Saya sangat bersukur bisa bergabung jadi blogger kompasiana, saya sepertinya menemukan oase sebagai tempat mencurahkan ide-ide yang kemudian diurai untuk menjadi sekilas tulisan sederhana untuk diposting di blog ini. Seorang kawan dari Kualalumpur menanyakan via email saya, apa motivasi saya menulis di kompasiana menghabiskan waktu malam padahal kagak ada horornya (Honor), biasanya saya memang tidur di atas jam 2 malam, tetapi sejak saya mengenal kompasiana saya tidur sekitar 4 sd 6 jam dengan durasi antara aktivitas 48 jam, artinya saya tidur satu malam untuk 2 hari satu malam, ah..narsis juga ya. Soalnya siang untuk waktu kerjaan sambil ngasih komentar dan malam buat nulis. Lalu saya jawab, ya lagi suka-suka aja, caci maki dan sanjungan rasanya membuat adrenalin berproduksi deras indorfin (kalau gak salah sebut, secara medis zat ini membuat menambah antibody dan mengurangi rasa cemas) plus bisa nambah teman baru.
Selama hampir 6 tahun saya bekerja di PNPM praktis teman-teman bergaul selalu dari kalangan ini, mungkin jumud ya, ternyata kompasiana memberi saya lingkungan perkawanan baru. Adalah Bernadetta Yorita (Rita) yang pertama kali mengajak saya untuk ikut kopdar dengan blogger kompasiana yang disponsori oleh Prof. Nurdjahjadi di Rumah Makan Sindang Reret jalan wijaya Jaksel pada tanggal 10/5/09. Pikiran saya pertemuan ini kayak apa ya, saya membayangkan mungkin ada topik diskusi yang dibahas dengan menampilkan nara sumber, sempat juga ada rasa gak pede, di sini saya bertemu dengan omjay dan beberapa blogger kartini yang saya lupa namanya. Kehadiran saya ini kebetulan ada undangan meeting di Jakarta pada esok harinya selama 3 hari. Kopdar ini seperti berjumpa teman lama, kami ngobrol ngalor ngidul, tanpa awal dan akhir, apalagi kesimpulan dengan suasana kekeluargaan yang menyegarkan. Di Kompasina saya dengan prof sering ‘perang opini’, eh..jumpa malah seperti kawan lama yang sudah gak pernah jumpa puluhan tahun.
Saya jelasin dulu ya foto diatas dari kiri ke kanan; Pepih Nugraha, Linda Djalil, Novrita dan saya sendiri. Pada tanggal 14/6/09 jam 15.00 WIB admin kompasiana kembali mengundang kopdar di JHCC. Wah., senang kali neh..bisa hadir, tetapi bagi saya pertemuan ini sungguh mahal karena untuk datang setidaknya saya menyiapkan biaya tiket PP Medan-Jakarta plus biaya hidup selama 2 hari. Eh..entah darimana, untung tak dapat ditolak sesorang sabtu pagi mengirim sms tanpa mau dikenal siapa beliau, isinya smsnya, “Tolong sms no rek anda sy sponsor anda agar bisa hadiri kopdar kompasiana di JHCC jkt,” saya lantas kontak si pengirim sms tapi diluar jangkauan. Tanpa pikir panjang saya balas apa yang diminta, positive thinking aja dech, saya juga kepikir apa untung buat beliau saya harus hadiri kopdar itu. Yang dikirim lumayan juga bisa buat hidup seminggu di Jakarta plus tiket PPnya. Sampai saat ini saya belum tau orangnya dan apa motivasinya, pesan sponsornya juga gak ada, semoga membaca postingan ini dan ngirim lagi ya, soalnya mau ke Jakarta lagi neh..he..he..

