Isi buku ini berdasar pada pidato tanpa teks dari JK tahun 2007 yang direkan kemudian ditranskripsikan oleh Tim editing yang dipimpin langsung oleh S. Sinangsari Ecip. Dr. S. Sinansari Ecip adalah wartawan di berbagai media dan aktif menulis buku-buku jurnalistik. Pada periode pertama 2004-2007 kepengurusan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, ia menjabat sebagai Wakil Ketua. Kini pada periode kedua 2007-2010 ia menjadi anggota KPI Pusat. Buku ini dicetak dan disebarkan secara gratis oleh para relawan JK sebagai bahan pembelajaran bagi kita semua. Wallahualam.
Sekilas S. Sinangsari Ecip :
Mengantongi ijazah doktor bidang Ilmu Komunikasi dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan di tahun 1991, S. Sinansari Ecip telah menelurkan 16 buku karya jurnalistik dan ilmiah, serta 10 buku karya sastra. Ecip mengawali karier jurnalistik di banyak harian terkemuka di negeri ini. Dikenal juga sebagai wartawan Harian Kami, S. Sinansari ecip melanglang buana dan singgah di banyak media massa, di antaranya Majalah Tempo, Majalah Panji, dan harian Republika. Mantan wakil ketua KPI Pusat periode pertama ini aktif mengajar di Universitas Hasanuddin dan Universitas Indonesia, serta menulis di banyak halaman opini, alumnus Universitas Indonesia ini. Pengalaman-pengalaman di atas menempatkan ecip sebagai koordinator bidang Kelembagaan KPI Pusat periode 2007-2010.Buku ini setebal 518 halaman, untuk mengetahui isinya, berikut ini saya kutip beberapa intisarinya :
1. Manajemen Risiko adalah Fondasi; “Dengan pengetahuan dan kemajuan teknologi, berbagai risiko dapat diramalkan secara tepat untuk kemudian dikelola dengan baik. Ketajaman naluri pengusaha diperlukan, tetapi tidak boleh jadi tumpuan. “
2. Saudagar Memang Seribu Akal; “Indonesia kaya potensi. Namun belum tumbuh menjadi bangsa yang efisien. Saatnya mengetuk hati saudagar dari berbagai etnis. Semangat saudagar dan hasil kerjanya sangat diperlukan untuk membangun bangsa.”
3. Apa Kekuatan India ?; “Indonesia dan India bisa saling melengkapi. Namun, yang terjadi hubungan ekonomisnya belum sebaik hubungan sosial politis yang ada dalam sejarah kita. Ini sebuah tantangan yang harus dipecahkan.”
4. Saatnya Perkapalan Nasional Bangkit; “Ditingkat dunia, sesungguhnya ada kebutuhan yang besar akan kapal. Namun galangan kapal kita, khususnya milik pemerintah, setelah reformasi malah terpuruk. Mari mencari jalan keluar bersama untuk mengembalikan kejayaan bangsa ini. Kita harus optimis, masih ada potensi.”
5. Revitalisasi Pertania; “Semua kelihatan hebat di bidang minyak, gas, dan batu bara, tetapi semua akan habis. Jadi, masa depan ada di mana ?.”
6. mengatasi Sawah yang Menyusut; “Jadi ini masalah cinta yang kurang, disharmonis antara kita dan alam, Sawah berkurang luasnya. Apa yang harus dilakukan ?”.
7. Bangsa Maju harus Berkeringat; “Tugas Departemen Perindustrian bukan bikin GBHN. Tugas perindustrian mengidentifikasi masalah dan mengkoordinasikan dengan yang membikin masalah.”
8. Bagaimana Rakyat Sejahtera; “Banyak orang mengatakan pemerintah ini jelek, pemerintah itu harus dibandingkan dari tahun ke tahun. Coba bandingkan dengan kejadian tahun 2001, tahun 2002, tahun 2003, semua mempunyai masalah.”
9. Menanggung Risiko Bersama; “Tak ada negara seperti Indonesia dan Malaysia yang memiliki banyak persamaan. Persamaan tersebut menyangkut kultur, bahasa, keadaan, maupun hubungan keluarga.”
10. Tingkatkan Usaha Kecil; “Berapa pun dana yang dapat disalurkan, apa pun teknologi yang diserahkan, tanpa semangat entrepreneur, tidak ada gunanya.”
11. Keunggulan Pertanian; “Pemimpin bisnis harus berani terjun ke lapangan, bukan hanya duduk dibelakang meja, lebih-lebih untuk memajukan bidang pertanian kita.”
12. Buruh, Pengusaha dan Pemerintah; “Pemerintah tidak pernah memerintahkan polisi untuk menangkap apara aktivitas buruh, pemerintah hanya menangkap yang merusak pabrik.”
13. Tanggung Jawab Sosial adalah Investasi; Tanggung jawab sosial jangan dianggap beban, ini adalah investasi untuk semua. Hasilnya dapat ditarik dua atau tiga tahun yang akan datang.”
14. Bank Jangan Sebabkan Stroke; “kita tidak boleh menangisi masa lalu, namun kita tidak ingin melupakan masa lalu. Hal itu tetap jadi pelajarn bagi kita semua.”
15. Tiket Murah dan Standar keselamatan; “Klimaks dari sinisme dan kritik, dan kekhawatiran kepada penerbangan nasional, akan terjawab dengan usaha bukan terjawab dengan kampanye.”
16. Elpiji Gantikan Minyak Tanah; “Pemakaian minyak tanah, walaupun murah ternyata boros, Pemakaian elpiji, walaupun mahal, ternyata hemat dan ramah lingkungan.”
17. Bulog, Perut Lebih Penting Ketimbang Kritik; “Import beras adalah normal, bukan dibuat-buat untuk kepentingan tertentu. Kritik penting tapi perut rakyat lebih penting dari pada kritik. harga beras naik, petani senang, konsumen berat. harga beras turun konsumen senang, petani berat.”
18. Pasar Modal penting; “Pertumbuhan 7-8% bukan hal yang mustahil untuk bangsa ini. Kita sudah pernah tumbuh 8,5%….Kita tidak ingin menjadi bangsa peminta-minta.”
19. Kampus dan Dunia Usaha; “Pengusaha yang baik timbul dari latihan, lingkungan, dan yang paling juga mempengaruhi, adalah kultur itu sendiri. Kultur tersebu berupa ingin maju dengan resiko dan kemandirian.
20. Patriotisme Baru, Fungsi atau memiliki; “Memiliki BUMN dulu patriot. Sekarang untuk jadi patriot baru, tidak harus memilikinya penuh tetapi fungsinya harus tetap berjalan. Keuntungan harus masuk, bukan memiliki tanpa keuntungan.
(bersambung)
Salam Kompasiana Indonesia




Komentar Terakhir