Jajanan Sex, Begitu Mudah Begitu Praktis Begitu Nyata

Posted on 21 September 2009

8


Pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Medan pada pertengahan tahun 2006, seorang teman asli Medan sebut saja Sinaga mengajak berkeliling kota menikmati keramaian malam Kota Medan. Setelah berputar-putar selama satu jam kami pun menikmati makan malam di sebuah café tenda di seputaran Jalan Sudirman. Ada banyak cafe tenda di sini, karena malam minggu pengunjung cukup ramai. Laki perempuan bercampur baur, ngobrol menghabiskan malam, umumnya pengunjung datang dengan pasangan masing-masing. Namun saat kami berkeliling mencari tempat mangkal nampak beberapa perempuan seperti menunggu seseorang. Ada banyak perempuan seperti ini, ketika saya tanya sama sinaga, itu adalah barang. Jawaban ini mulai mengundang tanya, tetapi saya anggap angin lalu saja sampai kami memilih satu tenda cafe.

Saat ngobrol di cafe tiba-tiba kami didekati seseorang perempuan, sinaga pun menyapanya, tanpa ba..bi..bu basi basi gitu, perempuan tersebut langsung menanyai kami, “mau cewek bang ?”, Sinaga pun sambil memandangi saya, lalu balik bertanya ke perempuan itu, “kalau sk berapa ?”, si perempuan menjawab untuk layanan pake short time 300 ribu dan long time 500ribu, ceweknya boleh milih. Perbincangan ini berakhir singkat karena sinaga melakukan penolakan halus, setelah membayar dengan pemilik cafe, kami pun berdua meninggalkan tempat itu.

Dalam perjalanan pulang, saya sempat bertanya, “sk itu apa bang sinaga ?”, ternyata sk itu artinya dari singkatan sewa kamar untuk menikmati jajanan sex, tinggal pilih mau short time atau long time. Cafe-cafe sudirman itu sampai saat ini menjadi tempat dilaksanakannya transaksi bagi laki hidung belang menikmati jajanan sex.

“Tapi itu mahal wan, terlalu ribet pake calo (germo) segala”, “maksudnya apa bang ?” lanjut saya, “kalau cuma mau nengok-nengok, ntar kita lewat yang lebih mudah dan praktis kalau pengin sk bisa langsung transaksi dengan ceweknya.”.

Apa yang dimaksud teman saya Sinaga itu adalah wilayah jalalan lampu merah di Jalan Iskandar Muda, wilayah pusat kota Medan di mana antara Mall Ramayana sampai Medan plaza, tiap malam dijadikan tempat mangkal para perempuan di sepanjang jalan untuk menjaring para lelaki yang mau jajan sex. Kalau berminat anda tinggal menyusuri jalan itu sambil nengo-negok memilih-milih di dalam kendaraan mobil atau di atas kereta (sepeda motor), kalau lebih berani anda tinggal mendekati seseorang, silahkan ngobrol dipinggir jalan, mau layanan yang bagaimana, termasuk tarifnya berapa, kalau gak cocok anda bisa bergeser memilih yang lain, mudah kan ?

Kantor saya berada di kawasan ini, karena saya pulang kantor pada malam hari, jadi selama tiga tahun di medan selalu melewati jalan ini, jadi sudah menjadi pemandangan biasa, namun kadangkala saya juga bertanya, koq pemda Medan atau masyarakat tidak pernah mengusik para perempuan penjaja sex ini, sepertinya masyarakat kota Medan juga sudah menganggap biasa saja.

Tertarik atas beberapa postingan Mariska dengan topik-topik sexualnya di kompasiana ini, terutama cerita tour the sex di Indramayu, maka kali ini pun saya tertarik melakukan citizen jurnalism di kawasan ini untuk berbagi dengan teman-teman blogger kompasiana.