Di kopdar JHCC saya datang jam 14.30, setelah muter-muter 30 menit cari stand kompas.com, disini langsung jumpa sama Kang Pepih, dwiki, ragile, amril gobel, rita, dll, suasana kekeluargaan sudah terasa. Karena acara baru mulai jam 15.00, saya, dwiki, dan ahmad zainal, lalu keluar JHCC nyari area smoking, jam 16.00 kami balik acara sudah dimulai, malah kami terlambat. Wah saya kebagian duduk depan lagi sebaris dengan Pak Pray, pas belakang saya, ini dia, uhuiiiii…., Linda Djalil, selama kopdar mulutnya itu gak bisa diam dech. Ya, seperti di kompasiana, pandainya dikit-dikit komentar tapi gak nulis, gitu lho..pikir saya siapa neh..mbak cantik belakang saya nyerocos wae ach…,saya pun nebak umurnya dalam hati sekitar kepala 40an, uda jadi macan alias mama cuantik, he..he..pikiran saya terus menerawang, koq pede amat mbak linda ini, yang depan bicara, dia malah dikit-dikit nyeletuk lagi, saya lalu inga’ inga’ apa postingannya selama ini, rasanya gak ada koq, malah linda tampil mewakili peserta memberita pesan dan kesan sebagai blogger pemberi komentar dan gak nulis seperti kata mas is. kepikir lagi apa ya keistimewaannya selain masih cuantik, agak ngeladies, keibuan, dengan tinggi semampai dan bibir yang suka sumringah lengkap sudah dech, siapa ya laki-laki beruntung jadi pasangan hidupnya, pikir saya. lalu sesi akhir linda pun tampil di depan dengan gaya bak debat capres. saya kembali terpesona dengan cara linda bercakap di depan kami.
Pada tanggal 17/6/09 linda memposting, kalao gak salah mungkin ini postingan pertamanya, lihat di sini;http://public.kompasiana.com/2009/06/17/hallo-megawati-jangan-menghina-wartawan-dong/#comment-35919 ternyata Linda tampil karena terusik rasa gak enak profesi lamanya jadi hinaan. Akhirnya saya pun mahfum, linda pede karena sudah pernah jadi wartawati senior, walau sekarang ini uda ganti profesi, bakat itu terasa masih melekat dan sangat tajam pisau kuli tintannya. Pada tulisannya ini, Linda berkomentar yang menjelaskan dirinya sendiri, sehingga saya bangga berteman dengan Linda Djalil dan untuk tulisan awalnya ini saya hanya mampu memberi komentar, “Akhirnya Linda juga turun gunung, menuliskan jurusnya di blog ini”. Kita Simak ya komentar-komentarnya;
linda,
— 17 Juni 2009 jam 12:12 pm
Teman-teman yang budiman, terima kasih atas semua komentarnya. Yang setuju, maupun yang tidak setuju, tentu selalu menarik di rumah sehat Kompasiana ini. Menulis di tempat ini pun, memang butuh mental yang kuat dan sportifitas. Terutama dalam mengungkapkan pendapat yang tentu beresiko dihujat, yang biasanya diterima dari orang-orang yang segan atau sungkan atau takut memakai nama aslinya sendiri.
Teman, dari awal tulisan sudah saya jelaskan, bahwa tulisan saya merujuk pada surat pembaca dari majalah TEMPO yang ditulis oleh Didi Irawadi. Dari situlah saya bermula. Lagipula, saya juga berterusterang sejak awal, bahwa saya memang tidak menonton acara itu. Jadi sepenuhnya dari surat pembaca yang tercetak dan terpublikasi resmi.
Khusus untuk teman baru saya, Ekky NS, semoga Anda pernah membaca beberapa tulisan saya tentang Suharto. Juga pada hari wafatnya, kebetulan saya diundang ke beberapa studio media elektronik untuk memberikan kisah pengalaman ketika menjadi wartawan di Istana. Sungguh sangat jelas dari paparan saya selama ini, tak terbesit sedikit pun saya berpihak kepada almarhum. Azas berimbang lah yang saya anut ketika saya ditanya ini-itu tentang Suharto. Kelebihannya ada, apalagi kekurangannya. Selain itu mas Ekky, sebutan wartawan Istana bukan berarti yang bercokol mencari berita di Istana adalah antek Istana dan otomatis berpihak kepada orang-orang di Istana. Sampai kini masih banyak lho adik-adik kita yang bertugas di sana. Mereka bukan orang gajian Istana. Mereka bukanlah wartawan SBY, wartawan Gus Dur, wartawan Habibie. Media masing-masing lah yang mengirim mereka , dan juga saya saat lalu ke tempat itu untuk mengejar berita.
