Jika Kita Berbicara Tentang Tuhan

Posted on 21 Mei 2009

0


01bf000wD8n

Jika kita berbicara tentang tuhan, maka kita tidak lagi membicarakan adanya dua ego di sana. Engkau berkata “aku” dan Dia mengatakan “aku”. Agar dualitas ini sirna, salah satunya mesti mati demi yang lainnya. Engkau mesti mati untuk dia atau dia untuk engkau. Tapi meskipun demikian, dia tak mungkin mati-baik kematian fenomenal ataupun konseptual-karena “dia adalah yang maha abadi dan tidak akan pernah mati”. Tapi dia begitu agung, mungkin saja dia kan mati untukmu agar dualitas yang ada sirna. Tapi karena dia tak mungkin mati, engkau harus mati agar dia mampu bersemayam dalam dirimu, kemudian menghacurkan dualitas itu.

Engkau dapat mengikat dua burung bersamaan. Tetapi, meski keduanya mungkin dari jenis yang sama dan sayap yang tadinya hanya dua kini menjadi empat, kedua burung itu tidak akan mampu terbang bersama karena masih memiliki dualitas. Tapi jika engkau mengikat seekor burung mati pada burung yang lain yang masih hidup, dia masih mampu untuk terbang karena di sana tak ada lagi dualitas.

Maka, manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memahami tuhan, ia bukanlah manusia. Tuhan yang dapat dipahami seseorang bukanlah tuhan, manusia sejati tak akan pernah berhenti berusaha. Dia menunggu tiada henti di sekitar “cahaya” tuhan yang mengagumkan. “tuhan adalah lilin yang “membakar” manusia dan terus menariknya agar lebih dekat. Tapi kedekatan itu tak terpahami oleh intelek.
Kaligrafi 23

Iklan
Ditandai:
Posted in: Paradigma Satu