Partai dan Capresnya

Posted on 30 Mei 2009

1


Partai dan Capresnya
Oleh ichwan kalimasada – 15 April 2009 – Dibaca 115 Kali –

Pentingkah seorang capres bagi setiap partai, jawabnya adalah sangat penting dan sgt mendasar.

Pemilu adalah hajatan yg hanya dilakukan dlm 5 tahun sekali, sungguh ironi bhwa selama menjelang itu, partai tdk bisa bisa mengusung seorang capres krn capres sgt terkait dgn visi dan misi partai di dalam membangun bangsa. Klu ini yg terjadi, maka sebenarnya kerjaan partai itu apa diantara waktu selang dr pemilu ke pemilu, program apa yg mereka laksanakan, jangan2 partai hanya bergeliat hanya pada saat2 menjelang pemilu or pilkada saja, artinya partai tdk lebih dr orang2 yg hanya ingin mengejar kekuasaan dan jabatan belaka.

Seorng capres bagi sebuah partai adalah sgt penting, krn terkait dgn kesinambungan hubungan emosional antara partai dgn konstituennya. Bhwa capres ada berarti partai itu jauh2 hari sebelumnya sudah memiliki konsep dan figure yang akan diusungnya. Walaupun akhirnya kalah, tp capres merupakan salah satu kebanggaan bagi massanya, bhw setiap pemilu partainya juga selalu bicara dan punya kader yg selalu siap menjadi president. Partai adalah lembaga kaderisasi kepemimpinan nasional, kalau setiap pemilu ga punya capres, ya sebenarnya partai itu hanya kumpulan para opurtunis belaka.

Agar lbh riil kita ambil contoh kasus Partai Golkar; Golkar dgn sgl personilnya tak dapat dipungkiri mempunyai org2 yg dpt diandalkan, malah setiap konvensi mereka selalu melahirkan capres2 yg layak diperhitungkan bagi partai lain., sejak jaman Orba sampai pasca Orba Golkar selalu maju dalam pilpres. Nah, kali ini apa krn persoalan kalah di pileg Golkar harus seperti ayam, sekali tamper langsung keok, padahal tidak kalah habis, malah pd posisi ke 2 or 3. Seorng politisi kawakan seperti yg dimiliki Golkar seharusnya mempunyai kemampuan membangun koalisi untuk mengusung capresnya.

Jika alasannya krn Golkar akan koalisi dgn PD krn factor kesinambungan pemabngunan dgn tetap melanjutkan duet SBY-JK, alasan ini hanya cocok diucapkan oleh seorg politisi banci, artinya Golkar sendiri tidk pede atau sama sekali tdk punya konsep dan figure untuk membangun bangsa ini lebih baik padahal Golkar adalah partai sudah setua usia kemerdekaan bangsa ini. Gigi Golkar ternyata ompong hanya gara2 dikalahkan oleh PD yg hanya partai yg br 2 kali ikut pemilu. Ironis kan…mana tuh para jagoan politik Golkar.

Jika alasannya, bahwa Golkar sudah aman dgn posisi cawapres dan mungkin segala posisi di cabinet akan di dapat dgn duet SBY-JK, golongan ini adalh tdk lebih watak warisan orba, dan org2 Golkar tdk layak disebut seorang politikus, cm layak disebut opurtunis belaka. Arti lainnya, petinggi teras Golkar yg nota bene berasal dari kalangan pengusaha, hanya menghimpun diri didlm Golkar hanya untuk mencari savety saja agar company mereka mendapatkan kemudahan akses di birokrasi pemerintahan. Golkar hanya dijadikan alat untuk mengejar peluang investasi dan laba company saja. Seperti menjaga keberlangsungan bakri brother dan anak perusahaan kalla yg akan melakukan investasi gas alam di lapindo, sbg contohnya.
Dengan duet SBY-JK, memang Golkar tdk perlu banyak mengeluarkan ongkos untuk kampanye pilpres, krn modal kemenangan pileg PD & Golkar sudah bisa jadi jaminan. Klu ini mah pertimbangannya, lebih baik org2 Golkar itu tdk usah berpartai klu masih berhitung untung rugi, jadi ketahuan kan klu Golkar itu hanya alat para pengushanya, bukan membawa misi perubahan Indonesia lebih baik. Visi dan Misi Golkar pun,. Ya Cuma itu.

Klo Golkar punya politikus ulung harusnya degn kekalahan di pileg ini, mereka punya jurus jitu untuk mengusung capresnya. Bukankah PD di pemilu 2004 hanya punya suara 7 % saja di pileg. Dgn mngusung capres itu pertanda bahwa Golkar selalu punya alternative pemimpin nasional yg akan dibanggakan oleh voternya, jd jgn heran Wiranto sbg capres Golkar di Pemilu 2004 walaupun kalah, tapi beliau mendirikan Hanura krn beliau tahu filosofi pentingnya seorg capres bg partai dan Pemilu ini membuktikan bahwa Wiranto jg punya basis massa yg kuat.