Alhamdulillah, masalah keberpihakan kepada Suharto, rasanya jauh sekali dalam diri saya. Saya hanya menilai apa adanya. Ajaran yang diberikan para senior saya seperti Goenawan Mohammad, Fikri Jufri, Herry Komar, Susanto Pujomartono, Yusril Djalinus, Karni Ilyas dlsb InsyaAllah yang serba baik tak hilang dari ingatan ini.
OYa, sekedar tambahan, saya pernah menulis puisi berjudul MUNDUR. Pernah dibacakan beberapa kali di muka umum. Puisi itu menyatakan ‘cintanya’ saya kepada ‘warna merah’ pada zaman itu. Saya tulis saat kejatuhan Suharto, yang mana sejak berhari-hari sebelumnya memang di luar lemari pakaian saya sudah saya siapkan ‘jas berwarna merah’ yang akan saya pakai saat Suharto mundur. Jadi, sesungguhnya tak ada unsur kebencian saya kepada Megawati. Tapi sebagai adik, sebagai teman, sebagai rakyat, kita punya hak juga kan untuk mengkritiknya, bukan ? Megawati bukan orang asing bagi saya. Saat ia menjadi presiden, saya pernah juga mengobrol santai dengannya di acara kesenian di TIM. Bahkan sebelum ia jadi presiden maupun wapres, kami bertegur sapa di kafe Olala. Juga dengan mas Taufik, yang kalau bercanda sering kocak itu.Sukmawati, Guruh, adalah kenalan saya jadul.
Sekali lagi, tetaplah kita berpendapat di Kompasiana. Sekaligus berkomentar dengan menampilkan nama asli kita yuuuuuukk…
Salam dari saya, LINDA
Saya pun terkesima sama si Pencetus “Rumah Sehat” kompasiana ini, kita lanjutkan lagi ya…
linda,
— 17 Juni 2009 jam 2:09 pm
@ Oom Yon yth, istilah S3 itu biasa kami lontarkan antar sesama rekan, juga teman-teman yang lulusan akademi bukan perguruan tinggi. Ini sekedar istilah antar teman tanpa maksud menghina. Bahkan ada teman dekat saya yang memang ‘S3 guyonan’ itu menjadi sekretaris direksi suatu perusahaan sangat terkenal sampai belasan tahun. Dan ia pandai sekali. Apabila kami saling berjumpa dengan yang lain, ia pun dengan bangga menyebutkan dirinya sebagai penyandang S3. Karena aturan zaman dulu lain, saya pun memulai karir menjadi wartawan masih dalam taraf S3 tersebut. Sembari kuliah, juga reporting. Belum bermodal ijazah S1.
Dalam tulisan saya di atas, apakah saya merujuk langsung menyebut nama siapa yang S3 itu? Tidak, bukan? Ini hanya gambaran umum, karena saya memperoleh infomasi dari banyak rekan senior wartawan, sekarang ketentuan diterimanya seseorang menjadi wartawan adalah yang minimal lulusan S1, bukan ‘S3′ yang artinya mengenyam sekolah SD, SMP, dan SMA saja. Saya rasa wajarlah kalau masing-masing perusahaan menetapkan ketentuan semacam itu. Sekali lagi, istilah S3 sering kita pakai sekarang dalam obrolan sehari-hari. Sama kalau seorang ibu rumah tangga sering sambil senyum-seyum mengaku dirinya adalah ‘ pengacara’ .., pengangguran banyak acara. Mengapa harus tersinggung dan dianggap sebagai penghinaan? Ibu saya saja, yang selalu menyebutkan dirinya S3, di usianya yang lebih dari 70 tahun masih terpakai di kantornya karena kepandaiannya.
@ Pak Charles Tobing yang budiman : Tentu cerita saya tentang Suharto ‘yang agak kepanjangan itu ‘ , juga bagaimana dengan Megawati saat lalu, saya ceritakan berdasarkan ungkapan yang muncul dari tulisan mas Ekky NS sendiri. Boleh dong saya berkesempatan bercerita sedikit.? Maaf deh kalau Anda anggap kurang relevan.
Salam Kompasiana untuk semua.
