Esok harinya setelah pencontrengan seorang teman sebut saja si Fulan, di mana bapaknya seorang menteri menjadi salah satu TS JK mengirim sms menanyakan kenapa JK bisa kalah telak, apakah ada kecurangan sistematis padahal semua tokoh-tokoh Ormas Islam serta organisasi profesional maupun primordial terutama NU dan Muhammadyah sudah memberi dukungan.
Kemudian saya jawab via sms, kembalikan kepada diri sendiri, kalah mata kalah uang apalagi kalau kurang dan tidak punya uang, JK bersama TSnya hanya sibuk melakukan counter iklan dan menghabiskan waktu mengunjungi para tokoh-tokoh masyarakat meminta dukungan, hal ini tidaklah salah, namun TS JK khilaf menggaraf pemilih di akar rumput, sehingga banyak relawan yang meminta dukungan malah disepelekan. Relawan memang tidak menyandang nama besar, tetapi anda tidak paham satu suara relawan sangat penting untuk sebuah kemenangan. Sebagai pembanding dari info relawan SBY di Medan tiada satu spanduk pun yang keluar tanpa biaya capek dan pemasangan. Sedangkan Spanduk JK beredar liar dipasang secara swadaya, setelah dipasang lalu ditinggal begitu saja. Ini demokrasi kapitalis, idealisme hanya dapat beridiri kokoh dengan dukungan padat modal. Visi dan misi hanya mumpuni jika didukung oleh gizi yang baik, jadi harus selaras visi, misi dan gizi.
Hal itu bisa saya ungkapkan berdasar banyaknya sms dan pesan di inbox FB saya, relawan yang mengeluhkan tidak adanya dukungan dari TS JK dengan gerakan mereka di akar rumput. Mereka ini umumnya ada yang sms sekedar tanya di mana bisa mendapatkan stiker, PIN, spanduk, kaos, dan lain-lain sampai minta donasi, lalu karena saya tidak tahu pasti alamat kantor resmi TS JK mereka saya arahkan agar mengunjungi kantor Partai Golkar atau Partai Hanura setempat. Beberapa hari kemudian mereka sms lagi bahwa tidak ada kesibukan baik di kantor Golkar maupun Hanura, mereka malah bingung harus nemui siapa.
Cerita lain keluh kesah seorang Tim Kamda TS JK di Medan, dia berasal dari Partai Hanura menelpon saya hampir satu jam hanya curhat atas kekecewaan dukungan kader Golkar di Sumut, bahwa selama kampanye Pilpres hanya tim mereka yang banyak bergerak dilapangan. Dia mensinyalir kader Golkar yang menerima dana kampanye hanya masuk kantong pribadi ?, dia juga menceritakan banyak TPS di Medan tidak memiliki saksi dari JK-Wiranto, kenyataan ini benar karena beberapa teman relawan di daerah kabupaten Sumut mengatakan hal yang sama.
Cerita lain seorang teman di Jakarta sebut saja si Lontong, menjadi salah seorang TS JK dari kelompok Tim Garuda yang menurut info terakhir menghabiskan dana kampanye 85 Milyar. Menurut dia hal ini perlu dipertanyakan dan perlu segera diaudit untuk mengetahui kebenaran penggunaan dana besar itu beserta sumbernya.
Si Lontong bercerita lagi kalau dia pernah membawa 3 orang yang mempunyai kekuatan mistik dan spritual menemui salah satu mantu JK di Mangunsarkoro untuk bergabung dengan TS JK, menurut si Lontong orang ini pernah memenangkan seorang menjadi Gubernur dalam Pilkada. Mereka hanya meminta difasilitasi sebuah posko khusus atau rumah di Jakarta untuk melakukan aksinya, namun sampai hari pencontrengan mereka dilupakan saja.
Dalam satu kesempatan saya ke Jakarta karena urusan kerjaan, si Lontong memperkenalkan 3 orang ini, mereka bercerita bahwa Tim TS SBY menggunakan kekuatan ini dan sangat sulit untuk dikalahkan tetapi bukan berarti tidak bisa kalah, dalam terawangnya aura kemenangan bersinar di wajah JK tetapi sebaliknya aura Wiranto masih gelap dan cenderung menjadi beban. Lalu dia menyarangkan sebagai langkah awal penampilan JK-Wiranto perlu dirubah yang sudah beredar dalam bentuk media kampanye, yaitu tidak lagi memakai warna dominan putih termasuk busana kemeja JK-Wiranto, karena warna ini tenggelam atau kalah aura dari SBY-Boediono, menurutnya warna putih itu bagus tetapi bukan untuk hal-hal duniawi tapi ukhrawi, untuk menuju ukhrawi orang perlu banyak meninggalkan kesibukan duniawi termasuk meninggalkan ambisi kekuasaan duniawi. Dia mencontohkan bahwa Rasulullah dalam perang melawan jahiliyah tidak pernah menggunakan simbol-simbol dan busana berwarna putih.
Lalu saya bertanya bagaimana sih cara kerja mereka, mereka mencontohkan cara kerja pawang hujan. Pawang hujan bisa mengalihkan awan sehingga tidak terjadi hujan di tempat hajatan dan dialihkan ke tempat lain. Dalam konteks ini mereka bisa mengalihkan pemilih menjadi swing voter sesuai pesanan kepada siapa suara itu akan dialihkan. Jadi jangan heran jika SBY pernah bicara kalau mereka diganggu sihir, baik Tim TS SBY dan TS Mega memiliki ini, hanya JK saja yang tidak memiliki, pungkasnya.
(Bersambung di seri 3)
Wallahualam.
Salam Kompasiana Indonesia.



Inilah yang namanya hidup bukan itulah hidup,Kadang diatas kadang dibawah,So jangan banggakan orang yang lagi diagungkan,suatu hari akan pudar semuanya..sudah terbukti…