JK boleh kembali berduet dgn SBY krn memang dr pemilu 2004, duet itu bukan karena dukungan Golkar, dan Golkar harus punya Capres sendiri sebagai bukti Golkar punya banyak kader pemimpin nasional dan sbg upaya menjaga hubungan emosional antara Golkar dan Block voternya. Klo pilpres ini, Golkar ga punya capres, jgn mimpi pemilu berikutnya Golkar dpt menang atau minimal mempertahankan capaiannya skrng ini 14 %, partai Golkar akan mengalami pembusukan di mata massa krn keberhasilan periode ke2 SBY-JK, akan membuat voter Golkar saat ini di pemilu 2014 akan memilih PD dan capaian Golkar klu masih eksis hanya bisa mencapai suara 5 %.

demikian, bravo Golkar, jgn liat siapa yg menulis ini, tapi pelajarilah apa manfaat dari isi tulisan ini, krn dari pantat ayam tdk selamanya yg keluar hanya tinja ayam, tapi juga telur yg bermanfaat sbg unsure obat.

Semoga bermanfaat jua adanya baik bagi Golkar maupun partai lainnya.
Berpolitiklah dgn santun, krn kekisruhan akan membuat rakyat semakin nestapa.

Wallahualam.

Pentingkah seorang capres bagi setiap partai, jawabnya adalah sangat penting dan sgt mendasar.

Pemilu adalah hajatan yg hanya dilakukan dlm 5 tahun sekali, sungguh ironi bhwa selama menjelang itu, partai tdk bisa bisa mengusung seorang capres krn capres sgt terkait dgn visi dan misi partai di dalam membangun bangsa. Klu ini yg terjadi, maka sebenarnya kerjaan partai itu apa diantara waktu selang dr pemilu ke pemilu, program apa yg mereka laksanakan, jangan2 partai hanya bergeliat hanya pada saat2 menjelang pemilu or pilkada saja, artinya partai tdk lebih dr orang2 yg hanya ingin mengejar kekuasaan dan jabatan belaka.

Seorng capres bagi sebuah partai adalah sgt penting, krn terkait dgn kesinambungan hubungan emosional antara partai dgn konstituennya. Bhwa capres ada berarti partai itu jauh2 hari sebelumnya sudah memiliki konsep dan figure yang akan diusungnya. Walaupun akhirnya kalah, tp capres merupakan salah satu kebanggaan bagi massanya, bhw setiap pemilu partainya juga selalu bicara dan punya kader yg selalu siap menjadi president. Partai adalah lembaga kaderisasi kepemimpinan nasional, kalau setiap pemilu ga punya capres, ya sebenarnya partai itu hanya kumpulan para opurtunis belaka. [More…]

Agar lbh riil kita ambil contoh kasus Partai Golkar; Golkar dgn sgl personilnya tak dapat dipungkiri mempunyai org2 yg dpt diandalkan, malah setiap konvensi mereka selalu melahirkan capres2 yg layak diperhitungkan bagi partai lain., sejak jaman Orba sampai pasca Orba Golkar selalu maju dalam pilpres. Nah, kali ini apa krn persoalan kalah di pileg Golkar harus seperti ayam, sekali tamper langsung keok, padahal tidak kalah habis, malah pd posisi ke 2 or 3. Seorng politisi kawakan seperti yg dimiliki Golkar seharusnya mempunyai kemampuan membangun koalisi untuk mengusung capresnya.

Jika alasannya krn Golkar akan koalisi dgn PD krn factor kesinambungan pemabngunan dgn tetap melanjutkan duet SBY-JK, alasan ini hanya cocok diucapkan oleh seorg politisi banci, artinya Golkar sendiri tidk pede atau sama sekali tdk punya konsep dan figure untuk membangun bangsa ini lebih baik padahal Golkar adalah partai sudah setua usia kemerdekaan bangsa ini. Gigi Golkar ternyata ompong hanya gara2 dikalahkan oleh PD yg hanya partai yg br 2 kali ikut pemilu. Ironis kan…mana tuh para jagoan politik Golkar.

Jika alasannya, bahwa Golkar sudah aman dgn posisi cawapres dan mungkin segala posisi di cabinet akan di dapat dgn duet SBY-JK, golongan ini adalh tdk lebih watak warisan orba, dan org2 Golkar tdk layak disebut seorang politikus, cm layak disebut opurtunis belaka. Arti lainnya, petinggi teras Golkar yg nota bene berasal dari kalangan pengusaha, hanya menghimpun diri didlm Golkar hanya untuk mencari savety saja agar company mereka mendapatkan kemudahan akses di birokrasi pemerintahan. Golkar hanya dijadikan alat untuk mengejar peluang investasi dan laba company saja. Seperti menjaga keberlangsungan bakri brother dan anak perusahaan kalla yg akan melakukan investasi gas alam di lapindo, sbg contohnya.
Dengan duet SBY-JK, memang Golkar tdk perlu banyak mengeluarkan ongkos untuk kampanye pilpres, krn modal kemenangan pileg PD & Golkar sudah bisa jadi jaminan. Klu ini mah pertimbangannya, lebih baik org2 Golkar itu tdk usah berpartai klu masih berhitung untung rugi, jadi ketahuan kan klu Golkar itu hanya alat para pengushanya, bukan membawa misi perubahan Indonesia lebih baik. Visi dan Misi Golkar pun,. Ya Cuma itu.

