Mas Dwiki Setiyawan dalam postingan di blog ini menggelari JKism dalam sebuah tulisan profile tentang saya, Dwiki bersama teman-teman blogger lainnya saat kopdar kompasiana di JHCC menanyakan seputar motivasi mendukung dan menulis khusus propaganda JK terutama di blog ini. Bukan sebuah kebetulan bahwa saya memiliki banyak referensi tentang profile JK, hal ini bisa diketahui dibeberapa tulisan saya tentang JK. Lalu saya pun menjelaskan bahwa sejatinya JK lebih senang dan puas pada posisi the second leader bersama SBY, pendapat ini hampir semua di amini oleh masyarakat Sulawesi Selatan, lalu kenapa JK bersedia menjadi Capres, itulah politik, dengan adanya usulan dari hampir semua DPD I Golkar meminta JK maju jadi capres sebagai ketua umum dari sebuah partai besar tentu JK harus siap untuk itu.
Namun perlu dicatat setelah kekalahan Golkar dalam Pileg, JK sangat vokal menyuarakan Golkar tidak bisa mengusung capres sendiri, malahan JK orang pertama memberi selamat kepada SBY atas kemenangan PD sekaligus orang pertama yang mengunjungi SBY di Cikeas. Saya kira kalau JK dianggap lancang maju sebagai capres menantang SBY dan JK perlu minta maaf atas itu, saya menganggap pernyataan dan kunjungan JK itu adalah wujud tindakan permintaan maaf itu walau tanpa perlu diucapkan secara verbal. Dalam khasanah budaya Bugis dan Makassar budaya minta maaf dan mengucapkan terima kasih memang jarang dilakukan secara verbal dan biasanya dikonversi dalam bentuk pola perbuatan yang bermakna untuk itu. Sebagai contoh kecil baik bahasa Bugis dan Makassar tidak mempunyai padanan kosa kata atau arti kata dari bahasa Indonesia sebagai terjemahan dari kata “Terima Kasih”.
Ucapan terima kasih biasanya diucapkan dalam bentuk pujian. Misalnya saya sangat senang menerima bantuanmu ini dan semoga Tuhan memberimu balasan yang banyak. Dalam dialog Bugis dan Makassar jika harus diucapkan secara verbal, maka kosa kata yang diucapkan adalah “terima kasih”. Tentu beda dengan Bahasa Sunda ‘terima kasih’ ada padanannya, “nuhun” atau Jawa dengan maturnuwun. Demikian pula permintaan maaf dilakukan secara halus misalnya dengan melakukan kunjungan silaturrahmi atau memberikan sesuatu yang menyenangkan sehingga persoalan yang tidak menyenangkan itu dapat dilupakan. Akan halnya ucapan “rasis” Andi Alifian Mallarangeng saat kampanye di Makassar, Alifian tentu menyadari ini tetapi tidak mungkin secara verbal akam meminta maaf, sebagai pengganti ke depan Alifian akan melakukan pendekatan ke tokoh-tokoh masyarakat Sulsel atau mungkin melakukan sesuatu yang membuat masyarakat Sulsel bisa memaafkannya tanpa perlu Alifian menyebutnya secara verbal. Secara umum masyarakat Bugis dan Makassar sangat tabu melakukan kesalahan yang menyakiti orang lain karena resiko meminta maaf sama saja menghina diri sendiri. Karena perbuatan meminta maaf akan menjadi gunjingan sepanjang masa dibandingkan perbuatan kesalahan itu sendiri sehingga harus meminta maaf.
Kembali ke soal JKism tadi, saya jelaskan bahwa sejak tahun 1990 saya selalu Golput dalam Pemilu karena saya melihat baik pada tahun 1990 dan 2004 saya tidak melihat seorang pun para capres dapat membuat suatu fondasi yang kokoh 5 tahun ke depannya bagi kemajuan bangsa minimal seperti Malaysia. Dan itu memang terbukti sampai saat ini. Seperti terbuktinya saya tidak suka kepemimpinan di jaman Orba yang selalu membuat saya bersilang pendapat dengan Ortu yang PNS. Pada Pemilu 2004 saya menjadi Koordinator Pemantau Pilpres Jabar dengan afiliasi LSM CETRO Jakarta, saat itu saya mempublish di Harian Kompas temuan money politik dilakukan seorang caleg PDIP yang membuat kantor saya didatangi serombongan Kader PDIP Kota Cimahi, hal ini saya lakukan karena selama 2 minggu Panwaslu tidak melakukan advokasi akan hasil temuan ini. Saat itu mereka menganggap saya pendukung SBY-JK, dibawah tekanan massa saya pun mengirim surat meralat pemberitaan itu, tapi sampai saat ini berita itu tidak diralat oleh Harian Kompas dan Pikiran Rakyat Bandung. Saya pun bergumam bagaimana demokrasi bisa ditegakkan di bumi pertiwi ini.