Wah, gesit dan lincah juga kartini kita ini, sebelum kita lanjutkan, maka pada akhir acara saya pun mengambil jurus lebih cepat lebih baik agar bisa mengenalnya siapa dia lewat acara kopdar itu dengan bertukar kartu nama, saya pikir ini jalan pungkas untuk mengenalnya siapa Linda Djalil, di mana akhir acara kami pun berdua beraksi bersama, aksi narsis kalee..he..he..
linda,
— 17 Juni 2009 jam 9:23 pm
Selamat malam semua kawan yang budiman. Sekali lagi , terima kasih atas komentarnya. Juga untuk Mas Unang, Mas Subarkah dan mas Dadan yang simpatik dan jernih. Banyak terima kasih.
Untuk kesekian kali saya katakan, di awal tulisan sudah saya sebut bahwa saya melihat, membaca dari majalah TEMPO terbitan minggu ini ( edisi 15-21 Juni ) atas tulisan seseorang di rubrik surat pembaca. Mohon teman-teman lihat di halaman 8. Terlebih lagi, ternyata di halaman 6 atas, ada lagi cuplikan kata yang sama , secara jelas, dari Didi Irawadi Syamsuddin si penulisnya. Tulisan ini berdasarkan cuplikan kata-kata itu, bukan dari pengamatan saya lewat layar kaca. Jadi, tak ada maksud saya sedikit pun memenggal kalimat apa pun yang berasal dari layar kaca, sebab yang saya baca ( di media cetak ) ya memang hanya segitu.
Menjadi wartawan ‘betulan’ adalah masa lalu saya. Sekarang tidak lagi, seperti yang Saudara Admin, Pepih utarakan di sini. Saya sama seperti kawan-kawan lain, yang menulis di dunia maya ini dengan tidak memakai kaidah jurnalistik sebagaimana lazimnya digunakan di media ‘betulan’. Dan siapa bilang saya bergelar S3 sungguhan ? Waah.. saya cuma S1 kok. Kalau S3 yang satunya kan sekedar istilah guyonan sehari-hari yang sudah lazim dipakai di mana-mana dalam pergaulan.
Saya hanya ingin tahu sedikit, apabila kawan-kawan membaca majalah TEMPO di halaman 6 atas pojok kiri itu, reaksi akan sama tidak seperti saya?Silakan baca dulu deh. Salam, dan selamat beristirahat ya untuk semua….
Ternyata Linda lebih cepat dan lebih tegas, tapi tunggu ini yang lebih hot dan narsis banget lho..he.he..
linda,
— 19 Juni 2009 jam 4:48 pm
Teman-teman yang budiman sesama penghuni Kompasiana,
Sekali lagi terima kasih atas seluruh tanggapan dari postingan saya. Dan terima kasih pula saya sudah dikoreksi bahwa pernyataan Megawati di SCTV ternyata ada sambungannya. Artinya, apa yang saya baca lengkap di halaman 8 majalah Tempo edisi minggu ini dari surat pembaca, juga kutipan dari si penulis surat pembaca di halaman 6 ( masih di majalah yang sama ), ternyata masih ada kelanjutannya – yang tidak ditulis oleh si penulis surat pembaca.
Dengan adanya komentar, koreksi dan penjelasan dari teman-teman, dengan demikian saya menjadi lebih tahu, bahkan kelak saya sangat berharap juga redaksi majalah Tempo bisa mengetahui kata-kata Megawati ada sambungannya. Lebih baik lagi kalau nanti di TEmpo ada juga surat pembaca lain yang menyanggah hal itu sehingga diketahui khalayak ramai. Tentu agar tidak menimbulkan salah duga, termasuk saya yang juga telah membacanya.
Inilah gunanya kita berdebat, berbagi rasa, mengulas pendapat dan mengingatkan. Satu saling mengisi dan menambahkan. Mohon maaf tidak ada maksud saya sama sekali untuk sengaja memengggal kalimat, seperti yang beberapa teman tuduhkan di berbagai komentar di sini. Saya mengutip utuh dari majalah Tempo, bukan memenggal. Lagi-lagi saya persilakan teman membacanya di Tempo. Kalau ternyata kalimat Megawati masih ada terusannya, itu di luar pengetahuan yang sudah saya baca dari media cetak tersebut.