Dua malam selama 2 sampai 3 jam saya pun nongkrong di jalan iskandar muda, kebetulan ada tenda cafe di mana para cewek-cewek itu mangkal di pinggiran jalan. Jalan Iskandar Muda ini cukup unik di tempat ini anda bisa menikmati duren berduri dan duren bergincu. Duren berduri maksudnya buah durian, penjual durian yang cukup terkenal dan banyak dikunjungi oleh para pendatang adalah warung durian si ucok, termasuk kalau anda ingin membawa oleh-oleh durian bisa pesan di tempat ini, cara kemasannya dijamin tidak bau duren jika dibawa di dalam pesawat. Anda pun bisa menikmati makan duren di warung ini tempatnya pinggir jalan sambil nengok-nengok duren bergincu lagi nunggu tamu untuk transaksi sexual. Tau kan, apa yang saya maksud dengan duren bergincu, para penjaja sex itu.

Uniknya para cewek penjaja sex ini sangat vulgar menawarkan diri, mereka nampang di depan pertokoan tanpa malu-malu dan risih, mereka pun nampang sendiri-sendiri dibawah terang benderangnya sinar lampu jalanan, seperti didepan kantor BNI dan beberapa kantor dan outlet toko-toko, jadi tanpa turun dari mobil anda pun bisa menyaksikan mereka dengan jelas. Transaksi pun bisa dilakukan tanpa harus turun dari mobil, cukup menghampiri pinggir jalan di mana mereka berdiri.

Sesuai informasi yono seorang tukang betor (becak motor) yang hampir tiap malam mangkal di jalan ini nyari sewa (penumpang), menurutnya selama hampir 6 tahun mangkal di tempat ini para cewek penjaja sex ini datang silih bergangti, umumnya mereka muda-muda berumur antara 20 – 30 tahun. Mereka ini umumnya tidak saling mengenal, tidak punya bos atau calo, mereka juga selain berasal dari pedalaman Sumut yang datang ke Kota Medan, ada juga yang datang dari batam, pekanbaru, Aceh, dan Kota Padang.

Lanjut yono, walau diantaranya memang berprofesi sebagai penjaja sex, tetapi mereka yang datang dari luar sumut, umunya bukan berkerja sebagai pelacur, mungkin mereka butuh duit buat belanja di Kota Medan sekaligus ongkos pulang, ”kan lumayan kalau satu malam saja mereka bisa dapat tamu lima orang, maka bisa ngumpulin duit 700ribu, kalau pandai merayu malah bisa dapat lebih satu juta dalam semalam,” ujar yono. Menjelang hari-hari raya seperti hari lebaran, natal dan tahun baru, malah yono sering bingung, cewek ini dari mana, koq ada barang baru lagi neh….

Walau tarifnya sekali cos coy, antara 150ribu-200ribu tetapi pelangganya umumnya bermobil, sk (sewa kamar) juga gak perlu jauh-jauh di seputaran gajah mada banyak hotel jam-jaman tarif tanpa ac 30 ribu, pake ac 50ribu. Para penjaja sex ini tidak mau di bawa sk jauh-jauh dari tempat mangkalnya karena mereka akan menjaring tamu yang lain lagi. Ririn seorang penjaja sex menurut yono sambil menunjuk yang lagi berdiri menunggu tamu di depan kantor BNI baru muncul tiga hari yang lalu, ririn datang bersama tiga orang temannya dari pekanbaru, menurut pengakuan ririn mereka adalah para penganggur di kota asalnya, datang ke medan untuk jalan-jalan sekaligus berbelanja, termasuk ongkos pulang pergi Pekanbaru-Medan semua itu di dapatkan dari menjajakan diri di iskandar muda, apalagi ini menjelang lebaran mereka juga banyak kebutuhan. Dikampungnya ririn bukan pelacur, tetapi kenapa mau datang ke medan melakukan itu. Jawabnya dengan enteng, ya gimana bang, ini mau lebaran kami kan juga butuh duit, di sini juga caranya mudah dan praktis serta aman, kami juga tidak perlu seorang germo. Tentu bagi laki-laki hidung belang ini juga sangat mudah, praktis dan betul-betul nyata, tinggal samperin, ngobrol dikit, langsung oke. Wallahualam.

salam dialog

About these ads
Ditandai: ,
Posted in: Budaya