Klo Golkar punya politikus ulung harusnya degn kekalahan di pileg ini, mereka punya jurus jitu untuk mengusung capresnya. Bukankah PD di pemilu 2004 hanya punya suara 7 % saja di pileg. Dgn mngusung capres itu pertanda bahwa Golkar selalu punya alternative pemimpin nasional yg akan dibanggakan oleh voternya, jd jgn heran Wiranto sbg capres Golkar di Pemilu 2004 walaupun kalah, tapi beliau mendirikan Hanura krn beliau tahu filosofi pentingnya seorg capres bg partai dan Pemilu ini membuktikan bahwa Wiranto jg punya basis massa yg kuat.

JK boleh kembali berduet dgn SBY krn memang dr pemilu 2004, duet itu bukan karena dukungan Golkar, dan Golkar harus punya Capres sendiri sebagai bukti Golkar punya banyak kader pemimpin nasional dan sbg upaya menjaga hubungan emosional antara Golkar dan Block voternya. Klo pilpres ini, Golkar ga punya capres, jgn mimpi pemilu berikutnya Golkar dpt menang atau minimal mempertahankan capaiannya skrng ini 14 %, partai Golkar akan mengalami pembusukan di mata massa krn keberhasilan periode ke2 SBY-JK, akan membuat voter Golkar saat ini di pemilu 2014 akan memilih PD dan capaian Golkar klu masih eksis hanya bisa mencapai suara 5 %.

demikian, bravo Golkar, jgn liat siapa yg menulis ini, tapi pelajarilah apa manfaat dari isi tulisan ini, krn dari pantat ayam tdk selamanya yg keluar hanya tinja ayam, tapi juga telur yg bermanfaat sbg unsure obat.

Semoga bermanfaat jua adanya baik bagi Golkar maupun partai lainnya.
Berpolitiklah dgn santun, krn kekisruhan akan membuat rakyat semakin nestapa.

Wallahualam.

Share on Facebook Share on Twitter

3 tanggapan untuk “Partai dan Capresnya”

1. Jana,
— 15 April 2009 jam 1:09 pm

Betul sekali Bung Ichwan, politikus kita memang masih senang yang instan alias kagetan. terlihat dari program yang mereka usung saat kampanye semuanya tidak ada yang rasional isinya membohongi dan membodohi rakyat.tidak ada politikus yang memikirkan kemajuan bangsanya 5 tahun kedepan. yang mereka tuju hanya kursi empuk di Senayan, agar bisnis kroni mereka lancar. maka ketika tujuan itu tidak dicapainya mereka terkena depresi berat bak kehilangan separuh nyawa.
2. Hero Fitrianto,
— 15 April 2009 jam 1:14 pm

mas ichwankalimasada yth,

saya tidak terlalu mengerti politik, tapi kok ya se pesimis begitu penjelasannya, lagian hitung2annya terlalu sederhana seperti dagang sapi saja.

kalau boleh sih, mas ichwankalimasada masuk ke partai, apa saja lalu aplikasikan teorinya di atas, siapa tau nanti bisa menggurui dengan lebih hebat lagi.

wassalam.
3. ichwan kalimasada,
— 15 April 2009 jam 1:41 pm

trims mas hero, namanya juga lg berguru mslh politik mas, tahun 1998 sy dulu ditawari menjadi salah satu wkl sekretaris partai di DPD makassar, tapi rasanya sy belum mapan baik pengetahuan maupun dari segi finansial krn sy cm mau mask partai kalu soal finansial saya dan keluarga saya tdk lg jd maslah dan sudah mapan, saya tdk mau jadi klu hanya skedar ngejar jabatan dan fasilitas. Figur parpol yg baik apabila pencalonannya didukung oleh para donasi pendukunganya, krn mereka percaya bahwa figur yg diusungnya akan membuat perubahan yg lebih baik. Masalah ini akan sy posting pd tulisan berikutnya. dgn cara itu voternya bs jadi pengawasnya dan sang figur benar2 mengembang amanah. Klu biaya sendiri seperti sekarang, ya rasional az tdk ada yg mau rugi, klu menang maka target pertama modal hrs kembali, klu kalah, ga kuat mental, msk rumah skt jiwa dech….seperti banyak caleg skrg ini yg mengalaminya.

Iklan
Ditandai:
Posted in: Event Pilpres