Saya memang sudah bukan wartawan lagi sejak lama. Bahwa saya bergabung di sini dan menulis apa yang saya anggap menarik, tentu karena saya menempatkan diri saya sebagai bloger, warga rumah sehat Kompasiana seperti Anda semua. Tentu tidak berarti bahwa kalau sudah bukan wartawan, saya bisa menulis seenaknya apalagi ada unsur fitnah. Semoga akhlak saya masih dijaga Allah untuk tidak sedikit pun ada niatan melakukan tindakan yang tidak terpuji itu. Saya pun selama ini, di Kompasiana ini, memberikan komentar maupun posting tidak pernah memakai nama palsu. Sama sekali tidak pernah! Alhamdulillah, selalu saya cantumkan nama asli, dan foto asli.
Satu lagi, di sini ada teman yang menganggap saya menghina Ibu Inten Suweno. Saya rasa itu keliru. Yang saya ungkap adalah fakta, bahwa beberapa tahun silam ia pernah membuat wartawan Istana ’sewot’ karena dianggap mengecilkan arti wartawan. Bahkan ada surat kabar yang sudah menuliskan beritanya, atas peristiwa Ibu Inten yang berkata seperti itu. Kliping koran dari surat pembaca yang saya tulis pun masih saya simpan sampai sekarang. Ibu Inten rasanya juga akhirnya menyadari salah ucapnya. Setelah saya menulis di surat pembacapun, kami masih bertegur sapa dengan ramah. Sesekali mengobrol di airport saat saya berlibur dengan anak, juga di sebuah kafe di dalam supermarket ketika saya sudah tidak bertugas lagi.
Teman-teman, lagi-lagi saya ucapkan terimakasih. Saya menghargai sekali kritikan ini. Terutama apabila komentar disampaikan dengan nama asli – sehingga suatu saat kita bisa berkenalan di acara kopdar Kompasiana dengan penuh persahabatan dan gembira. Salam, LINDA
Begitu banyak manfaat yang saya dapatkan sejak bergabung jadi blogger kompasiana, saya gabung terhitung per 15 April 2009 dengan meluncurkan 3 postingan dengan judul tulisan di bawah ini.
http://public.kompasiana.com/2009/04/15/jusuf-kalla-dan-raja-bone-arung-palakka-sang-jagoan-batavia/
http://public.kompasiana.com/2009/04/15/partai-dan-capresnya/
http://public.kompasiana.com/2009/04/15/partai-politik-pnpm-mandiri-perkotaan/
Saya sangat salut atas cetusan Linda, Kompasiana adalah “rumah sehat” bagi kita semua, untuk lebih sehatnya blog ini barangkali bisa menggunakan komentar saya di bawah ini sebagai penenang dan istiqomah dalam menulis, yaitu; http://public.kompasiana.com/2009/06/11/penulis-mencerahkan-penulis-merontokkan-diperlukan-untuk-keseimbangan/
Pada akhir kopdar saya tidak menyangka kalau linda saat ini telah menjadi entrepreneur di bidang salon khusus perempuan dengan nama outlet, “Allesa”, Jika saja Linda tidak membuat tulisan di atas berikut komentarnya, kesimpulan awal saat kopdar sampai saat ini tentu belum berubah, saya cuma mengira heran, bisa ya seorang yang cuma ngurus salon tetapi pandai juga jadi blogger. tau-taunya wartawati dech, maaf ya linda, selama ini saya tuh..gak gaul mbak, paling gaul hanya teman sesama teman kerja aja.
Sebagai pencetus ide segar “Rumah Sehat” Kompasiana, saya kira pantes banget bisa jadi tandem Mas Is sebagai admin kompasiana.com, gimana mbak Linda, mau kan..???. Wallahualam.
Salam Kompasiana Indonesia
Happy Nice Weekend
btw. jangan lupa ya join di sini, para blogger kompasiana.com
http://www.facebook.com/group.php?gid=91789873607#/group.php?gid=91789873607









Salam kenal..
yupp, salam kembali bang singal..suksesl sll ya
ilyas afsoh senang membaca tulisan panjang Anda
makasih ya ilyas