibu hantu itu mengatakan hal yang serupa pada anaknya?”

Sekarang, jika ada seseorang yang sengaja tidak ingin diketahui dan berdiam diri, bagaimana aku tahu yang sebenarnya? Jawabannya adalah, berdiam diri terhadap kehadirannya.

Berikan dirimu kepadanya dan bersabar! Barangkali sebuah kata akan terluncur dari bibirnya. Jika, tidak, sebuah kata barangkali secara tidak hati-hati akan meluncur dari bibirmu, atau pikiran atau gagasan bisa jadi muncul pada dirimu. Dari pikiran atau gagasan itu barangkali engkau ”mengetahui” dia, karena engkau saat itu telah ”terpengaruh” olehnya. Itu adalah ”pantulan” dan ”pernyataan” dirinya yang tercermin ke dalam dirimu.

”maka,” kata guru, ”apabila penguasa datang dan kita tidak segera muncul, dia tentu tidak terluka atau peduli. Apakah kedatangannya untuk menghargai dirinya atau kita? Apabila dia datang untuk menghargai kita, tentu dia akan sabar menunggu kita. Semakin lama menunggu, semakin besar penghargaannya pada kita. Jika dia bermaksud menghargai dirinya dan meminta ganjaran surga, maka penderitaannya ketika menunggu akan menjadi ganjarannya yang terbesar. Pada kedua hal itu dia memperoleh keuntungan ganda karena kedatangannya. Maka dia mesti bergembira dan senang karenanya”.

Jika waktu janji akan bertemu dengan relawan karena suatu kegiatan mereka belum datang, maka sesungguhnya rasa gembira dan senang menunggunya merupakan penghargaan akan diri sendiri serta penghargaan kepada relawan kita sebagai sahabat.

Iklan
Ditandai:
Posted in: Paradigma Satu