Visi JK Mengurai Benang Kusut (Alif 2)

Posted on 3 Juni 2009

0


Visi JK Mengurai Benang Kusut (Alif 2)
Oleh ichwan kalimasada – 4 Juni 2009 – Dibaca 3 Kali –

JK Bicara Manajemen Risiko Adalah Fondasi Lebih Cepat Lebih Baik (1)

“Dengan pengetahuan dan kemajuan teknologi, berbagai resiko dapat diramalkan secara tepat untuk kemudian dikelola denga baik. Ketajaman Instuisi (naluri) pengusaha diperlukan, tetapi tidak boleh jadi tumpuan.”

Alon-alon waton kelakon dan lebih cepat lebih baik dalam dunia bisnis dan pemerintahan sama saja semua mengandung resiko, termasuk dalam urusan keseharian kita. Berjalan kaki ke kantor memang murah tetapi resikonya bisa terlambat dan tertabrak sepeda motor atau mobil, dengan naik mobil kita bisa cepat, namun ada resiko bertabrakan atau menabrak orang lain. Coba bandingkan Jepang yang membuat kereta api super cepat, dibandingkan kereta api kita yang lebih lambat tetapi suka mengalami kecelakaan. jadi yang dibutuhkan, bagaimana kita mengelola dan mengantisipasi resiko yang saya sebut manajemen resiko agar semangat lebih cepat lebih baik dapat selalu tercapai, bukan malahan kita kembali biar lambat asal selamat, karena sikap ini sepertinya kita pasrah atau nrimo tak berdaya melakukan persaingan hidup.

Mereka yang terjun di bidang bisnis tak asing dengan ungkapan “High risk high gain, low risk low gain,” Semakin tinggi resiko semakin besar hasil yang akan kita peroleh, demikian juga sebaliknya. Semua pebisnis adalah risk taker, tetapi resiko yang mereka pilih untuk dihadapi adalah “calculated risk atau resiko yang telah diperhitungkan.

Dalam prakteknya, pengusaha juga menggunakan intuisi yang sulit dikelola, Intuisi justru perlu karena seringkali terbukti mendatngkan kesuksesan. Kalau tidak ada intuisi, tidak ada entrepeneur. Kalau semua resiko manajemen harus dikelola, yang ada bukan entrepeneur, tetapi birokrat pengusaha. Distulah bedanya antara risk taker dan manajemen resiko.

Namun dengan kemajuan pengetahuan kita, dengan perhitungan statistik yang tersedia, di dukung data yang banyak, berbagai resiko tersebut dapat dikalkulasi dengan lebih baik. Pilihan membeli sesuatu hari ini, resiko kenaikan bunganya setelah beberapa tahun dapat diperhitungkan. Pertemuan-pertemuan mengenai risk management sangat membantu pengusaha untuk lebih memahami resiko dari segi pengetahuan. Kalau mengenai intuisi, tidak ada yang bisa mengajarkannya. Begitu juga keyakinan akan sesuatu, misalnya mempertaruhkan keyakinan akan sesuatu bisnis yang menjanjikan, itu hanya bisa dipelajari dari vision, pandangan yang orisinil seseorang.

Begitulah yang terjadi di sektor swasta, pemerintah juga tentu mempunyai banyak resiko tetapi berbeda dengan resiko di sektor sawata karena sifat “bisnis” pemerintah berbeda. Bisnis pemerintah adalah kebijakan yang masuk APBN. Kalau pemerintah membangun jalan, ada resiko pada anggarannya, tetapi ada juga manfaatnya. Saya sangat menyayangkan adanya proyek pemerintah pembangunan Listrik dihentikan sementara di pulau sumatera, karena adanya kenaikan suku bunga yang harus ditanggung pemerintah dalam pembiayaan anggaran. Contoh ini adalah pengelolaan manajemen resiko yang salah arah karena pemerintah tidak mau menanggung resiko besar, sehingga mengalihkan resiko itu kepada rakyat yang tidak bisa menikmati listrik, tentu banyak juga aktivitas bisnis yang tidak dapat dilakukan. Padahal pembangunan listrik ini memang adalah subsidi pemerintah di dalam mensejahterakan rakyat, semakin besar investasi yang diberikan kepada rakyat, tentu semakin berdampak besar bagi kemajuan rakyat, misalnya meningkatnya pendapatan pajak karena meningkatnya bisnis mereka dengan adanya listrik yang memadai. Kenapa saya tidak bisa melakukan intervensi, ya karena saya hanya membantu presiden, wewenang saya lebih terbatas, tentu akan berbeda jika saya presidennya.

Sekali lagi, hidup ini penuh dengan resiko, tinggal kita mau pilih resiko yang mana, mau nanam apa, misalnya kita milih nanam jagung tentu juga berbeda resiko dan hasil yang akan kita capai jika kita menanam kelapa sawit. Kalau kita memahami cara bercocok tanam kelapa sawit yang baik, kenapa kita mesti memilih menanam jagung, bersegeralah untuk menanam dengan semangat lebih cepat lebih baik.

Yang jelas, perubahan itu selalu terjadi setiap detiknya, menit, jam dan hari ke hari karena perubahan itulah yang abadi. Artinya semakin tinggi arus perubahan itu, semakin tinggi pula resiko yang akan dialami, dan itulah yang terjadi sampai saat ini dalam arus globalisasi. Untuk sukses dari arus perubahan ini, pilihannya memang harus lebih cepat lebih baik dengan didasari manajemen resiko yang lebih baik, matang dan cermat. Sejumlah kemajuan pengetahuan dapat kita gunakan yang dipadukan dengan kekuatan instuisi, agar jangan lagi slogan “biar lambat asal selamat” kita pakai kembali sebagai pelarian ketidakberdayaan atau apologi saja dari kelemahan kita sendiri, sehingga benang kusut itu semakin kusut saja. Wallahualam.
(bersambung pada topik yang sama ini, masih alif 2)

Salam Kompasiana Indonesia.

Iklan
Ditandai:
Posted in: Jusuf Kalla