Saya mendukung JK karena hanya sebagai mediasi perlawanan atas motivasi saya yang tidak suka lagi presiden Indonesia selalu berasal dari kalangan militer karena sangat resisten dengan bias kekuasaan baik karena tindakan presiden menggunakan jalur militer maupun personal militer yang melakukan tindakan afiliasi membela kepentingan presiden. Seorang kapolda atau Dan Ramil secara emosional sebagai manusia biasa mempunyai ikatan emosional kepada presiden yang militer, walaupun tanpa sepengetahuan sang presiden dia bisa melakukan hal-hal yang menguntungkan presiden dan merugikan pihak sipil/lain, terutama di saat-saat pemilu. Saya sebenarnya bangga akan dogma kekompakan korps militer kita, jadi jangan berharap dalam Pilpres kemarin kampaye issu pelanggaran HAM yang dilakukan Oknum Militer tidak terlalu santer dibicarakan oleh para capres karena menjaga keutuhan Korps militer lebih penting dari issu itu sendiri.
Ibarat Karl Marx, untuk melawan kapitalisme borjuis dia menciptakan media perlawanan dengan ideologi proletariat, tetapi Karl Marx sendiri adalah orang yang dibesarkan oleh sistem kapitalisme. Nah, dalam konteks itu JK menjadi mediasi perlawanan saya terhadap SBY karena dengan Golput hal itu terasa sulit dilakukan, kenapa memilih JK bukan Mega, yang jelas saya tidak pernah menulis untuk menyerang Bu Mega.
Namanya misi perjuangan bisa menang bisa kalah, kata orang bijak kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. JK bisa kalah tetapi misi ini tidak akan pernah kalah, seperti kebenaran, kita tidak akan pernah membuktikan kebenaran itu, kita hanya mampu menstimulus, karena kebenaran itu bekerja membuktikan dirinya sendiri. Seperti kejahatan selalu bekerja sendiri membuktikan dirinya dengan menebar bau busuknya sampai tercium kepada orang yang peduli. Steven Coovey berkata alam dan dunia ini diatur sesuai hukum panen, bercocok tanam lalu tiba masanya untuk panen, demikian pula sebuah kebaikan atau kejahatan. Ketika masa panen telah tiba semua kejahatan akan terbongkar dengan sendirinya dan pada saat yang sama masa panen kebaikan pun mulai bersemi. Dan jika kejahatan itu ternyata ada pada diri sendiri, maka saya pun harus siap menerima masa panen itu. Semua itu pasti terjadi karena siang hanya ada karena adanya malam, demikian pula sebaliknya.
Karena tulisan ini terlalu panjang, dibagian kedua baru saya tuntaskan sesuai judul di atas.
Wallahualam.
Salam Kompasiana Indonesia



Ternyata mayoritas bangsa ini tidakmenginginkan adanya Perubahan, Juragan..
Mereka terbuai dengan janji manis dan pencitraan yang membuat bangsa ini terus berada dalamalam kemunafikan..
Salam Perjuangan..
Salam Perubahan..
http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/12/menggerakkan-mouse-dengan-mata-anda-sebuah-inovasi-baru-dari-anak-bangsa/
http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/09/waduh-prajurit-lawan-atasannya/
makasih ya, sy juga uda link dg blognya ya…
salam perjuangan
Semoga pemerintahan yang baru makin baik, semoga..semoga
bukan makin baik bung singal, tetapi ‘makin baek’ he..he..
amin ya rabbul alamin.
itu tandanya JK juga lebih sreg dengan SBY gitu…..
info yang sangat menarik, trims